Harga Kedelai Impor Cetak Rekor Tertinggi, Bambang Terpaksa Naikkan Harga Tahu Produksinya

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa orang tampak sibuk di sebuah pabrik tahu di Desa Karangbener RT 2 RW 6, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Mereka terlihat berbagi tugas, ada tiga orang pria bertelanjang dada memeras sari kedelai dan mencetak tahu, ada pula yang mengiris tahu menjadi beberapa bagian.

Di sudut lain, terlihat seorang pria sedang mengecek setok kedelai yang akan dibuat menjadi tahu. Pria bercelana pendek itu yakni Bambang Sutrisno (38), pemilik pabrik tahu.

Baca juga: Harga Kedelai Meroket, Produsen Tempe di Semarang Terpaksa Kurangi Ukuran

-Advertisement-

Usai mengecek kedelai, Banbang menuturkan, saat ini harga kedelai impor sebagai bahan utama tahu sedang membumbung tinggi. Menurutnya, harga kedelai impor saat ini menyentuh angka Rp 10.600 perkilogram. Harga kedelai tersebut, katanya, merupakan rekor tertinggi selama ia menekuni usaha pembuatan tahu.

“Harga kedelai impor ini lagi tinggi-tingginya. Bahkan selama saya menekuni usaha tahu, baru kali ini harga kedelai impor sampai Rp 10.600 perkilogram. Padahal biasanya berkisar di harga Rp 7 ribu perkilogram,” ujar pria yang akrab disapa, Bambang kepada Betanews.id, Sabtu (18/6/2021).

Saksikan video liputan produsen tahu di Kudus sikapi harga kedelai impor naik

Bambang yang juga Ketua Paguyuban Kelompok Tahu Desa Karangbener, itu menuturkan, kenaikan harga kedelai impor tersebut memang tidak sekaligus, tapi bertahap. Puncak kenaikan harga terjadi setelah Lebaran tahun ini. Karena harga kedelai impor melambung tinggi, dampaknya biaya produksi pun membengkak. Sehingga ia pun harus menaikan harga jual tahu.

“Agar tidak merugi saya terpaksa menaikan harga tahu. Jika saat harga kedelai impor masih berkisar di angka Rp 7 ribu perkilogram, harga jual tahu berkisar antara Rp 20 ribu sampai Rp 22 ribu perpapan. Namun, dengan harga kedelai impor saat ini, kami harus menaikan harga tahu menjadi Rp 28 ribu perpapan,” jelas bambang.

Baca juga: Tukar Guling Usahanya Bawa Tuah, Bejo Kini Jadi Juragan Tahu

Dia bersyukur, meski ada kenaikan harga tahu, para pelanggannya bisa mengerti dan menerima. Sehingga, permintaan tahu produksinya tidak ada penurunan. Sebab kata Bambang, para pelanggannya juga sudah menemukan cara agar tahu darinya bisa tetap laku di pasar. Mereka memesan tahu dengan ukuran yang lebih kecil.

“Kami selama ini memotong tahu sesuai pesanan pelanggan. Sejak ada kenaikan harga, pelanggan kami meminta ukuran tahu diperkecil. Misal gini, bila biasanya satu papan tahu dipotong jadi 100 bagian, sekarang mereka minta agar dipotong jadi 110 tahu,” bebernya.

Bambang mengaku, kenaikan harga tidak berimbas pada permintaan tahu dari pelanggannya. Menurutnya, permintaan masih stabil dan lancar. Setiap harinya ia harus menyediakan sekitar 150 tong tahu, atau 450 papan tahu untuk para pelanggannya.

Baca juga: Harga Kedelai Impor Melambung Tinggi, Pengusaha Tahu di Kudus Pilih Bertahan

“Untuk memproduksi tahu sebanyak itu, saya bisa menghabiskan 6-7 kwintal kedelai impor, atau untuk 70 kali masak,” ungkapnya.

Meski para produsen tahu selalu dapat solusi setiap ada kenaikan harga kedelai impor, Bambang berharap pemerintah bisa menstabilkan harga kedelai. Sebab, selama ini bahan utama tahu masih bergantung pada kedelai impor, karena kedelai lokal belum bisa mencukupi.

“Walau harga tinggi, setok kedelai impor aman dan pengiriman lancar. Kami juga tidak tahu penyebab naiknya harga kedelai impor saat ini. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah. Sehingga harga kedelai bisa normal kembali,” harapnya.

Editor: Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER