31 C
Kudus
Senin, Januari 26, 2026

Disdag Solo Ungkap Faktor Penyebab Naiknya Harga Telur, Cabai dan Minyak Goreng

BETANEWS.ID, SOLO – Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Perdagangan pada Dinas Perdagangan Kota Solo, Wulan Tendra Dewayani mengatakan, naiknya harga sejumlah kebutuhan bahan pokok tidak karena dipengaruhi moment Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Seperti halnya dengan kenaikan harga cabai yang disebabkan oleh faktor cuaca, serta kenaikan harga minyak goreng lantaran harga minyak dunia sedang tinggi.

“Kalau telur memang terpangaruh dengan moment Natal dan tahun baru. Karena kebutuhan meningkat kan, Natal dan tahun baru banyak yang membuat masakan memakai telur, prediksinya itu. Terus PKH mulai dikucurkan lagi, jadi daya belinya ada. Nah itu mungkin dijadikan kesempatan untuk para pedagang khususnya yang penjual telur,” terang Wulan, Senin (27/12/2021).

-Advertisement-
Deretan lapak pedagang sembako di Pasar Legi Solo. Foto: Khalim Mahfur.

Baca juga : Harga Telur dan Cabai di Solo Terus Merangkak Naik

Berdasarkan pantauan Betanews.id, harga telur sampai hari ini di kisaran Rp 28 ribu sampai Rp 30 ribu per kilogram. Sedangkan untuk harga minyak goreng curah juga mengalami kenaikan menjadi Rp 18 ribu per kilogramnya dan minyak goreng kemasan di harga Rp 19 ribu hingga Rp 20 ribu.

“Kalau minyak memang sudah beberapa bulan mengalami kenaikan karena CPO (Crude Palm Oil) bahan baku atau bahan mentah minyak. Memang kenaikannya luar biasa, jangkauannya lama juga karena CPO juga belum turun-turun. Bukan karena momen Nataru, sudah lama kenaikannya,” paparnya.

Menurut Wulan, harga minyak goreng mulai meninggi sejak Oktober lalu dan hingga hari ini belum mengalami penurunan.

“Harga minyak itu kebijakannya sudah dari sana (pusat), dan daerah hanya mengendalikan saja,” ujarnya.

Selanjutnya, Wulan mengatakan, melonjaknya harga cabai merupakan hal yanng sudah berulang setiap tahunnya lantarann faktor cuaca. Ia mengatakan, saat musim panen di bulan-bulan pergantian tahun memang adanya peningkatan curah hujan dan mengakibatkan cabai busuk, bahkan sampai gagal panen.

“Ini sebenarnya yang harus kita ubah manajemen musim tanamnya ya. Jadi ketika musim hujan janganlah dulu menanam cabai karena kan cabai itu rawan sekali dengan air hujan, curah hujan yang tinggi,” ucapnya.

Meski demikian, menurut Wulan, kenaikan harga cabai tersebut sangat menguntungkan bagi petani karena biaya operasional yang dikeluarkan cukup tinggil. Ia menyebut, ketika harga cabai di angka Rp 20 ribu hingga Rp 30 ribu per kilogram, petani sudah untung. Namun, tentunya hal tersebut berbanding terbaLik dengan masyarakat atau konsumen yang keberatan dengan harga cabai yang melambung tinggi.

“Jadi kalau cabai bukan karena nataru. Saat bincang-bincang TPID, Bulog dan Disdag, momen bukan karena Natal atau tahun baru, tapi karena memang gagal panen. Iya, memasuki musim hujan. Kan biasa hukum ekonomi supply dan demand, kalau suplai kurang demand juga akan naik,” paparnya.

Baca juga : Bukan Nataru, Ternyata Ini Penyebab Harga Cabai Meroket

Lebih lanjut, Wulan menjelaskan, bahwa kondisi harga bahan pokok saat Nataru ini berbeda jika dibandingkan dengan saat Idul Fitri lalu. Menurutnya, saat perayaan Idul Fitri tidak mengalami permintaan yang melonjak, serta tidak mengalami peningkatan harga yang signifikan.

“Kalau Idul Fitri iya, daging, ayam, apalagi telur itu pasti. Nataru ini daging dan ayam stabil, telur dan minyak yang meningkat. Tapi tetap tidak seperti ketika Idul Fitri. Apalagi orang sudah mulai punya kerja, rumah makan mulai buka. Nah itu kan otomatis. Hotel-hotel banyak kunjungan dari luar daerah,” lanjutnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER