31 C
Kudus
Minggu, Juni 26, 2022
spot_img
BerandaKUDUSHadiri Tradisi Apitan...

Hadiri Tradisi Apitan Desa Ngemplak, Hartopo Disambut Barongan

BETANEWS.ID, KUDUS – Diiringi suara terompet dan gong, dua barongan menari dan beratraksi di Jalan Kudus-Purwodadi, Desa Ngemplak, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Ratusan warga yang sudah berdiri di tepi jalan tampak antusias saat kesenian itu melawati mereka.

Tak berselang lama, rombongan Bupati Kudus Hartopo pun datang. Setelah turun dari mobil, orang nomor satu di Kudus itu langsung disambut dua barongan. Hartopo lantas menyalami orang-orang yang dilewatinya itu saat menuju panggung.

Tradisi Apitan di Desa Ngemplak, Undaan, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Hartopo mengatakan, kirab budaya adalah rangkaian terakhir dari tradisi ritual apitan. Tradisi ini merupakan warisan para leluhur yang harus dilestarikan, sebagai tanda ucapan terima kasih kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan melalui hasil bumi.

- Ads Banner -

Baca juga: Tradisi Mengubur Kepala Kerbau untuk Tolak Bala di Desa Temulus Kudus

“Jadi tradisi budaya ini harus dilestarikan oleh kita maupun para generasi penerus. Sebab tradisi apitan ini juga disebut sedekah bumi yang memiliki makna syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah,” ujar Hartopo kepada awak media, Kamis (23/6/2022).

Dia berharap, kirab budaya ini tak hanya sebagai tradisi tahunan, tapi juga bisa untuk wadah saling bersilaturahmi dan interaksi bagi warga, agar tidak putus silaturahmi dan tetap rukun dan saling menghargai. Karena menurutnya, yang paling bernilai di Kudus adalah toleransi.

Menurutnya, dari sejak zaman wali sudah diajarkan untuk saling menghargai satu sama lain. Bahkan tradisi sedekah bumi dulu itu dijadikan sarana syiar agama oleh para wali. Dulu Sunan Kalijaga sedekah bumi juga diselenggarakan pertunjukan wayang untuk menarik minat warga agar mau memeluk agama Islam.

“Semoga dengan sedekah bumi bisa menjadikan Desa Ngemplak lebih baik lagi. Perekonomian warga meningkat, pembangunan juga bisa lebih baik lagi,” harapnya.

Kepala Desa Ngemplak Syafi’i menambahkan, tradisi Apitan di desanya dimulai sejak Minggu (19/6/2022). Sebelum kirab, pihaknya menggelar expo selama lima hari dengan menawarkan produk-produk UMKM desa setempat.

Baca juga: Tradisi Mengubur Kepala Kerbau untuk Tolak Bala di Desa Temulus Kudus

“Kirab ini keliling naik delman untuk ziarah ke lima makam yang dipercaya sebagai cikal bakal Desa Ngemplak. Total ada sembilan delman dan dua odong-odong,” ujarnya.

Dia pun berharap, kedepan tradisi kirab budaya bisa selalu diselenggarakan. Tentunya lebih terkonsep dan lebih meriah. Dia pun meminta maaf kepada warganya, sebab tahun ini penyelenggaraan sedekah bumi ini kurang meriah dan tak ada pertunjukan wayang kulit. Padahal sebenarnya pertunjukan wayang kulit dalam tradisi Apitan itu wajib.

“Karena acara kirab Budaya Apitan ini anggarannya hanya Rp19 juta, jadi acaranya sangat sederhana. Tahun depan, jika sudah tidak ada pandemi, ada anggaran untuk membuat acara Kirab Budaya Apitan yang lebih meriah lagi,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

Lipsus 14 - Penerapan Teknologi Bambu untuk Tanggul Laut Tol Semarang Demak

Tinggalkan Balasan

31,944FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,332PengikutMengikuti
80,005PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler