Mbak Wolly, Waria Semarang yang Abdikan Hidupnya Jadi Guru Ngaji

BETANEWS.ID, SEMARANG – Azan Asar baru saja berkumandang saat Silvi Mutiari atau Mbak Wolly bergegas menyiapkan peralatan untuk mengajar ngaji. Dengan kerudung biru yang menutupi kepalanya, ia duduk menunggu muridnya di rumahnya yang berada di Kampung Randusari RT 6 RW 1, Kota Semarang.

Selang beberapa waktu, anak-anak mulai berdatangan dengan membawa tas, baju muslim, dan juga peci. Sebagian ada yang datang sendiri dan ada juga yang diantar orang tuanya.

Mbak Wolly merupakan seorang waria sekaligus Ketua Persatuan Waria Kota Semarang (Perwaris). Mengajar ngaji merupakan kegiatan Mbak Wolly yang ditekuninya sejak lama. Dia meneruskan almarhumah ibunya yang juga pengajar ngaji rumahan. Rumah Mbak Wolly sudah seperti madrasah.

-Advertisement-

Baca juga: Cerita Warsinah Mengais Rezeki dari Balik Jeruji, Bisnis Kue dan Rotinya Kini Banyak Peminat

Setiap bakda asar, anak-anak berkumpul di rumahnya untuk belajar membaca Alquran. Tak hanya kepada anak-anak, setiap malam Jumat di rumahnya juga ada acara pengajian bersama ibu-ibu komplek.

“Biasanya kalau malam Jumat itu ada pengajian rutin bersama ibu-ibu. Namun karena pandemi untuk sementara ditiadakan dulu,” jelasnya saat ditemui di rumahnya, Kamis (29/4/2021).

Hampir setiap hari Mbak Wolly mengajar ngaji di rumahnya. Dia yakin, apa yang diakukanya saat ini bisa menjadi ladang ibadah. Apalagi, ini adalah Bulan Ramadan.

“Saya ingat dulu nggak mudah juga mencari ilmu sehingga saya ingin berbagi ilmu. Ini sebagai ladang ibadah terutama selama Bulan Ramadan ini,” ujarnya.

Salah satu murid Mbak Wolly, Mega (23), merasa betah belajar mengaji di tempat Silvi lantaran sudah tahu kemampuannya dalam mengajar mengaji. Apalagi dia mengaku sudah kenal dengan Silvi sejak lama.

Baca juga: Kopi Arab, Minuman Khas Ramadan yang Hanya ada di Masjid Layur Semarang

“Saya sudah kenal Mbak Silvi. Tahu lah kapasitas beliau soal belajar mengaji,” terangnya.

Dia tak pernah memandang soal kondisi Silvi sebagai seorang transpuan. Baginya, selama orang tersebut mau berbagi kebaikan dengan ikhlas maka tak perlu dipandang statusnya.

“Sebagai tetangga saya sudah kenal siapa beliau jadi tak ada masalah,” tandas Mega.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER