BETANEWS.ID, KUDUS – Film pendek Luka Luna produksi Balai Budaya Rejosari (BBR), baru saja menyabet juara 3 dalam ajang lomba Digital Movie Competition 2020 yang diadakan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi. Penghargaan itu, diberikan pada 7 Desember 2020.
Film garapan sutradara Asa Jatmiko ini bersaing dengan ratusan peserta dari seluruh tanah air. “Untuk jumlah peserta yang ikut itu ada 105. Kemudian, dari jumlah tersebut diseleksi menjadi 95, dan kemudian diambil menjadi juara 1,2 dan 3 kategori umum serta juara 1 dan 2 untuk kategori pelajar,” ujar Asa Jatmiko.
Asa yang juga sebagai penulis naskah dalam Film Luka Luna ini menyampaikan, jika pihaknya tertarik untuk mengikuti kompetisi film yang mengusung tema “Menjaga Indonesia”. Pihaknya pingin terlibat dalam penyiaran digital, mengenai curhatan yang dituangkan dalam film tersebut.

Baca juga : Film Mbatil Karya Fatayat NU Kudus, Kampanyekan Anti Kekerasan Terhadap Perempuan
Dirinya menyatakan, jika film pendek tersebut merupakan penggambaran dari luka masyarakat atau luka netizen, yang sering menertawakan penderitaan orang lain yang kemudian diviralkan di media sosial yang tidak disertai dengan empati.
“Jangan-jangan Luka Luna ini merupakan luka kita sendiri, yang mulai kehilangan atau terkikis rasa empati terhadap orang lain. Melihat penderitaan atau luka orang lain kita malah justru tertawa. Kan itu sebenarnya keliru,” ujarnya.
Lanjutnya, pesan yang ingin disampaikan lagi dalam film ini adalah, bahwa bermedia sosial yang saat ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, menurutnya bisa menjadi dua sisi yang berbeda. Jika salah dalam memanfaatkan media sosial, maka bisa menjadi “api” yang bisa membakar lumbung Indonesia, namun jika bijak dan cera dalam menggunakannya, maka bisa menjadi api penyemangat.
Asa mengatakan, untuk penggarapan film tersebut, hanya dilakukan selama sebulan. Baik mulai penggarapan naskah, proses editing dan syuting di lapangan. Bahkan, menurutnya, untuk proses syuting hanya dilakukan selama satu hari.
Untuk pembuatan filmi ini, Asa juga mengajak teman-teman baru yang benar-benar pertama kali akting, dan ikut serta syuting untuk membuat film pendek.
“Saya sengaja mengajak teman-teman baru, untuk sekalian mengajak dan belajar bersama bagaimana pembuatan film pendek seperti apa,” ungkapnya.
Untuk kendala pembuatan film, katanya, selain cuaca hujan dan pemainnya yang baru, di pembuatan film pendek ini Asa hanya menggunakan satu kamera yang membuat harus take berkali-kali.
Baca juga : Kisah Perjuangan Munif yang Jadi Inspirasi Film Ayah Karya Ansor Kota Kudus
” Kita memang sengaja menggunakan satu kamera, untuk menghindari adanya continuity pada kamera”.
Namun, Asa juga ingin memberitahukan, bahwa keterbatasan alat bukan sebuah halangan untuk berkarya. “Sebenarnya jika memang ada keinginan, semua bisa kita lakukan. Karena yang berat itu bukan dari keterbatasan alat dan lainnya, tetapi diri kita sendiri yang selalu tidak percaya dengan potensi yang kita miliki,” pungkasnya.
Editor : Kholistiono

