BETANEWS.ID, KUDUS – Uphy Hi Aziz datang menemui manajemen Persiku Kudus pada Rabu (29/9/2021) sore. Dalam pertemuan terbatas itu, mantan Asisten Pelatih Persiku tersebut meminta maaf kepada jajaran Manajemen Persiku atas tindakannya yang meninggalkan tim Macan Muria di tengah masa kontraknya dan memilih bergabung dengan Persak Kebumen.
“Hari ini saya datang komunikasi langsung dengan Manajemen Persiku mengenai masalah pengunduran diri saya. Jadi, terkait dengan pengunduran diri saya kemarin, saya minta maaf sebesar-besarnya. Kepada manajer, tim manajemen, suporter sepak bola Kudus, semua masyarakat Kudus, bahwa saya benar-benar minta maaf. Mungkin keputusan yang saya ambil terlalu terburu-buru dan mendadak. Memunculkan opini-opini kurang baik di Manajemen Persiku,” kata Uphy, Rabu (29/9/2021) sore.
Lebih lanjut Uphy menjelaskan, bahwa dirinya baru satu bulan menjadi asisten pelatih Persiku. Padahal dalam kontrak, pihaknya dikontrak selama satu tahun mendampingi Cucun Sulistyo melatih Persiku.
Baca juga : Uphy Hi Aziz Mundur, Posisi Asisten Pelatih Persiku Kini Diisi Denny Rumba
Niat mengundurkan diri sudah disampaikan Uphy secara lisan beberapa waktu lalu. Hanya saja, untuk surat resmi secara tertulis baru ia berikan pada Senin (27/9/2021) kemarin.
Hengkangnya Uphy dari Persiku dan lebih memilih Persak Kebumen bukan tanpa alasan. Uphy menceritakan, janji dan kedekatan yang sudah terjalin baik dengan Persak, membuatnya yakin memilih Persak Kebumen dan meninggalkan Persiku Kudus.
“Pertama adalah karena saya sudah pernah punya utang janji dengan Persak Kebumen. Dari tahun 2015 ngikut Persak Kebumen, dengan target harus promosi ke Liga 2 saat itu. Setelah gagal karena adanya konflik antara PSSI dan pemerintah waktu itu, kompetisi tidak jalan. Sehingga di situ saya menyampaikan ke manajemen (Persak Kebumen) yang sampai sekarang masih dengan manajemen yang sama, yaitu saya sampaikan akan mengambil lisensi dan saya akan kembali untuk menangani Persak Kebumen,” jelasnya.
Kedua, lanjut Uphy, karena hubungan dengan Persak Kebumen yang sudah terjalin lama. Terlebih dirinya merupakan mantan pemain Persak Kebumen, yang membuatnya mantap memilih Persak Kebumen menjadi asisten pelatih, meski masih kontrak dengan Persiku.
“Saya tegaskan bahwa tidak ada masalah apapun dengan tim manajemen Persiku. Tidak ada masalah apapun dengan tim pelatih. Tidak ada masalah dengan pemain. Manajemen sangat terbuka dengan saya, hak saya dikasih. Tapi alhamdulilah semuanya bisa diselesaikan dengan kekeluargaan,” terangnya.
Sementara itu, Manajer Persiku Kudus Ferdaus Ardyansyah Purnomo mengatakan apa yang dilakukan Uphy seharusnya tidak layak dilakukan. Terlebih janji antara Uphy dengan Persak Kebumen hanya sebatas janji lisan. Tidak ada hitam di atas putih.
“Walau sudah ada janji dengan klub lain, itu hanya janji. Tidak ada hitam di atas putih,” kata Ardy.
Untuk saat ini, lanjut Ardy, manajemen Persiku lebih berkonsentrasi untuk menghadapi kick off Liga 3. Di mana rencananya akan berlangsung kurang dari satu bulan lamanya.
“Jadi kami memutuskan untuk menerima pengunduran dari Uphy. Karena kebaikan kita manajemen dan masyarakat Kudus memaafkan Uphy. Amal yang baik, mudah-mudahan Persiku bisa memperoleh target yang kita harapkan,” jelasnya.
Bidang Hukum Tim Manajemen Persiku Kudus Suparnyo menjelaskan, mundurnya Uphy dari tim selama masa kontrak merupakan pelanggaran atau ingkar janji dan bisa digugat. Hanya saja, atas pertimbangan tim manajemen, hal tersebut tidak dilakukan.
Pihak Manajemen Persiku dengan berat hati menerima permintaan maaf Uphy. “Uphy sudah minta maaf ke manajemen dan masyarakat Kudus. Kita selaku tim manajemen menerima permintaan maafnya. Meski pemberian maaf ini berat, tapi kami lakukan demi hubungan baik di antara kita,” terangnya.
Baca juga : TC Berjalan Lancar, Kesolidan Pemain Persiku Disebut Mulai Terbentuk
Dalam klausul kontrak, jelas Suparnyo, apabila ada pelatih atau asisten pelatih yang kontrak dengan pihak lain, 50 persen dari kontrak yang baru menjadi milik manajemen Persiku.
Ke depan, Suparnyo berharap, atas kejadian ini Uphy bisa lebih berhati-hati dalam memutuskan. Jangan terburu-buru kalau menandatangani perjanjian.
“Karena perjanjian itu secara moral harus dilaksanakan dengan baik. Karena ini janji, baik menurut agama maupun hukum harus ditaati. Agar ke depan (Uphy) bisa melaksanakan kewajiban yang harus dilakukan,” ungkapnya.
Editor : Kholistiono

