BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu, suasana di pelataran Pasar Kliwon terlihat sepi. Lengangnya pasar yang biasanya ramai itu terlihat sejak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat.
Ketua Himpunan Pedagang Pasar Kliwon (HPPK) Kudus, Sulistiyanto menerangkan, adanya PPKM Darurat berdampak luar biasa bagi ribuan pedagang Pasar Kliwon. Penurunan pendapatan di Pasar Tekstil terbesar kedua di Jawa tengah itu mencapai 90 persen.

“60 persen pedagang Pasar Kliwon itu usaha konveksi, 30 persen aksesoris, dan 10 persennya sembako,” beber dia, Rabu (14/7/2021).
Baca juga: Baru Terkumpul Rp 1,07 Miliar, Pihak Pasar Kliwon Optimis Target Retribusi Rp 2,3 Miliar Tercapai
Dirinya menjelaskan, jika sebelum adanya PPKM sudah mengalami penurunan penjualan, karena ada PPKM membuat penjualan semakin menurun.
“Perumpamaanya itu sepeti penyakit, jika sebelumnya sudah sakit karena pandemi, sekarang penyakitnya semakin parah karena PPKM Darurat,” keluhnya.
Jika biasanya jumlah pengunjung Pasar Kliwon bisa mencapai 5.000 sehari, kini karena pandemi, 500 pengunjung saja tidak ada.
“Pendapatan rata-rata dari 2.500 pedagang itu saya katakan satu orang sejuta sehari, sehingga totalnya Rp 2,5 miliar. Tapi sekarang total pendapatan Rp 500 juta saja susah. Kita rata-rata tidak melakukan transaksi,” jelasnya.
Tak hanya para pedagang yang terdampak. Para pegawai pun juga merasakan dampaknya. Sejumlah pedagang menerapkan sistem kerja secara bergantian untuk pegawainya. Alhasil, ketika di rumah mereka tidak mendapatkan pemasukan.
Baca juga: Pedagang Taman Bojana Emoh Direlokasi ke Lantai 3 Pasar Kliwon Kudus
“Karena PPKM Darurat, banyak pegawai yang dipecat, ada juga yang memberlakukan sistem sehari kerja sehari libur,” ujarnya.
Dan hingga saat ini, sudah banyak pedagang yang akhirnya menutup tokonya. Sulis mengatakan, sudah ada 30 persen toko yang tutup.
“Untuk saat ini kita itu seperti hidup segan mati enggan. Mau tutup toko sayang, tapi kalau buka pendapatan juga tidak seberapa,” tukasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

