BETANEWS.ID, KUDUS – Para pengendara sepeda motor dan mobil tampak berjalan pelan melewati banjir yang menggenangi Jalan Kudus-Purwodadi. Banyaknya kendaraan yang memelankan lajunya itu menyebabkan lalu lintas di jalan tersebut padat merayap. Meski genangan air mulai surut, keberadaan lubang di jalan yang cukup banyak menjadikan pengendara terlihat hati-hati.
Pantauan di lokasi, banjir masih menggenangi beberapa titik ruas Jalan Kudus-Purwodadi, sekitar 10 meter sebelah Selatan lampu lalu lintas proliman Tanjungkarang. Ketinggian air di genangan sepanjang kurang lebih 20 meter itu masih sekitar 15 sentimeter.

Kemudian jalan di depan Toko Ijo Semar juga tergenang sepanjang 50 meter dengan ketinggian air sekitar 25 sentimeter. Yang lumayan parah ada di jalan mulai Klenteng Tanjungkarang ke Selatan sepanjang sekitar 100 meter, dengan ketinggian air sekitar 35 sentimeter.
Baca juga: Banjir Hambat Lalu Lintas Jalan Kudus-Purwodadi, Puluhan Motor Mogok
Selain puluhan motor yang lewat mogok, banjir juga bikin macet sepanjang satu kilometer. Dari lampu merah Tanjungkarang tampak puluhan kendaraan merayap. Sedangkan yang dari Selatan tampak terjadi kemacetan sejak dari Jembatan Sungai Bakinah. Untuk menghindari kemacetan dan agar motor tidak mogok, banyak warga yang memilih cari jalan alternatif.
Satu di antara warga yang motornya mogok adalah Suparno. Bersama istrinya, ia pulang dari belanja dengan menerjang banjir. Menurutnya, saat berangkat motornya aman. Makanya, saat pulang ia kembali nekat menerjang banjir. Nahasnya, motonya malah mogok.
“Tadi pas berangkat motorku tidak kenapa-kenapa kok tak buat nerjang banjir. Tapi ini pulangnya kok malah mogok,” ujar warga Desa Undaan Kidul, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Selasa (16/2/2021).
Hal berbeda diungkapkan Nor Badri, warga Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Karena setiap hari ia harus melewati banjir tersebut, dirinya punya siasat agar motornya tak mogok.
Baca juga: Banjir Mejobo Sebabkan Lalu Lintas Tersendat, Banyak Kendaraan Mogok
“Saya setiap hari itu melewati jalan yang kebanjiran. Dulu pernah mogok, sekarang saya akal, dari ujung jalan yang kebanjiran, mesin motor saya matikan dan motor saya tuntun. Setelah banjir terlewati baru motor saya nyalakan lagi,” ujarnya.
Biasanya, kata dia, motornya langsung nyala. Berbeda dengan motor yang dikendarai menerjang banjir kemudian mogok, biasanya nanti agak susah dinyalakan. Apalagi kalau kemasukan air pasti urusannya sama bengkel.
“Malesnya itu akibat banjir sering macet. Lumayan panjang macetnya,” selorohnya mengakhiri.
Editor: Ahmad Muhlisin

