31 C
Kudus
Rabu, Juni 29, 2022
spot_img
BerandaKULINERNostalgia dengan Minuman...

Nostalgia dengan Minuman Limun, Softdrinknya Anak Generasi 70-an

BETANEWS.ID, YOGYAKARTA – Di sebuah stand yang berada di dalam Pasar Kangen, Yogyakarta nampak banyak botol minuman beraneka warna. Di depannya nampak antrean pengunjung yang menunggu gilirannya untuk bisa menikmati minuman legendaris itu, yakni Limun.

Limun, merupakan minuman jadul yang dulunya sangat mudah dijumpai di Jogja. Namun, seiring berkembanganya waktu, minuman tesebut mulai jarang dijumpai.

Berhubung sedang ada event tahunan di Yogyakarta, yakni Pasar Kangen, pengunjung dapat menjumpai minnuman jadul tersebut. Adapun Pasar Kangen kali ini diselenggarakan di halaman Gedung Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Yogyakarta, mulai dari 25 Februari hingga 6 Maret mendatang.

- Ads Banner -

Baca juga : Menikmati Segarnya Wedang Tahu, Minuman Khas Semarang yang Legendaris

Kepada Betanews.id, Jonathan Tri (30) Penjual Limun mengatakan, kalau Limun merupakan minuman jadul khas Jogja sejak tahun 70-an. Ia mengatakan, dahulu Limun sangat mudah dijumpai, namun saat ini hanya beberapa yang masih bertahan.

“Limun ini produknya Jogja. Contoh di Jawa Tengah ada Orson, di Jawa Timur ada temulawak, ini yang produknya Jogja. Dia bisa dibilang softdrink, karen ada sedikit soda. Cuma bedanya dengan soda-soda yang lain, ini sodanya lebih tipis, variannya juga ada banyak,” ujarnya, Rabu (2/3/2022).

Jonathan mengatakan, hingga saat ini masih banyak orang tua yang tertarik kepada minuman jadul ini. Menurutnya, kemungkinan banyak anak muda yang belum mengetahui bahwa teryata ada minuman soft drink jadul dari Jogja ini.

“Contoh nih tadi pagi, ada bapak-bapak umur 60-an dia sambil nostalgia dia gitu katanya. Karena seumuranya dia waktu kecil, tahun tahun 70-an gitu, sering minum Limun,” kata dia.

Tak kalah dengan soft drink zaman sekarang, minuman jadul ini punya banyak varian rasa. Mulai dari saparilla yang memikliki rasa seperti bir, frambozen yang seperti fanta, nanas, moka, leci, sitrus, dan juga kopi bir. Dari berbagai varian rasa itu, Jonathan mengatakan, ada rasa yang merupakan favorit konsumen, dan juga rasa yang legend.

“Kalau yang legend ya saparilla ini, dia legend. Kalau yang favoritnya biasanya di leci, karena orang mungkin udah biasa dengan rasanya ya,” ujarnya.

Menjadi varian yang bisa dibilang legend, Jonathan mengatakan, bahwa rasa saparilla merupakan sebuah rasa yang susah untuk dideskripsikan. Menurutnya, rasa saparilla harus dikulik terlebih dahulu supaya bisa jabarkan.

“Sekarang pun ada sih saparila, brand yang baru ada. Yang baru yang botolnya kecil, tapi itu merknya Sapharella, tapi kalau ini kan variannya,” kata dia.

Melekat dengan kesan jadulnya, Jonathan mengatakan, bahwa biasnaya banyak juga pembeli juga yang membeli Limun sekalian dengan botolnya.

“Bayak sih yang beli sama botolnya, jadi kan kalau sama botolnya mungkin bisa diminum di rumah, bisa buat gift juga, karena ini juga bisa buat arisan, soft drinknya wedding gitu juga bisa,” ucapnya.

Baca juga :Berburu Kuliner Tradisional di Pasar Sore Karangrandu Jepara

Terbilang murah, Jonathan menjual satu gelas limun dengan harga Rp 5 ribu saja. Lalu untuk satu botol penuh Limun dengan botolnya, dihargai Rp 15 ribu dengan isi sebanyak 620 mililiter.

Selama acara Pasar Kangen berlangsung, Jonathan mengaku bisa menjual lebih dari 300 botol per harinya. Namun, bagi pengunjung yang tidak kebagian, bisa juga membeli di kedai yang berada di belakang UPN Veteran Yogyakarta.

Lebihh lanjut, Limun dengan merek Ay Hwa ini di produksi di sebuah home industri yang berada di daerah Monumen Jogja Kembali (Monjali). Ia sendiri mengaku sudah sekitar tiga hingga empat tahun menjual minuman jadul ini.

Editor : Kholistiono

Lipsus 14 - Penerapan Teknologi Bambu untuk Tanggul Laut Tol Semarang Demak

Tinggalkan Balasan

31,944FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,332PengikutMengikuti
80,005PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler