BETANEWS.ID, KUDUS – Di sebuah teras rumah di tepi Jalan Rahtawu Raya Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, tampak beberapa batang dan akar kayu kering. Di antara kayu dan akar tersebut terlihat seorang pria sedang membersihkan satu batang kayu kering berbentuk unik. Pria tersebut yakni Suhardi (42) pemilik dari Hardi Art.
Sembari beraktivitas, pria yang akrab disapa Jumbo itu sudi berbagi kisah tentang usahanya. Dia mengatakan, Hardi Art menyediakan aneka kerajinan dari kayu dan batu. Menurutnya, khusus untuk kayu, ia sudah menekuni membuat aneka kerajinan dari limbah kayu itu sudah belasan tahun.

Baca juga : Perajin Miniatur Menara Kudus Kewalahan Penuhi Permintaan Pasar
“Kalau bikin kerajinan dari kayu sudah lama sekitar 18 tahun. Sempat berhenti juga, tapi kemudian saya tekuni lagi,” ujar Jumbo kepada Betanews.id, Selasa (1/11/2020).
Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu menuturkan, dulu sewaktu masih lajang dia bekerja seperti pada umumnya remaja lain di kampungnya, yakni merantau bekerja di proyek. Namun, karena ia merasa punya jiwa seni, kemudian ia coba memanifestasikan pada media kayu. Setelah hasil karyanya dia anggap layak, ia pun menjualnya.
Lebih lanjut kata dia, dari kayu itu dibuat berbagai macam produk seni, di antaranya patung kontemporer dengan gaya animisme – dinamisme primitifan. Di mana, gaya tersebut di dunia furniture itu sangat jarang. Misalnya yang sedang dibikin, yaitu patung naga terbang tapi berkepala manusia.
“Ada juga patung kuda terbang berkepala manusia, harimau terbang dan lain sebagainya,” beber Jumbo.
Dia menuturkan, untuk ide mengalir begitu saja, sebab kayu yang dijadikan aneka kerajinan itu adalah kayu limbah yang didapatkan di hutan. Bisa kayu limbah hasil penebangan, pohon yang sudah mati atau akar pohon. Jadi pembuatan aneka karya seni itu tergantung dari bentuk kayu yang ditemukan.
“Kalau kayu yang saya temukan itu bisa dijadikan patung saya bikin patung. Kalau tidak bisa, saya bikin produk furniture, misal meja dan kursi klasik, serta unik,” ungkapnya.
Karena mengusung konsep klasik, kata dia, untuk proses pembuatan produk furniture juga sangat unik dan berbeda dengan yang lainnya. Kalau orang sekarang bikin produk furniture itu pakai paku dan lem, Jumbo mengaku tidak menggunakannya. Dia hanya menggunakan pasak, dan diklaim tetap sama kuatnya.
Untuk harga produk furniture dan patung hasil karyanya ia jual mulai Rp 500 ribu sampai puluhan juta. Harga tergantung tema yang terdapat pada patung dan produk furniture. Sedangkan bahan kayu yang digunakan antara lain, kayu jati, sono keling, trengguli dan johar.
Baca juga : Di Tangan Soleh, Limbah Kayu Diolah Jadi Kerajaninan Bernilai Ekonomi
Dia mengatakan, selama ini pelanggannya sudah lumayan banyak. Selain orang Kudus juga ada beberapa pengusaha furniture dari Jepara. Tak jarang produk dari Hardi Art itu malah laku diekspor ke luar negeri oleh para pembeli. Dia berharap ke depan hasil karyanya makin diminati.
“Semoga saja karya saya makin diminati. Sehingga hasilnya nanti bisa saya bikin mendirikan musium tentang histori Gunung Muria,” harap Jumbo.
Editor : Kholistiono

