BETANEWS.ID, PATI – Ratusan tanaman sejenis umbi setinggi sekitar satu meter berwarna hijau terlihat tumbuh subur di sebuah ladang di Desa Ketanggan, Gembong, Kabupaten Pati. Tanaman tersebut daunnya lebar saling bertaut satu sama lainnya. Sehingga rumput di bawahnya sulit untuk tumbuh. Tanaman tersebut yakni porang, komoditas yang mulai dilirik para petani Indonesia termasuk di Pati.
Tanaman porang dianggap lebih menguntungkan untuk dibudidayakan dari komoditas lainnya. Namun, agar berhasil dan sukses bertani porang, ada beberapa hal mendasar yang perlu diperhatikan. Satu di antara petani tanaman porang di Pati, Harsono (37) sudi membagi tips agar tanaman porang bisa tumbuh subur dan dapat hasil yang maksimal.
Dia menjelaskan, hal terpenting dalam bertani porang adalah pemilihan bibit. Saat bibit yang ditanam jelek, hasilnya nanti juga tidak akan bagus. Bibit porang yang bagus adalah yang teksturnya keras dan kadar airnya rendah. Saat dibanting pelan ke lantai keramik, bibit yang berupa umbi tersebut akan memantul. Kalau bibit tersebut dibanting retak, jelas bibit tersebut tidak bagus karena banyak kandungan airnya.
Baca juga: Kisah Sukses Harsono Bertani Porang yang Mampu Hasilkan Rp 800 Juta Tiap Panen
“Bibit yang banyak kadar airnya, saat tumbuh, batang pohon porang biasanya akan diserang jamur. Sehingga otomatis menghambat pertumbuhan, kalau lambat penangannya bisa mengakibatkan tanaman porang tersebut mati. Hal itu tentu berbeda dengan bibit porang yang bagus, hampir pertumbuhannya tanpa kendala dan hama,” ujar Harsono kepada Betanews.id, Jumat (15/1/2020).
Selain bibit, lanjut Harsono, hal lain yang perlu diperhatikan adalah pengolahan lahan, cara tanam, serta perawatannya. Lahan yang akan ditanami porang hendaklah digemburkan serta dibuat gundukan-gundukan selebar satu meter. Hal tersebut agar mencegah terjadinya genangan air pada lahan. Untuk menyuburkan tanah, tanah yang akan ditanami tersebut terlebih dulu dikasih pupuk organik atau pupuk kandang.
“Saran saya pupuk organiknya itu yang sudah difermentasi. Jangan pupuk kandang langsung ditabur dilahan, sebab pupuk kandang yang belum difermentasi tersebut banyak sekali senyawa-senyawa bakteri yang tidak jelas. Takutnya nanti, lahannya subur, tapi jamur yang menyerang tanaman porang juga subur di lahan tersebut,” ungkap Pria yang sudah dikaruniai empat anak tersebut.
Lebih lanjut, ungkap dia, menanam porang jarak tanam juga perlu diperhatikan, antara bibit umbi dan bibit katak pun berbeda. Untuk jarak bibit umbi porang dia menanamnya dengan jarak 40 x 35 sentimeter. Sedangkan bibit katak dia kasih jarak lebih pendek yakni 20 x 20 sentimeter. Hal itu tujuannya untuk memaksimalkan lahan, agar tidak ada lahan yang terbuang percuma. Serta diharapkan saat tumbuh besar daun porang bisa saling bertautan.
“Saat daun bertautan ada banyak manfaatnya. Hal itu bisa menjaga kelembaban tanah dan batang porang. Sebab porang termasuk tanaman yang butuh banyak air. Serta minimnya sinar matahari pada tanah dibawahnya mengakibatkan rumput-rumput di bawahnya susah untuk tumbuh,” jelasnya.
Baca juga: Permintaan Tinggi, Hartopo Minta Sosialisasi Tanaman Porang Terus Digalakkan
Dia mengatakan, karena porang adalah tanaman yang butuh banyak air, dianjurkannya ada penyiraman berkala. Kecuali jika curah hujan tinggi penyiraman tidak perlu dilakukan. Itulah penanaman porang di wilayah Pati penanaman porang dilakukan pada awal musim penghujan. Biasanya pada November. Sebab jika tanaman porang kurang air, hasilnya kurang maksimal dan kecil-kecil.
Meski tanaman porang butuh banyak air jangan sampai di lahan ada genangan air, karena akan mengakibatkan tumbuhnya jamur. Itulah sebabnya lahan dibikin bedengan-bedengan, serta di antara bedengan itu ada parit kecil sebagai penuntas air dan sekalian untuk akses lewat.
“Jamur adalah hama utama dalam bertani porang. Namun, jamur bisa diatasi atau pun bisa dicegah. Bila sudah ada tanda-tanda jamur menyerang bisa diatasi dengan cara disemprot pakai fungisida, yang terpenting jangan sampai telat,” ucapnya.
Dia melanjutkan, untuk pertumbuhan tanaman porang juga butuh pupuk kimia. Namun, dari pada komoditas lainnya, porang terbilang lebih irit. Biasanya satu musim panen atau sekitar tujuh bulan, tanaman porang dikasih pupuk kimia dua kali. Menurutnya, bertani porang tidak butuh perawatan njelimet. Tidak perlu setiap hari mengontrol ke lahan. Jadi cocok untuk dijadikan sampingan.
“Intinya bertani porang itu di bibitnya, curah hujan atau akses pengairannya. Serta yang lebih bagus itu lahannya terbuka, sehingga tanaman porang bisa dapat sinar matahari langsung. Kalau perawatannya relatif mudah. Hanya pencegahan hama jamur. Sebab hama lainnya tidak doyan sama tanaman porang, termasuk tikus,” tutupnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

