Film Mbatil Karya Fatayat NU Kudus, Kampanyekan Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa ibu – ibu berjilbab mengenakan topi makromah, serta memakai celemek di badan khas buruh rokok mbatil tampak mengobrol di dalam angkot. Mereka awalnya bicara dan mengeluhkan sekolah daring dengan logat Jawa khas Kudusan. Tiba – tiba angkot berhenti dan mengerem mendadak. Ibu – ibu itu pun berteriak serta ada yang berkelakar kepada sopir, ‘kang – kang ngerem iku mbok sing alon – alon kang – kang’.

Saat berhenti, tampak ada perempuan yang berusia lebih muda dan wajahnya lebih glowing dari lainnya naik angkot tersebut. Perempuan tersebut diketahui bernama Heni. Setelah Heni duduk, sang sopir pun menyeletuk, ‘Cekelan sing kenceng Dek Heni, mengko mundak wawah‘, yang kemudian dicibir oleh penumpang yang duduk di sebelah sopir.

Setelah ada Heni pembicaraan pun berubah. Tadinya bicara tentang belajar daring, berganti topik membicarakan rumah tangga dan pekerjaan yang mereka tekuni yakni mbatil. Di tengah pembicaraan, ibu – ibu yang duduk di pojok curiga sama kawannya yang duduk di depannya dan mengenakan kaca mata. Sebab, sedari tadi diam saja, dan setelah dibuka kaca matanya, ternyata matanya lebam akibat dipukul oleh suaminya.

-Advertisement-
Nik Hayati, Ketua PC Fatayat NU Kudus. Foto: Rabu Sipan

Baca juga : Bersatu Perangi Corona, Lazisnu Singocandi Semprot Disinfektan di Masjid

Para ibu – ibu itu pun mecoba cari solusi. Ada yang mengajak untuk lapor polisi, ada yang sadar dan bersyukur, karena selama ini suaminya diam dan malah sering ia marahi. Serta ada yang memberi pencerahan bahwa kekerasan terhadap perempuan itu tidak dibenarkan. Itu merupakan sekilas alur cerita dalam film ‘Mbatil’ garapan Fatayat NU Cabang Kudus yang tayang di media sosial Youtube.

Ditemui di salah satu restoran di Kudus, Ketua Pengurus Cabang (PC) Fatayat NU Kudus yakni Nik Hayati mengatakan, film Mbatil memang garapan Fatayat NU Cabang Kudus. Film pendek tersebut dibikin dalam rangka ikut lomba yang diadakan PW Fatayat NU Jawa Tengah. Dengan tema film 16 Hari Tanpa Kekerasan Terhadap Perempuan, yang jatuh pada tanggal 24 November sampai 10 Desember.

“Dalam film Mbatil memang penuh nilai edukasi tentang anti kekerasan terhadap perempuan. Dengan film Mbatil itu kami ingin hak seorang perempuan itu bisa dipenuhi di manapun tempatnya. Sebab, selama ini jika terjadi tindak kekerasan, perempuanlah yang sering jadi subyeknya atau korbannya,” ujar perempuan yang akrab disapa Nik kepada Betanews.id, Sabtu (5/12/2020).

Saat disinggung tentang judul Mbatil, ia mengaku judul tersebut adalah idenya. Menurutnya, Mbatil adalah pekerjaan sebagian besar perempuan di Kudus. Selain itu, anggota Fatayat NU Cabang Kudus juga banyak yang bekerja mbatil. Sehingga judul itu memang disesuaikan denga realita yang ada.

“Ya biar relate aja. Sebab anggota Fatayat NU Cabang Kudus itu banyak yang bekerja Mbatil. Bahkan tak jarang perempuan di Kudus yang hanya bekerja jadi buruh mbatil tapi juga jadi tulang punggung keluarga. Namun masih mengalami kekerasan fisik dan mental,” ungkapnya.

Baca juga : Gandeng Banom NU, Anggota DPRD Jateng Bagikan Sembako

Dia berharap, dengan film Mbatil, peran para perempuan bisa lebih dihargai, serta tak ada lagi kekerasan terhadap kaum Hawa. Serta tidak ada lagi kekerasan terhadap perempuan dengan alasan apa pun. Semoga saja film Mbatil ini menang lomba.

“Kalau harapan saya semoga film Mbatil ini bermanfaat bagi orang banyak. Serta bisa menghentikan tindak kekerasan terhadap perempuan. Serta semoga film Mbatil bisa juara di lomba yang diadakan PW Fatayat NU Jawa Tengah,” harap Nik.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER