BETANEWS.ID, SOLO – Penjualan Kue Moho saat menjelang Tahun Baru Imlek juga meningkat drastis layaknya Kue Keranjang. Bagi masyarakat Tionghoa, kue ini digunakan untuk pelengkap sesajen saat melakukan sembahyang.
Salah satu tempat yang membuat kue Moho di Solo sampai saat ini adalah Sri Murwantiningsih (57) yang beralamatkan di Wirengan, RT 001 RW 004, Baluwarti, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Solo.

Sri menjelaskan, dirinya mengawali usaha membuat Kue Moho sejak 2005 lalu karena banyak masyarakat yang memesannya saat menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.
Baca juga: Kue Keranjang di Toko Mini Bakery Solo jadi Langganan Banyak Kalangan Sejak 50 Tahun Lalu
“Saat ini udah mulai banyak berdatangan pesanan-pesanan. Biasanya dari masyaraka Tionghoa untuk sembayangan, klenteng-klenteng gitu untuk ritual keagamaan,” jelas Sri, Kamis (27/1/2022).
Sri mengatakan, biasanya ia mulai mendapatkan banyak pesanan kue Moho sekitar satu hingga dua hari sebelum Tahun Baru Imlek. Bahkan, saking banyaknya pesanan, ia harus menambah jumlah bahan baku yang digunakan.
“Biasanya tambah sekitar 10 kilogram menjadi 30 sampai 35 kilogram. Tapi ini sudah hampir 50 sampai 60 kilogram,” beber Sri.
Adapun Kue Moho terbuat dari tepung terigu, tape singkong, gula dan juga air. Kue tersebut tampak seperti bolu kukus, tapi memiliki rasa yang hampir mirip dengan bakpao. Bedanya, ia mempunyai tekstur yang padat.
Baca juga: Biasanya Jual Hingga 8,5 Ton Kue Keranjang, Toko Mini Bakery Akui Penjualan Tahun Ini Turun
Meski identik dengan perayaan Imlek, pada hari-ahri biasa Sri juga tetap membuat kudapan satu ini. Untuk satu buahnya, Sri menjual dengan harga Rp2 ribu saja.
“Saya ada pesanan yang ukuran besar, merah, putih yang ukuran besar. Kalau filosofinya mungkin kalau merah itu berani ya. Kalau putih itu suci gitu aja. Sekarang saya juga buat varian rasa cokelat sama pelangi juga,” tandas dia.
Editor: Ahmad Muhlisin

