31 C
Kudus
Kamis, Februari 12, 2026

Kisah Sukses Septi Bisnis Bolu Tetes Khas Desa Lau yang Laku Hingga 2 Kuintal Sebulan

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang perempuan terlihat sedang menyiapkan adonan di sebuah wadah warna biru. Setelah itu, ia mengambil mixer untuk mencampurkan bahan-bahan itu sampai kalis. Dari adonan yang sudah jadi itulah, dia mencetak menjadi bentuk-bentuk kecil yang siap untuk dipanggang dalam oven. Wanita itu adalah Septi Hartati (40), Pemilik usaha Bolu Tetes Serizh.

Sambil menunggu pengovenan, Septi bersedia membagi ceritanya memulai usaha jajanan khas Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus itu kepada betanews.id. Awalnya, ia memproduksi kue tersebut untuk mengisi hari-harinya menjadi ibu rumah tangga setelah memutuskan keluar dari kerjaan. Resep yang digunakannya merupakan turunan dari neneknya.

Septi sedang membuat adonan bolu tetes, camilan khas Desa lawu. Foto: Kartika Wulandari.

Septi menerangkan, bolu tetes merupakan camilan khas Desa Lau yang terbuat dari empat bahan saja. Yaitu kelapa sangrai sebagai bahan utama, telur, tepung terigu, dan gula pasir dengan perbandingan 1:1.

-Advertisement-

“Yang membuat camilan bolu tetes ini cuma ada di Desa Lau saja,” ungkapnya, Selasa (13/04/2021).

Baca juga: Bikin Nagih, Kacang Bawang Putri 21 Ini Rasanya Gurih dan Empuk

Ia juga menjelaskan, bolu tetes dengan lidah kucing sangatlah berbeda, bahan yang digunakan pun berbeda. Lidah kucing membutuhkan banyak bahan-bahan roti modern, sedangkan bolu tetes hanya menggunakan empat bahan tradisional saja.

“Rasa dan bentuknya pun juga berbeda, kalau bolu tetes ada rasa kelapa sangrai dan bentuknya bukan pipih,” jelasnya.

Setelah berjalan beberapa tahun, bolu tetes buatan Septi kini sudah punya banyak peminat. Bahkan, Septi bisa memproduksi  hingga dua kuintal setiap bulannya. Kini, penjualan bolunya pun sangat luas, mulai dari dijual ke berbagai kota hingga ke berbagai tempat oleh-oleh dan swalayan di Indonesia.

“Harganya itu Rp 15 ribu per bungkus. Setiap bulan saya bisa jual hingga dua kuintal dengan keuntungan hingga Rp 20 juta,” ungkap Septi.

Baca juga: Jenang Karomah Aneka Rasa yang Kenyal dan Empuk Ini Tak Pernah Sepi Pembeli

Meski pandemi penjualannya menurun hingga 50 persen, tetapi ia tetap bersyukur karena usahanya itu bisa menghidupi keluarganya. Bahkan kini ia termasuk seorang ibu rumah tangga yang sukses.

“Awal pandemi saya mengalami penurunan yang sangat drastis. Semua barang di-return. Tetapi kini alhamdulillah sudah mulai membaik penjualannya,” tandasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER