BETANEWS.ID, KUDUS – Detective Pen yang merupakan inovasi dari pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kudus akan diproduksi secara massal. Hal tersebut tak lain bertujuan agar zat-zat berbahaya yang terkandung dalam makanan bisa terdeteksi sejak dini. Sehingga hasil penelitian tersebut dapat bermanfaat bagi masyarakat secara luas.
“Kami berencana mematenkan dan memproduksinya secara masal. Dengam memproduksi secara massal, kami berharap penemuan itu bisa bermanfaat bagi masyarakat luas,” jelas Ginaris Sekar Arum Pinasti, satu di antara dua penemu Detective Pen.
Baca juga : Bolpoin Pendeteksi Zat Berbahaya pada Makanan Antarkan Pelajar MAN 2 Kudus Juara 2 NYIA 2020
Ia bercerita, jika penemuan yang berhasil menyabet juara 2 National Young Inventors Award (NYIA) Tahun 2020 pada 19 November 2020 itu, dibuat lantaran mereka menemui makanan yang warnanya terlalu pekat. Ia menduga kalau makanan tersebut menggunakan bahan pewarna sintetis.
“Setelah itu kami ingin tahu apa ada kandungan pewarna sintetis atau tidak di dalamnya. Lalu kami mencari tes kit pendeteksi di e-commerce ternyata harganya cukup mahal. Waktu itu, satu zat adiktif harganya Rp 200 ribu,” bebernya.
Kemudian, kedua siswi jurusan matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) MAN 2 Kudus itu mencari alternatif dengan membaca beberapa jurnal ilmiah. Dari sana mereka menemukan informasi jika ada bahan alami yang bisa mendeteksi zat-zat berbaya pada makanan.
“Setelah itu kami membuat Detective Pen dengan menggunakan bolpoin empat warna ini. Proses pembuatannya sekitar selama dua pekan. Pembuatan per satu bolpoin membutuhkan biaya sekitar Rp 10 ribu,” katanya, Kamis (26/11/2020).
Baca juga : Pelajar MAN 1 Kudus Buat Plastik Bisa Dimakan, Raih Medali Emas di Malaysia
Rekan satu timnya, Almas Fauziyah juga menambahkan terkait cara kerja Detective Pen. Jika ada makanan yang diindikasi memiliki kandungan borax, formalin, atapun pewarna sintetis, pengguna bisa menekan refill bolpoin yang dibutuhkan sesuai fungsinya. Kemudian mencampurkan ke sampel makanan tersebut.
“Detektor borax (refill ekstrak ubi ungu), jika warna ungu berubah menjadi hijau berati makanan tersebut mengandung borax. Untuk detektor formalin (refill ekstrak kulit buah naga), warnanya akan memudar jika makanan mengandung formalin. Dan detektor pewarna sintentis juga hampir sama dengan warna yang berubah dari warna sebelumnya,” tambahnya.
Editor : Kholistiono

