BETANEWS.ID, KUDUS – Menjelang lebaran banyak penyedia jasa penukaran uang. Jasa tersebut membuat warga tidak kebingungan di saat lebaran yang sering kali membagikan sedikit uangnya kepada anak-anak yang berkunjung ke rumah. Sedangkan, untuk menjadi penyedia jasa penukaran uang tidak mudah lantaran harus menjaminkan surat tanah untuk modal awal.
Sugiyarti (43) mengungkapkan, dirinya sudah terbiasa menjadi seorang penyedia jasa penukaran uang. Menurutnya, sudah tujuh kali setiap tahunnya. Untuk modal awal jasa penukaran uang ia menjaminkan sertifikat tanahnya kepada seseorang yang mempunyai uang banyak atau istilahnya disebut bos.
“Sebenarnya menjadi penyedia jasa penukaran uang ini tidak mudah mas. Karena harus menjaminkan sertifikat tanah untuk modal awal. Lantaran saya tidak mempunyai modal di awal jadi ya, mau gak mau harus menjaminkan surat tanah tersebut,” bebernya kepada betanews.id, Senin (26/4/2021).
Baca juga: Jasa Penukaran Uang Receh Mulai Marak di Kudus
Dia menyebutkan, proses penyedia jasa pun rumit. Karena harus melalui step by step. Pertama yang dilakukan itu harus menjaminkan sertifikat atau surat tanah dan hal tersebut tidak langsung menjadi uang. Kemudian uang yang diperlukan itu cair dengan syarat bunga 2 hingga 5 persen. Uang tersebut masih berupa ratusan ribu dan belum menjadi uang pecah seperti Rp 5 ribu hingga Rp 20 ribu.
“Setelah di penyedia atau seperti saya ini setuju dengan beberapa syarat tersebut, barulah uang berupa recehan seperti Rp 2 ribu, Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, dan Rp 20 ribu,” ungkap ibu yang memakai jilbab warna pink tersebut.
Dia melakukan hal tersebut dimulai sejak 2014 dan kini sudah 7 kali menjadi penyedia jasa penukaran uang baru. Menurutnya, yang paling ramai itu saat H-1 lebaran. Bahkan, ia bisa untung hingga Rp 1,7 juta di hari itu.
Baca juga: Selama Ramadan, Warung Sedekah Bagikan Ratusan Makanan Berbuka Gratis Setiap Hari
“Kalau H-1 lebaran biasanya ramai. Pernah paling banyak itu bisa melakukan penukaran hingga 17 juta di hari itu,” bebernya.
Yang perlu diperhatikan, lanjutnya, harus teliti dalam mengecek uang dari pelanggan. Menurutnya, ada teman dari Bu Har yang pernah ketipu sampai Rp 5 juta dengan uang palsu. Hal tersebut menjadi momok bagi penyedia jasa penukaran uang baru.
“Alhamdulillah kalau saya tidak pernah sampai kejadian seperti itu. Setiap kali pembayaran dari pelanggan selalu saya cek apakah itu uang asli ataupun palsu,” tuntasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

