BETANEWS.ID, SOLO – Naiknya harga kedelai membuat produsen tahu di Solo terpaksa memperkecil ukurannya. Langkah ini diambil karena produksi tahu membutuhkan banyak bahan baku kedelai.
Salah satu pembuat tahu, Sumarah (59) mengungkapkan, pengurangan ukuran itu ia lakukan agar harga tahunya tidak naik. Karena kenaikan harga kedelai sudah diketahui banyak orang, menurutnya masyarakat sudah mengerti hal tersebut sehinga tidak protes saat ukuran tahu diperkecil.
Untuk satu loyang tahu, Sumarah tetap menjual dengan harga Rp22 ribu. Sedangkan unntuk tahu kepel yang biasa diolah menjadi tahu bacem, ia jual dengan harga Rp25 ribu per loyang.
Baca juga: Kedelai Mahal, Tahu dan Tempe Mendadak Menghilang di Pasaran
“Kalau di sini ada beberapa ukuran, nanti kita tergantung permintaan ukuran, kita potong jadi berapa gitu. Kalau sentimeternya nggak terlalu ini, tapi dulunya yang kalau dipotong jadi 100 satu loyang searang jadi 120 gitu,” ungkapnya, Selasa (22/2/2022).
Terkenal dengan sentra produksi tahu dan tempe di Solo, Sumarah mengatakan bahwa seluruh produsen di sekitarnya juga melakukan hal yang sama dalam menyikapi kenaikan harga kedelai ini. Karena sudah menjadi permasalahan musiman, pada tahun-tahun sebelumnya ia juga melakukan hak yang sama saat harga kedelai naik.
“Iya kenaikan kedelai kan udah biasa, kadang naik kadang nggak. Tahun lalu ya mengecilkan juga, pas udah normal ditambah takeran lagi,” ucapnya.
Warga Krajan RT 003 RW 003, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo itu membeberkan, saat ini harga kedelai mencapai Rp10.900 per kilogram. Bahkan, jika membeli kedelai di pasar, harganya bisa lebih mahal, di atas Rp11 ribu per kilogram.
“Kalau kenaikan harga kedelai ini kurang lebih dua bulan itu terus naiknya. Semula Rp9 ribu sampai saat ini Rp10.900,” kata dia.
Baca juga: Cerita Bambang Terpaksa Naikkan Harga Tahu saat Harga Kedelai Meroket
Untuk persediaan kedelai, Sumarah biasanya membeli bahan baku dari gudang yang ada di dekat tempat produksinya. Ia membeli kedelai kurang lebih sebanyak dua ton untuk persediaan selama empat hingga lima hari.
“Dalam satu hari produksi, saya membutuhkan setidaknya lima kuintal kedelai,” katanya.
Dalam pemasaran produknya, Sumarah punya 20 pelanggn yang selalu membeli tahu di tempatnya. Sebagian pembeli datang langsung ke tempat produksinya, tapi ada juga yang diantar ke pasar-parar di Solo.
“Sebagian kirim ke pasar sebagian ngambil sendiri ke sini. Kalau pasar biasanya di Pasar Nusukan, Pasar Legi, sama Pasar Sangkrah,” tandas Sumarah.
Editor: Ahmad Muhlisin

