Haryono sedang membakar logam sebelum proses penempaan. Foto: Kaerul Umam

Suara bising terdengar saat dua orang telanjang dada memukul lempengan besi mengangah usai dipanaskan. Satu di antara dua orang tersebut yakni Haryono, seorang pandai besi yang sedang memproduksi sabit. Setelah memukul besi tersebut hingga pipih dan membentuk lengkungan, ia sudi berbagi cerita kepada Tim Liputan Khusus Betanews.id tentang regenerasi pandai besi di desanya.

Haryono mengungkapkan, meski menjadi pandai besi cukup menjanjikan, namun dirinya sulit mencari karyawan. Bahkan mayoritas generasi muda Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus, tak berminat menjadi perajin logam. Dia mengaku kesulitan mencari karyawan, selain karena sulit mengajarkan keahliannya juga jarang yang berminat.

“Membuat sabit seperti ini tidak mudah. Karena kami harus mengutamakan kerapian dan kualitas produk. Jika memcari karyawan belum tentu bisa, lagi pula sulit memcari orang yang minat belerja seperti ini,” ungkapnya sambil memgasah sabit.

“Belum ada rencana menambah karyawan apa lagi mewariskan. Sulit mencari orang yang bisa, diajari juga tidak mau karena pekerjaan berat.

Haryono, Pandai Besi Bareng

Meski banyak permintaan dari pasar, dalam sehari Haryono hanya mampu membuat 25 sabit. Hal itu demi menjaga kualitas produknya. Jika membuat lebih dari itu, menurutnya hasilnya bisa kurang maksimal kerena sudah lelah.

“Jadi produksi dikurangi meski penjualan naik, demi menjaga kualitas. Proses masih tradisional, selain karena alatnya mahal, hasilnya juga kurang maksimal jika menggunakan alat, tidak sebagus ditempa secara tradisional,” jelas Haryono saat ditemu beberapa hari yang lalu.

Haryono mengaku sudah menjadi perajin loga sekitar 20 tahun itu. Dia juga mengaku belum ada rencana untuk melibatkan orang lain dalam pekerjaannya. Ia hanya mengerjakan pesanan bersama adiknya, karena saudara yang lain tidak berminat untuk diajak.

“Belum ada rencana menambah karyawan apa lagi mewariskan. Sulit mencari orang yang bisa, diajari juga tidak mau karena pekerjaan berat. Butuh keahlian khsus untuk membuat model sabitnya, ketajaman, kehalusan dan kerapiannya juga,” terangnya.

Senada dengan Haryono, Sugeng Wahyu Widodo (44), Perangkat Desa Hadipolo, menambahkan, pekerjaan menjadi tukang pandai besi kurang diminati para pemuda di sana. Meski jenis produk yang dibuat terus ada inovasi, tetapi ada sejumlah perajin yang tutup karena tidak ada penerus. Meski demikian, pihaknya akan terus mendukung untuk mempertahankan industri rumahan yang sudah menjadi ciri khas Desa Hadipolo itu.

“Secara produk di sini ada inovasi, peminat dan penjualan juga bagus. Para pemuda juga mulai memasarkan secara online, tetapi jarang yang minat memproduksi. Kami juga kesulitan menghadapi persaingan pasar dengan barang-barang ekspor yang harganya lebih murah. Kalau kualitas jelas kami berani bersaing, tapi persaingan harga yang kualahan,” tambahnya.


Tim Liputan: Ahmad Rosyidi, Rabu Sipan, Kaerul Umam (Reporter, Videografer). Suwoko (Editor Berita). Andi Sugiarto (Editor Video). Lisa Mayna (Translator).

Tinggalkan Balasan