BETANEWS.ID, KUDUS – Hasil panen padi di beberapa wilayah Kudus pada masa tanam (MT) 2 ini mengalami penurunan. Jika dirata-rata, setiap hektare sawah kini hanya bisa menghasilkan 5,5 ton padi.
Sub Koordinator Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus yakni Arin Nikmah mengatakan, tahun lalu di MT yang sama satu hektare padi jenis inpari bisa menghasilkan tujuh hingga delapan ton. Namun, sekarang untuk mencapai target enam ton saja tidak bisa.
“Padahal target minimal hasil panen padi itu 6 ton per hektare. Jadi ini di MT ini hasil panen padi di Kudus menurun,” ujarnya saat ditemui di persawahan Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo, Rabu (20/7/2022).
Baca juga: Kembangkan Mina Padi, Penghasilan Petani Banyumas Naik Jadi Rp50 Juta per Hektare
Arin mengungkapkan, turunnya hasil panen di Kudus saat ini dikarenakan beberapa faktor, tapi yang paling dominan adalah faktor cuaca yakni Fenomena La Nina. Saat ini, seharusnya sudah memasuki masa kemarau, tapi karena ada anomali cuaca, curah hujan masih tinggi, sehingga disebut kemarau basah.
“Dampaknya organisme pengganggu tanaman (OPT) atau hama intensitasnya meningkat, sehingga hasil panen jadi turun,” bebernya.
Dia mengatakan, untuk tahun ini pertanian memang banyak sekali cobaannya. Dampak La Nina tidak hanya menurunkan hasil panen padi, tapi juga berpengaruh pada pola penanaman palawija.
Baca juga: Pemuda Desa Undaan Tengah Sulap Irigasi Sawah jadi Kolam Ikan
Contoh, lanjutnya, di wilayah Kecamatan Undaan, biasanya di MT tiga para petani setempat menanam kacang hijau, saat ini tidak bisa karena lahan persawahan masih banyak tergenang air.
“Sebenarnya petani sudah mencoba menyebar benih bahkan sampai dua hingga tiga kali, tapi karena intensitas hujan tinggi, benih kacang hijau yang ditabur pun selalu mati. Akhirnya lahan dibiarkan atau diberokan jadi pilihan bagi petani,” pungkas Arin.
Editor: Ahmad Muhlisin

