BETANEWS.ID, KUDUS – Anggota DPRD Komisi E Jawa Tengah Mawahib Afkar angkat bicara terkait peryataan Plt Bupati Kudus HM Hartopo yang menyebut air banjir warna hitam di Dukuh Tanggulangin, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati tidak berbahaya. Padahal diketahui, air banjir yang menggenangi wilayah tersebut berwarna hitam dan berbau tidak sedap.
Mawahib mendesak agar Pemerintah Kabupaten Kudus untuk lebih berkoordinasi terkait hasil laboratorium air banjir berwarna hitam tersebut.
“Mohon Pemkab agar lebih melakukan koordinasi terkait masalah hasil lab. Yang jelas, yang namanya air limbah itu tercemar. Walupun itu terbebas dari pencemaran dan sebagainya, minimal gatal-gatal sudah dirasakan,” tegas Mawahib, Jumat (12/2/2021).
Baca juga: Ponpes Al Muayyad dan Zahir Mania Salurkan Bantuan ke Korban Banjir di Kudus
Hari itu, ungkap Mawahib, pihaknya sedang berada di wilayah banjir bercampur limbah yang menggenangi tiga dukuh di Kecamatan Jati. Menurutnya, hal itu sangat ironis. Makanya, ia meminta penanganan seperti ini harus cepat.
“Kebetulan tiga hari lalu saya dengan Dinas Kesehatan Jawa Tengah melakukan pengobatan gratis (bagi warga yang terdampak banjir di Kudus),” kata Mawahib.
Salah satu warga Dukuh Tanggulangin, Muhammad Adinur Rohman (18) mengungkapkan, air banjir yang berbau dan berwarna hitam masih bisa ditemukan di sumur-sumur warga. Meskipun, di sepanjang jalan sudah tidak ada lagi air banjir berwarna hitam dan berbau.
“Kalau air di sekitar jalan sudah nggak (berbau dan berwarna hitam), untuk sumur masih. Pemukiman warga juga sudah nggak,” ungkapnya.
Baca juga: Mawahib Dorong BPBD Kudus Segera Siapkan Destana di Desa Rawan Banjir
Dari keterangan Rohman, air banjir warna hitam sudah tidak ada sejak seminggu yang lalu. Namun, akibat banjir berwarna hitam itu, dia merasakan gatal-gatal di bagian telapak kaki.
Banjir yang menggenangi tempat tinggalnya ini, kata Rohman sudah hampir dua minggu. Selama itu pula, banyak warga yang masih tetap tinggal di rumahnya masing-masing. Menurut Rohman, untuk air bersih ia dan para warga lainnya yang masih bertahan, mendapat suplai dari pemerintah dan perusahaan di Kudus.
“Alhamdulillah, air bersih masih disuplai pemerintah. Dari Pura Grup ada yang nyuplai juga,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

