BETANEWS.ID, SOLO – Juru Bicara Covid-19 Dokter Reisa Broto Asmoro mengingatkan masyarakat untuk mengurangi mobilitas pada libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Ini dimaksudkan untuk mengantisipasi adanya gelombang ketiga Covid-19 yang diprediksi terjadi setelah libur akhir tahun.
Salah satu kebijakan yang ditelurkan pemerintah untuk antisipasi adalah menggeser hari libur. Hal tersebut dilakukan agar hari libur tidak terlalu lama dan tak digunakan masyarakat untuk bepergian.
“Menko Marinvest sudah mengeluarkan juga datanya bahwasamya setiap kali ada mobilitas masyaralat yang tinggi, yang tidak disertai dengan prokes yang baik, maka terjadi lonjakan kasus yang luar biasa. Kalau kita lihat dari liburan sebelumnya, setiap ada liburan panjang sedikit saja itu pasti akan terjadi kenaikan kasus,” tutur Reisa, Sabtu (23/10/2021).
Baca juga: Antisipasi Gelombang Ketiga Covid-19 Usai Nataru, Ganjar: ‘Masker Nggak Boleh Dicopot’
Maka dari itu, Reisa mengingatkan masyarakat yangtetap ingin liburan agar tetap mematuhi protokol kesehatan. Ia menerangkan, meski virus berubah menjadi banyak varian baru, cara penanggulangannya akan tetap sama.
“Jadi antisipasi terhadap setiap kali ada liburan seperti akhir tahun ini harus disertai dengan mengurangi mobilitas. Kemudian prokes 3M, vaksin digencarkan, dan 3T (testing, tracing, dan treatment),” jelasnya.
Selain kebijakan itu, pemerintah juga mensyaratkan tes PCR untuk penumpang pesawat penerbangan Jawa dan Bali mulai 24 Oktober ini. Aturan tersebut diberlakukan lantaran mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, serta berpedoman standar dari World Health Organization (WHO).
“Itu untuk antisipasi karena makin banyaknya mobilitas, apalagi jelang Natal dan Tahun Baru. Nanti juga pasti ada anjuran-anjuran untuk tidak kebablasan mudik lagi,” kata dia.
Baca juga: Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Optimis Indonesia Siap Hadapi Gelombang Ketiga Covid-19
Selain itu, capaian vaksinasi yang tinggi juga diharapkan bisa mengurangi potensi terjadinya gelombang ketiga Covid-19. Reisa menjelaskan bahwa dengan divaksin akan menaikkan imunitas tubuh sehingga jika ada kasus Covid-19 tidak akan sampai menimbulkan gejala yang berat atau bahkan meninggal dunia.
“Jangan sampai lalai, jangan sampai meremehkan vaksin. Karena vaksin terbukti menurunkan risiko penularan, risiko inveksi, dan risiko kematian. Dengan adanya vaksinasi, kalaupun sampai ada penularan dari masyarakat, kita harapkan nggak terjadi lonjakan kasus di rumah sakit seperti kemarin,” tandas Reisa.
Editor: Ahmad Muhlisin

