BETANEWS.ID, KUDUS – Jumlah remaja yang mengidap HIV AIDS di Kabupaten Kudus pada tahun 2020 ini cukup mengkhawatirkan. Sebab, berdasarkan temuan ada lonjakan angka dibandingkan tahun 2019 lalu.
Eni Mardiyanti, Case Manager HIV AIDS Kabupaten Kudus menyampaikan, Tahun lalu ada temuan sekitar 30 persen untuk usia remaja dari 158 kasus. Sedangkan pada tahun ini naik menjadi 40 persen.
“Secara umum jumlah kasus masih pada posisi yang sama pada tahun lalu di angka 121. Dibandingkan bulan yang sama, malah ada penurunan sedikit. Namun, justru terjadi lonjakan pada temuan kasus di usia remaja, dan itu remaja laki-laki usia 14-21 tahun,” ujar Eni saat berbincang di program podcast Zona Merah di Kantor Beta Media, Selasa (1/12/2020).
Baca juga : Puluhan Siswa di Jepara Positif Covid-19, Ganjar : ‘Tutup, Ora Usah Kesuwen’
Yang juga mengejutkan dari temuan tersebut, terungkap fakta jika pemicu dari kasus tersebut adalah faktor seks bebas sesama jenis. Bahkan, Eni menyebutkan, jika beberapa dari remaja itu merupakan pria idaman lain (PIL) atau simpanan dari om om.
Rata-rata, remaja ini berasal dari keluarga dengan kategori ekonomi menengah ke bawah. Faktor hidup dengan gaya glamour, menjadi salah satu pemicu remaja-remaja tersebut untuk melakukan seks bebas dengan sesama jenis.
“Rata-rata memang dari keluarga menengah ke bawah. Remaja ini kan terkadang pingin eksis, namun, kebutuhan untuk itu tidak bisa didapatkan dari orang tuanya. Sehingga, mereka rela “menjual diri” untuk mendapatkan uang, demi bisa beli pulsa, baju yang bagus, handphone dan ini itu,” ungkapnya.
Hal ini, menurutnya perlu menjadi perhatian bersama. Baik tenaga pendidik, orang tua, maupun masyarakat, agar anak-anak tidak melakukan hal demikian. “Ini PR kita bersama,” imbuhnya.
Kemudian, menurutnya Eni, yang perlu diwaspadai adalah kebebasan anak-anak mengakses internet. Sebab, di medesos, grup WA, masih banyak sekali ditemukan situs-situs porno yang masih mudah diakses oleh anak-anak. Sehingga, mereka tak jarang tergiur untuk mempraktikkan apa yang dilihatnya di internet tersebut.
Bahkan, dirinya juga pernah menemukan fakta jika banyak anak-anak yang sudah melakukan hubungan seks bebas di sebuah tempat lokasisasi terselubung.
“Saya pernah berbincang dengan seorang penjaja seks, sudah emak-emak lah. Dia bilang ke saya ketika itu, jika banyak anak-anak yang menggunakannya. Mereka terkadang berlima atau ramai-ramai, dan mereka iuran Rp 5-10 ribu,” sebutnya.
Yang tidak kalah miris, menurutnya, anak-anak tersebut belum mendapatkan edukasi seks yang benar. Sehingga, sangat rentan terhadap terjangkit dengan HIV.
Baca juga : Apresiasi Dedikasi Guru di Masa Pandemi, Hartopo : ‘Jasa Bapak dan Ibu Luar Biasa’
“Temuan saya itu, ketika mereka terdeteksi terinfeksi dengan kekebalan tubuh yang sangat rendah, di bawah 200. Artinya terkena HIV AIDS sudah tiga tahun lebih. Artinya lagi, jika sekarang usianya 15 tahun misalnya, berarti mereka terkena pada usia 12 tahun, yakni ketika masih SD atau baru lulus SD. Ini fakta yang terjadi,” beber Eni.
Lanjutnya, hal seperti ini perlu menjadi perhatian yang lebih dan menjadi tanggung jawab bersama. Menurutnya, peran sekolah sangat penting untuk memberikan edukasi kepada siswa terkait dengan pencegahan HIV AIDS. Perlu adanya edukasi secara massif kepada pelajar.
Jika saat ini edukasi tersebut sudah dilakukan, misalnya pada kegiatan penerimaan siswa baru, menurutnya hal itu perlu ditingkatkan lagi. Siswa tidak hanya mendapatkan edukasi selama tiga tahun hanya sekali ketika penerimaan siswa baru, tetapi lebih diintensifkan lagi.
Editor : Kholistiono

