31 C
Kudus
Selasa, Juni 25, 2024

Deteksi Dini Adanya Longsor, BPBD Kudus Kembali Pasang EWS

BETANEWS.ID, KUDUS – Untuk mendeteksi secara dini adanya longsor di wilayah Pegunungan Muria, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus kembali memasang alat Early Warning System (EWS). Alat tersebut berfungsi memberikan sinyal suara sebagai peringatan, bila ada pergerakan tanah yang berpotensi menjadikan tanah longsor.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kudus Budi Waluyo mengatakan, sebelumnya sudah ada satu EWS yang dipasang di Dukuh Kambangan, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus pada tahun 2019 lalu.

Baca juga : Desa Menawan, Satu-satunya Wilayah di Kudus yang Dipasangi Alat Deteksi Dini Tanah Longsor

-Advertisement-

Kemudian, di tahun 2021, tepatnya tanggal 14 Oktober, ada tambahan satu lagi EWS yang dipasang. Letaknya di Dukuh Semliro, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.

“Rencananya, nanti juga akan kami tambah pemasangan lagi di Kambangan dan Rahtawu, di daerah Lereng Muria,” ungkap Budi, Selasa (26/10/2021).

Cara kerja EWS, terang Budi, ketika hujan dengan intensitas tinggi, sirine EWS akan berbunyi. Radiusnya diperkirakan hampir 1 kilometer. Lalu, ketika ada pergerakan tanah yang diduga bisa menyebabkan longsor, warga juga akan mendengar sirine, namun dengan bunyi yang berbeda.

Saat kejadian, BPBD Kudus maupun Provinsi Jawa Tengah pun akan mendapatkan laporan. Namun lewat pesan singkat.

Menurut Budi, pemasangan alat pendeteksi longsor ini patut untuk dilakukan di wilayah Rahtawu. Terlebih, wilayah tersebut merupakan lereng Gunung Muria yang rawan terjadi longsor.

Pihak BPBD pun menurut Budi, telah melakukan sosialisasi dan simulasi kepada warga. Bila sewaktu-waktu sirine berbunyi, apa yang perlu dilakukan warga.

“Sudah disosialisasikan, sudah ada timnya juga dari warga desa. Jadi saat sirine berbunyi akan ada tim dari desa yang bekerja, tim khusus yang sudah terbiasa menjadi relawan bencana. Mereka juga sudah dilatih dan bahkan simulasinya sudah sampai menyiapkan jalur evakuasi,” jelasnya.

Selain mengantisipasi longsor, BPBD juga mulai mempersiapkan langkah penanganan ketika terjadi bencana banjir di Kudus. Mulai dari menitik lokasi-lokasi mana yang biasanya rawan banjir.

Terlebih, menurut Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kudus Wiyoto, diperkirakan El Nina akan melanda Kudus. Pihak BPBD pun mulai mengumpulkan para relawan, Forkopimcam, OPD, dan TNI-Polri untuk mengadakan rapat koordinasi.

“Kami mendorong agar warga desa bisa bergerak lebih dulu untuk mengantisipasi bencana. Apa yang mereka alami, mereka lebih faham apa yang perlu dilakukan,” katanya.

Baca juga : Terkait Early Warning System, Warga Disarankan Gunakan Alat Tradisional Jika Terkendala Alat Modern

Terlebih, Kudus sendiri telah memiliki 3 Desa Tanggap Bencana (Destana). Yakni Desa Rahtawu, Menawan dan Japan. Tujuannya, desa siap menghadapi bencana. Bisa mitigasi kegiatan yang mampu mengurangi efek bencana.

“Setiap desa yang rawan bencana, harus dibentuk tim relawan. Minimal 30 orang yang kompeten. Mereka yang kompeten ini bisa mengajak orang-orang di sekitarnya. Sehingga kejadian parah tidak akan terjadi. Kepedulian antara warga desa bisa mendorong keinginan untuk saling membantu,” tuturnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
140,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER