31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Produsen Kue di Kudus Babak Belur ‘Dihajar’ Mahalnya Harga Terigu dan Telur

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa pria muda tampak sibuk di sebuah ruang produksi yang berada di tepi Jalan Kudus-Colo, Desa Piji, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Mereka terlihat berbagi tugas. Ada yang bikin adonan dan cetak kue. Lokasi tersebut yakni tempat produksi Roti Global yang sangat terdampak karena melambungnya harga terigu.

Owner Roti Global yakni Sugiharto (57) menuturkan, sebulan terakhir harga terigu harganya naik signifikan, sekitar 58 persen. Dari yang semula harga Rp 140 ribu per sak (25 Kg) sekarang harganya jadi Rp 210 ribu per sak.

“Itu untuk terigu merk Payung. Sedangkan yang merk Cokro yang semula harganya Rp 180 ribu per sak (25 Kg) harganya naik jadi Rp 243 ribu per sak,” rinci pria yang akrab disapa Giharto kepada Betanews.id, Rabu (8/6/2022).

-Advertisement-
Sugiharto mencoba memindahkan terigu yang menjadi bahan untuk pembuatan kue. Foto: Rabu Sipan.

Baca juga: Sidak ke Pasar Brayung, Bupati Kudus Dapati Harga Daging Ayam Naik Hingga 35 Persen

Dia menuturkan, kenaikan harga terigu itu di antaranya dipicu oleh perang Rusia dan Ukraina, serta India yang melarang ekspor gandum ke negara luar. Padahal kata dia, selama ini terigu Indonesia yang merupakan bagian dari gandum itu diimpor dari India, Australia, Kanada, Rusia, serta Ukraina.

“Karena penghasil gandum itu Rusia dan Ukraina sedang perang serta India melarang ekspor gandum, jadinya harga terigu di dalam negeri melonjak tajam,” tandasnya.

Padahal, kata dia, sebelumnya bahan pokok pembuatan kue lainnya yakni telur harganya juga naik drastis. Dari yang semula satu krat telur isi 10 kilogram harganya Rp 140 ribu, sekarang naik jadi Rp 260 ribu.

“Sekarang itu ibaratnya babak belur. Harga bahan baku kue naik, pasar juga lagi sepi, imbasnya penjualan turun dan omzet turun 30 persen,” bebernya.

Oleh sebab itu lanjutnya, karena pasar yang lagi sepi, pihaknya belum bisa menaikkan harga. Sehingga mau tidak mau memang bertahan dengan keuntungan yang minim.

“Saya ini produksi untuk bertahan agar pelanggan tidak berpaling. Sebab jika mengejar keuntungan dengan menaikkan harga di saat pasar lesu, takutnya pelanggan pada lari. Mau mengurangi ukuran juga sangat berisiko,” jelasnya.

Dia mengungkapkan, sebelum bahan baku pembuatan kue naik, produksi sehari bisa menghabiskan 1,5 kuintal terigu. Serta menghabiskan telur enam krat atau 60 kilogram telur.

“Sekarang turun, sehari menghabiskan satu kuintal terigu dan telurnya 30 kilogram. Omzet dan produksi juga sama turun 30 persen,” tandasnya.

Baca juga: Harga Kedelai Impor Cetak Rekor Tertinggi, Bambang Terpaksa Naikkan Harga Tahu Produksinya

Pria yang memproduksi aneka kue basah dan kering itu pun berharap ada solusi dari pemerintah, dalam hal ini Dinas Tenaga Kerja Perindustrian Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disnakerperinkop dan UKM).

“Berharap pemerintah mencari solusi atau menyiasati agar harga bahan baku kue ini stabil. Agar kami para pelaku UMKM bisa menjalankan usaha dengan baik,” harapnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER