Pandai besi di Desa Hadipolo sedang mengasah logam. Foto: Kaerul Umam

Nama Bareng sebagai sentra pembuatan produk-produk logam sudah melegenda sejak lama. Keberadaan para pandai besi di sana, tak bisa dilepas dari sejarah panjang dari para empu pembuat senjata untuk kerajaan Demak. Namun, saat ini mereka merasa semakin terhimpit karena beredarnya produk dari China di pasaran dengan harga yang lebih murah.

Kepada Tim Liputan Khusus Beta News, Perangkat Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Sugeng Widodo mengatakan, kondisi para perajin logam di desanya masih stagnan. Sulitnya usaha pembuatan produk logam di Bareng dinilai karena membanjirnya produk-produk dari China.

“Kami kesulitan untuk pemasaran produk-produk logam dari perajin. Sejak produk China membanjiri pasar di Indonesia, perajin semakin sulit,” ujar Sugeng saat ditemui di Balai Desa Hadipolo, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut dia menjelaskan, produk China yang beredar di pasaran memiliki harga yang rendah. Tentu hal itu tak terlepas dari produk China yang diproduksi skala industri sehingga bisa memangkas banyak biaya produksi.

“Dibanding dengan para perajin di Bareng yang hanya industri rumahan, ya tentu harganya kalah bersaing dengan produk dari China. Ini yang sekali lagi membuat kami sulit,

Sugeng Widodo, Perangkat Desa Hadipolo

“Dibanding dengan para perajin di Bareng yang hanya industri rumahan, ya tentu harganya kalah bersaing dengan produk dari China. Ini yang sekali lagi membuat kami sulit,” keluhnya.

Meski begitu, dirinya yakin kualitas produk logam dari Bareng tak kalah dengan produk dari China. Produk logam dari Bareng memiliki kualitas yang lebih bagus, karena diproduksi tangan-tangan terampil pandai besi yang sejak lama memiliki pengalaman dan sejarah panjang.

Sugeng menambahkan, ada belasan pengepul produk yang siap memasarkan produk dari para perajin. Selain cara konvensional penjualan melalui pengepul, saat ini banyak pemuda yang mulai memasarkan produk logam secara online.

Tinggalkan Balasan