Karena Himpitan Ekonomi, Hartopo Kecil Terpaksa Berkali-kali Putus Sekolah

BETANEWS.ID, KUDUS – Memiliki latar belakang sebagai seorang pebisnis, HM Hartopo, yang saat ini menjabat Bupati Kudus, ternyata memiliki kisah masa kecil getir. Usia dua bulan ia dirawat oleh Budenya yang seorang janda dan tidak punya rumah maupun pekerjaan tetap.

Pada usia enam tahun ia sudah bekerja ikut menjemur kerupuk, agar dapat bertahan hidup untuk makan. Ketika itu, ia dapat upah Rp 10 rupiah. Ia pun harus bekerja agar bisa bersekolah di SD.

Karena himpitan ekonomi, pendidikan Hartopo pun terpaksa sempat putus sekolah di kelas empat SD. Ketika itu, ia kemudian ikut orang bekerja, yang kebetulan waktu itu ada yang mencari tenaga untuk disalurkan menjadi pembantu di Bandung. Mendengan informasi itu, Hartopo langsung ke sana untuk melamar kerja.

-Advertisement-
Bupati Kudus HM Hartopo saat hadir sebagai tamu Podcast Zona Merah di Kantor Betamedia. Foto: Ahmad Rosyidi.

Baca juga: Cerita Getir Masa Kecil Bupati Kudus, Usia 6 Tahun Sudah Bekerja Agar Bisa Makan  

“Di Pasuruhan ada yang namanya Pak Palal, mencari orang kecil untuk jadi pembantu rumah tanangga di Bandung. Itu tahun 1977, saya di Bandung ikut bersih-bersih dan memelihara anjing juga,” bebernya.

Bekerja tiga setengah bulan dengan gaji Rp 1.500 per bulan, kemudian Budenya ikut menyusul karena tidak tega. Tidak lama kemudian Budenya malah sakit, akhirnya Hartopo pulang ke Kudus membawa uang Rp 6.000. Uang tersebut ia digunakan untuk melanjutkan sekolah.

Kembali kehabisan uang, pada tahun 1978 dirinya kembali putus sekolah dan memilih merantau ke Jakarta. Karena mendapat kabar bapaknya sakit, Hartopo kembali lagi ke Kudus. Saat sampai di Kudus ternyata orang tuanya sudah meninggal.

Hartopo akhirnya pulang dan mencari kerja di Kudus sambil melanjutkan sekolah mengulang kelas empat SD. Hartopo lulus SD tahun 1981, bersamaan dengan teman-teman seusianya yang lulus sekolah menengah pertama (SMP).

Baca juga: Kisah Mak Jah, Bertahan Hidup di Tengah Laut Meski Tak Lagi Punya Tetangga (1/6)

Pada waktu itu cita-cita Hartopo hanya ingin lulus SD dan menjadi sopir angkutan. Menurutnya, pada waktu itu sopir angkutan sudah memiliki status sosial yang cukup bagus. Karena mayoritas supir angkutan saat itu sudah dipandang sebagai orang mampu.

“Saat itu saya punya guru, namanya Pak Nursaid, orang Loram. Saya ditanya, Har ora sekolah? Mboten pak, saya tidak punya uang, mau kerja saja. Kebetulan pada saat itu ada sodara yang dengar, dia kerja giling rokok di Djarum. Waktu itu diberi uang Rp 25 ribu untuk daftar sekolah,” ujarnya.

Akhirnya Hartopo diterima di SMP Negeri 3 Kudus. Untuk sampai ke sekolah, ia harus berjalan sejauh dua setengah kilometer. Saat pertama masuk sekolah, Hartopo satu-satunya murid yang tidak memakai seragam.

“Waktu itu, wali kelasnya bernama Bu Is, beliau masih hidup. Saya dipanggil. Itu yang paling besar. Karena selisih tiga tahun jadi saya paing besar. Kemudian dipanggil ke kantor, ditanya kamu dari keluarga miskin ya? Disuruh minta surat keterangan miskin dari kepala desa,” ucapnya.

Setelah mendapat surat keterangan miskin dan diberikan ke sekolah, satu minggu kemudian ia diberi seragam milik kelas tiga yang sudah lulus. Ada yang kekecilan dan ada yang kebesaran. Selain seragam, karena tidak punya sepatu, Hartopo juga diberi sepatu dari sekolah.

Setelah pulang sekolah, Hartopo bekerja membuat benang hingga pukul 21.00 WIB. Hal itu terpaksa ia lakukan demi menyambung hidup dan biaya sekolah. Hingga hari kelulusannya di tahun 1984, dia kemudian pindah kerja di Polytron dan melanjutkan sekolah di SMA swasta.

Hanya mendapat kontrak tiga bulan, kemudian Hartopo kembali putus sekolah karena tidak mampu membayar. Tahun 1985 ia kembali mengadu nasib ke Jakarta. Namun di sana Hartopo sulit memcari pekerjaan.

“Kebetulan ketemu teman sopir metromini, akhirnya saya jadi kernet jurusan Manggarai – Pasar Minggu selama enam bulan. Kemudian pulang, 86 saya melamar di Pura, kerja di Pura. Kemudian keluar saya ikut jualan Ali Jaya Sepatu, Konveksi Mas Imron, kemudian saya beli motor jelek,” ungkapnya.

Tahun 1987, Hartopo melanjutkan SMA dan lulus tahun 1989. Lalu dia merantau ke Yogyakarta menjual pakaian sambil kuliah di jurusan perhotelan. Tahun 1990, Hartopo keluar karena merasa tidak cocok dengan jurusan tersebut.

“Akhirnya saya sekolah lagi D3 Politeknik di Cepu, Blora. Sekolah sambil buruh sopir dan jualan pakaian. Setelah lulus D3, diterima kerja di Jakarta, sambil meneruskan sekolah. Tahun 1998 saya pulang karena perusahaan take over, karyawan dirumahkan,” lanjutnya.

Baca juga: Kisah Faiz, Siswa SMP yang 3 Tahun Ini Jualan Jambu Demak Demi Bantu Ekonomi Keluarga

Tahun 1998 dia pulang Kudus dan mengontrak rumah karena sudah menikah. Seiring berjalannya waktu, Hartopo mulai bisnis jual beli mobil, uangnya semakin terkumpul dan mampu membuka diler sendiri.

Kemudian Hartopo melebarkan sayap usahanya berbisnis batubara di Jambi pada tahun 2008 hingga tahun 2013. Selain itu, dia juga punya bisnis kelapa sawit yang masih bertahan hingga saat ini.

“Harus disyukuri, saya tidak pernah memburu urusan duniawi. Sudah biasa hidup miskin, biasa lapar, jadi dinikmati saja. Hidup tidak bisa langsung instan, harus melalui perjuangan,” pesan Hartopo.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER