BETANEWS.ID, KUDUS – Pagi itu Terminal Jati Kudus tampak lengang. Meski sudah dua pekan puasa dan adanya larangan mudik Lebaran tanggal 6 Mei sampai 17 Mei 2021, tak tampak peningkatan aktivitas penumpang di terminal tersebut. Beberapa kios oleh-oleh pun tampak buka meski terlihat sepi pembeli. Satu di antara penjual oleh-oleh yakni Siti Sundari menuturkan, sejak pandemi penjualan oleh-oleh turun drastis.
Keadaan tersebut kata dia, akan diperparah dengan kebijakan larangan mudik pada Lebaran tahun ini. Yang tentu pembeli akan semakin sepi, karena tidak ada pemudik dari lain daerah. Padahal, biasanya menjelang Lebaran, banyak pemudik dan penjualan oleh-oleh di Terminal Kudus meningkat.

Baca juga : Terminal Jati Kudus Masih Sepi, Tak Ada Lonjakan Penumpang yang Mudik Lebih Awal
“Namun, tahun ini dan tahun kemarin penjualan oleh-oleh di Terminal turun drastis. Bahkan pendapatan kami turun sekitar 70 persen,” ujar perempuan yang akrab disapa Sundari kepada Betanews.id, Selasa (27/4/2021).
Perempuan warga Karanganyar Demak itu mengungkapkan, kalau keadaan sepi pembeli terus berlanjut, nanti pada tanggal 6 Mei hingga 17 Mei 2021 ia akan menutup kiosnya. Menurutnya, mending tidak berjualan dulu saja daripada berjualan tapi tidak ada pembeli.
“Rencananya, pada tanggal dilarangnya mudik Lebaran paling kios saya tutup. Sebab jualan juga percuma, paling tidak ada pembeli,” bebernya.
Hal yang hampir sama juga dikatakan Jamini, pedagang oleh-oleh lain di Terminal Jati Kudus. Dia menuturkan, sejak pandemi penjualan oleh-oleh di Teminal Jati Kudus sepi. Menurutnya, pernah ada penumpang enam bus dari Jakarta tapi yang beli itu hanya dua orang. Itu pun hanya beli minuman saja.
“Sejak pandemi memang sepi pembeli. Sehari terkadang ada pembeli, terkadang juga tidak ada sama sekali. Pendapatan turun drastis hingga 70 persen,” ungkapnya.
Dia menuturkan, bahkan untuk oleh-oleh khas Kudus yakni jenang penjualannya sungguh miris. Tiga hari sekali terkadang baru ada pembeli. Menurutnya, biasanya di Bulan Ramadan atau menjelang Lebaran penjualan oleh-oleh di Terminal Jati Kudus itu meningkat. Para perantau yang pulang kampung biasanya mereka beli oleh-oleh untuk keluarga mereka.
“Namun, tahun ini sepi. Pemudik juga jarang, kalau pun ada mereka tidak beli oleh-oleh. Mungkin di perantauan penghasilannya berkurang. Apalagi masa pandemi, ekonomi susah,” terangnya.
Disinggung dengan diberlakukannya larangan mudik, perempuan warga Loram Wetan itu menuturkan, sangat tidak setuju. Sebab mudik adalah tradisi tahunan warga yang beragama Islam. Dengan mudik, para perantau bisa merayakan lebaran bersama keluarga. Kalau banyak pemudik, kemungkinan oleh-oleh yang dijualnya terbeli terbuka lebar. Menurutnya, kebijakan tersebut sangatlah merugikan rakyat kecil seperti dirinya.
“Memang peraturan itu untuk cegah corona. Tapi peraturan itu juga merugikan kami. Penghasilan kami turun drastis, dagangan kami terancam tak ada pembeli,” tandasnya.
Baca juga : Pengusaha Bus Minta Pemerintah Cabut Kebijakan Larangan Mudik Lebaran
Meski ada larangan mudik, tuturnya, pada tanggal 6 Mei sampai 17 Mei tahun 2021, ia berencana akan tetap membuka kiosnya. Perempuan yang mengaku sudah berjualan oleh-oleh di Terminal Kudus selama 30 tahun itu beranggapan, yang memberi rezeki ada Allah. Tugas dia adalah berjualan dan rezeki nanti pasti akan didatangkan oleh Sang Kuasa.
“Nanti pas tanggal larangan mudik, saya tetap berjualan. Mau laku atau tidak tetap jualan. Saya percaya yang memberi rejeki itu Allah, jadi saya tetap berjualan,” tutupnya.
Editor : Kholistiono

