31 C
Kudus
Minggu, Juni 26, 2022
spot_img
BerandaSejarahTernyata Ini Asal...

Ternyata Ini Asal Usul Sunan Kudus Larang Warga Kudus Sembelih Sapi

BETANEWS.ID, KUDUS – Situs budaya Langgar Bubrah peninggalan wali ternyata dulu merupakan tempat beribadah agama Hindu. Hal itu terbukti dengan adanya batu Lingga Yoni dan batu pilar bermotif Dewa Siwa yang merupakan Dewa tertinggi dalam ajaran Agama Hindu.

Setelah peradaban Islam yang dibawa oleh Syeh Ja’far Shodiq masuk ke Kudus. Serta banyaknya warga yang memeluk agama Islam, Langgar Bubrah pun kemudian dijadikan tempat ibadah untuk umat muslim.

Meski Langgar Bubrah dijadikan tempat ibadah umat Islam, simbol-simbol agama Hindu yang ada tidak serta merta dihilangkan dan tetap dirawat hingga kini.

- Ads Banner -

Baca juga: Langgar Bubrah di Kudus Ini Dulunya Tempat Ibadah Umat Hindu, Batu Lingga Yoni Jadi Bukti

Ditemui di lokasi, juru kelola Langgar Bubrah, Fahmi Yusron menuturkan, tidak dihilangkannya simbol-simbol Hindu di Langgar Bubrah menunjukan bahwa Syeh Ja’far Shodiq atau Sunan Kudus itu sosok yang cerdas dan Wali Allah.

“Sunan Kudus itu adalah Wali Allah. Seorang Waliyuallah tidak akan menghilangkan atau membumihanguskan tatanan yang ada dan akan dikemas jadi satu dengan ajaran Islam. Oleh sebab itu syiar Agama Islam di Kudus itu sangat indah dan damai,” ujar pria yang akrab disapa Parijoto kepada Betanews.id, Selasa (5/4/2022).

Pada saat itu, lanjut Parijoto, Kudus dipimpin oleh keturunan dari Majapahit yakni Raden Pancawati. Peradabannya pun sudah dibilang cukup maju, karena sudah ada seni ukir dan beberapa situs candi.

Setelah Syeh Ja’far Shodiq (Sunan Kudus) datang ke Kudus sebagai utusan dari Kerajaan Demak Bintoro dan untuk menyebarkan agama Islam. Syeh Ja’far Shodiq pun ditemui dan ditanya oleh Raden Poncowati.

Saat itu Raden Poncowati bertanya Kepada Ja’far Shodiq, apa yang akan kamu ajarkan kepada warga Kudus? Untuk agama mereka sudah punya keyakinan. Syeh Ja’far Shodiq pun menjawab bahwa ia akan melarang pengikutnya untuk tidak menyembelih sapi.

Hal itu sebagai penghormatan bagi Umat Hindu di Kudus pada masa itu. Sebab, Sapi merupakan tunggangan Mahadewa, dewa tertinggi dalam ajaran Agama Hindu.

Baca juga: Takut Kualat Sama Sunan Kudus, Warga Sekitar Masjid Langgardalem Pantang Lakukan 3 Hal Ini

“Mendengar jawaban Syeh Ja’far Shodiq, Raden Pancawati pun puas dan mempersilahkannya untuk menyebarkan agama Islam di Kudus. Sebab dengan jawaban dari Syeh Ja’far Shodiq itu, maka penyebaran agama Islam di Kudus akan dilakukan dengan damai dan tidak merusak tatanan yang sudah ada,” terangnya.

Bahkan kata dia, Raden Pancawati pun kemudian memeluk agama Islam. Serta menyerahkan tampuk kepimpinan di Kudus kepada Syeh Ja’far Shodiq yang kemudian dikenal sebagai Sunan Kudus.

“Sesuai perkataannya, Sunan Kudus dalam menyebarkan agama Islam tidak membumihanguskan tatanan yang sudah berjalan baik. Beliau mempertahankan simbol umat Hindu dan Buddha. Hal itu justru dijadikan media dakwah. Bahkan perkataan Sunan Kudus yang melarang warga Kudus untuk tidak menyembelih sapi masih dipatuhi hingga sekarang,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

Lipsus 14 - Penerapan Teknologi Bambu untuk Tanggul Laut Tol Semarang Demak

Tinggalkan Balasan

31,944FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,332PengikutMengikuti
80,005PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler