Dari Pelat Nomor, Wahyu Bisa Beli Mobil Impian hingga Membangun Rumah

BETANEWS.ID, KUDUS – Suara lalu-lalang kendaraan di tepi Jalan Raya Demak-Kudus, Karanganyar, Demak, mengiringi aktivitas seorang pria yang sedang memukul pelat besi. Ia tak lain adalah Arif Wahyu (28), pemilik Omah Letter. Sambil membentuk lempengan besi itu, dia berbagi kisah kepada betanews.id tentang usahanya.

Wahyu sapaan akrabnya, mulai membuka usaha pelat nomor sejak tahun 2014. Dari usaha variasi pelat nomor itu, dia saat ini sudah bisa membeli mobil impiannya dan membangun rumah sendiri.

Arif Wahyu sedang menyelesaikan garapan pelat nomor pesanan pelanggan. Foto: Ahmad Rosyidi

Baca juga : Banyak Pesanan Pelat Motor LED, Omzet Omah Letter Bisa Rp 4 Juta Sehari

-Advertisement-

“Dari Omah Letter ini saya bisa membeli mobil impian dan membangun rumah sendiri. Mobil yang saya beli Xpander, kemudian saya kasih tulisan hasile pilox,” katanya sambil tersenyum.

Sebelum usaha pelat nomor, pada 2011 dia juga pernah usaha jual beli burung beserta pakan burung. Kemudian setelah itu, Wahyu juga pernah ikut orang membuat kaligrafi selama lima bulan. Setelah itu baru ikut orang membuat pelat nomor sekitar dua tahun.

“Setelah punya pengalaman, baru saya buka sendiri di tahun 2014. Hingga sekarang saya punya tiga cabang di daerah Demak. Yang di Karanganyar ini baru awal tahun 2020. Kalau cabang, sistemnya bagi hasil per pekan,” jelasnya beberapa hari yang lalu.

Selain pelat nomor, Wahyu juga melayani pembuatan stempel. Meski banyak pesanan, hingga saat ini cabang barunya masih dia pegang sendiri. Hal itu dikarenakan dirinya belum menemukan orang yang cocok.

“Yang jelas saya ingin menjaga kualitas. Hingga saat ini belum ada karyawan yang cocok jadi masih saya kerjakan sendiri. Pernah hingga 4 kali ganti karyawan karena hasilnya kurang maksimal,” terang warga Desa Cangkring B, RT 01 RW 02, Kecamatan Karanganyar, Demak itu.

Baca juga : Niat Awal Jadi Guru, Ali Justru Sukses di Rajane Es Krim yang Kini Punya 2 Outlet

Risikonya, saat banyak pesanan dia merasa kewalahan. Jika terlambat dalam proses pengerjaan, dirinya sering terkena amukan pelanggan.

“Risikonya ya kalau telat jadi dimarahin pelanggan, dan itu sudah menjadi hal biasa, karena saya mengutamakan kualitas. Yang penting pelanggan puas dengan hasilnya,” jelas bapak dua anak itu.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER