BETANEWS.ID, KUDUS – Di teras rumah yang kebanjiran Dukuh Tuang, Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, tampak dua orang perempuan sedang sibuk. Yang satu sedang mencuci perabot, sedangkan yang satunya lagi terlihat sibuk mengiris-iris singkong. Irisan singkong tersebut kemudian ia goreng. Perempuan itu yakni Vita, penjual tela-tela dan tahu goreng yang tetap berjualan di tengah banjir.
Sembari beraktivitas, Vita pun sudi berbagi penjelasan tentang berjualan di tengah banjir tersebut. Dia mengatakan, sejak Sabtu (30/1/2021) rumahnya kebanjiran dan saat ini banjir di rumahnya mencapai lutut orang dewasa. Namun, meski kebanjiran ia tetap memutuskan untuk berjualan. Sebab dengan berjualan ia bisa mendapatkan tambahan penghasilan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
“Iya ini mas, meski kebanjiran tetap jualan tela-tela dan tahu goreng. Supaya dapat penghasilan tambahan,” ujar Vita kepada Betanews.id, Senin (1/1/2021).
Baca juga: Dukuh Karangturi Kudus Terisolir Akibat Banjir, Relawan Bikin Rakit untuk Seberangkan Warga
Dia mengatakan, berjualan merupakan pekerjaan sampingan. Setiap hari ia bekerja di salah satu pabrik rokok di Kudus. Biasanya ia berjualan setelah pulang bekerja di pabrik. Namun, karena rumahnya kebanjiran, di hari tersebut ia izin kerja. Namun, agar tetap ada pemasukan ia pun memutuskan untuk tetap berjualan.
Lebih lanjut kata dia, berjualan tela-tela dan tahu goreng dalam kondisi kebanjiran tetap laku. Meski lakunya itu tidak selaris pada waktu hari-hari biasa tanpa banjir. Dengan keadaan kebanjiran, ia mengaku bisa menjual 10 porsi sudah bagus.
“Kalau pembeli ada saja. Yang saya jual ini kan camilan. Biasanya anak-anak yang bermain air banjir itu pada beli. Dalam keadaan banjir biasanya laku 10 porsi. Kalau tidak banjir lebih laris lagi,” ungkap Vita yang mengaku menjual tela-tela dan tahu goreng dengan harga Rp 2 ribu seporsi.
Dia mengatakan, meski terbatas geraknya berjualan di tengah musibah banjir yang melanda merupakan hal biasa ia lakukan. Sebab dukuh yang ia tinggali bisa dikatakan langganan banjir tiap tahunnya. Dia mengaku, meski rumahnya kebanjiran ia memutuskan untuk tidak mengungsi. Sebab, kalau mengungsi nanti tidak bisa berjualan.
Baca juga: Sungai Wulan Meluap, Delapan Desa di Kudus Kebanjiran
Dia menambahkan, pedukuhan yang ditinggalinya itu lokasinya berseberangan jalan dengan Desa Setrokalangan, yang notabene bisa dikatakan desa langganan banjir. Jadi kalau Desa Setrokalangan kebanjiran, Dukuh Tuang, Desa Kedungdowo juga ikut kebanjiran. Namun mirisnya, selama kebanjiran dia bersama warga Dukuh Tuang lainnya hampir tak pernah tersentuh bantuan.
“Mungkin tempat tinggal kami itu dianggap ikut Desa Setrokalangan karena memang lokasinya berseberangan jalan. Padahal tidak, jadi kalau ada bantuan banjir ke Desa Setrokalangan, kami sering tidak dapat, sebab kami itu ikut Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu. Kami berharap ada bantuan dari pemerintah,” harapnya mengakhiri.
Editor: Ahmad Muhlisin

