BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria terlihat sedang mengambil air di bak penampungan berwarna oranye. Kemudian, ia menyiramkan air tersebut ke beberapa tanaman yang tumbuh di pekarangan rumah. Air yang digunakan untuk menyiram tanaman tadi, merupakan air hujan yang ditampung di dalam bak.
Pria bernama Ahmad Munaji tersebut, sudah memanfaatkan air hujan untuk beberapa keperluan.Hal itu merupakan salah satu program Proklim dari Kementerian Lingkungan Hidup, sebagai upaya untuk adaptasi terhadap lingkungan.
Baca juga : Hartopo Minta Setiap Desa di Kudus Punya Program Kampung Iklim
“Ini kan salah satu program Proklim dari kementerian untuk penanganan panasnya global, karena ozon sudah rusak akibat ulah manusia. Sebenarnya ada banyak ragam program Proklim. Kalau untuk yang ini seringnya disebut Sistem Pengelolaan Air Hujan (SPAH),” ujar Ahmad Munaji yang juga Ketua Tim Penggerak Muria Indah Go Green (MI2G).
Menurutunya, SPAH ini memiliki berbagai manfaat untuk kelangsungan lingkungan ke depannya. Di antaranya, menghemat air, menghemat listrik, mencegah banjir, mencegah kekeringan, pengganti air minum (dengan beberapa proses) dan masih banyak lagi.
“Kalau tiap rumah menampung air hujan, bisa dipastikan banjir akan berkurang, karena air hujan sudah ditampung dengan baik dan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga,” ujarnya, Selasa (18/01/22).
Kemudian untuk penerapan SPAH yang dilakukan oleh Munaji, adalah dengan cara menampung air hujan di paralon dan disambungkan ke dalam drum berukuran 500 liter.
“Penampungan yang saya terapkan ini cara yang tradisional, ada juga cara modern tetapi lebih rumit,” ucapnya.
Baca juga : Sambut Hari Ibu, Emak-emak di Perumahan Muria Indah Gelar Lomba Memasak Hingga Bank Sampah
Katanya, jika air yang di bak penampungan penuh, bisa dialirkan ke tanah, agar tanahnya tidak kering.
“Kalau penuh biasanya saya alirkan ke tanah, agar tanah bagian bawah bisa lembab, jadi tidak kering,” ucapnya.
Editor : Kholistiono

