BETANEWS.ID, KUDUS – Septi Hartati (40) terlihat sedang menyiapkan bahan-bahan untuk membuat bolu tetes, camilan khas Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Ia mengawali langkah dengan memecahkan telur satu per satu dan mencampurkannya dengan gula pasir di sebuah wadah. Setelah diaduk dengan mixer sampai mengembang, ia mulai memasukan sedikit demi sedikit tepung dan kelapa parut sangrai.
Setelah semua bahan tercampur dan adonan kalis, ia kemudian memasukkannya pada sebuah plastik kerucut. Dari plastik itu pula bentuk bolu tetes dibuat. Sedikit demi sedikit adonan itu ia teteskan pada loyang hingga dirasa cukup untuk dioven.

Sambil menunggu pengovenan, Septi bersedia menceritakan usaha jajanan khas Desa Lau yang tak pernah sepi peminat itu. Septi mengatakan, awal mula ia memulai usaha bolu tetes karena pilihanya yang ingin keluar kerja dan memilih menjadi ibu rumah tangga.
Baca juga: Kerupuk Sadariyah yang Gurih Ini Penjualannya Melejit, Pelanggan dari Berbagi Daerah
Menurut Septi, pembuatan bolu tetes hanya membutuhkan empat bahan, yaitu kelapa sangrai, telur, tepung terigu, dan gula pasir dengan perbandingan 1:1.
“Yang membuatnya jadi unik, lantaran camilan bolu tetes hanya diproduksi di Desa Lau saja,” ungkapnya, Selasa (13/04/2021).
Untuk penjualannya, Septi menawarkan berbagai macam ukuran kemasan mulai dari ukuran 130 gram dengan harga Rp 15 ribu. Lalu untuk ukuran curah dihargai Rp 70 ribu per kilogram. Septi juga membuka reseller, dengan syarat minimal pembelian 3 kilogram. Untuk ketahanananya, bolu tetes buatan Septi bisa bertahan hingga empat bulan.
“Biasanya kalau yang beli kiloan itu toko-toko camilan,” jelas Septi.
Baca juga: Krispi Pisang, Camilan Krenyes yang Punya Pelanggan di Berbagai Daerah
Karena rasanya yang khas, Septi bisa menjual hingga dua kuintal tiap bulannya. Kini, permintaan bolu tetesnya sudah merambah berbagai daerah, tempat oleh-oleh, toko camilan, dan swalayan. Untuk pemesanan, bisa menghubungi melalui Whatsapp 0856 0699 8638.
Ia juga menjelaskan, bahwa bolu tetes dengan lidah kucing sangatlah berbeda, bahan yang digunakan pun berbeda. Lidah kucing membutuhkan banyak bahan-bahan roti modern, sedangkan bolu tetes hanya menggunakan empat bahan tradisional saja.
“Rasa dan bentuknya pun juga berbeda, kalau bolu tetes ada rasa kelapa sangrai dan bentuknya bulat pipih,” tutupnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

