BETANEWS.ID, KUDUS – Teriknya matahari seperti tak pernah menyurutkan semangat dua orang di area lahan pembuatan bata merah, Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Dua orang itu terlihat berbagi tugas, yang satu mengolah tanah agar pulen, sedangkan pria lainnya mencetak bata merah. Satu di antara pria tersebut yakni Burngawi (50) pembuat bata merah, yang resah dengan maraknya bata ringan atau herbel.
Sembari melanjutkan aktifitasnya, Burngawi pun sudi berbagi penjelasan tentang pendapatnya tersebut. Dia mengatakan, dengan maraknya keberadaan bata ringan, memang sangat berpengaruh terhadap usaha pembuatan bata merah. Lantaran banyak bangunan yang beralih menggunakan herbel.

“Sejak maraknya bata ringan penjualan bata merah kami turun sekitar 30 persen. Penjualan bata merahnya pun butuh waktu lebih lama dari sebelum ada bata ringan,” ujar Burngawi kepada Betanews.id, Rabu (16/9/2020).
Baca juga: Sudah Uji Lab, Paving Produksi UD Noor Jaya Kualitasnya Tak Perlu Diragukan
Warga Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu menambahkan, bila dulu sebelum ada herbel, bata merah belum dicetak saja sudah banyak yang pesan. Bahkan, yang belum kering dan belum dibakar sudah dibayar lunas orang. Sekarang bata merah sudah jadi, terkadang juga masih nunggu hingga sebulan baru laku.
“Dulu sebelum ada bata ringan, banyak bakul dari Pati dan Jepara ke sini mborong bata merah. Mereka datang bawa truk, beli bata merah sekalian pesan dan bayar lunas bata yang belum dibakar. Sekarang hampir tidak ada sama sekali,” ungkapnya.
Pria yang dikaruniai satu anak itu menuturkan, meski banyak orang yang bangun rumah pada musim kemarau, tapi tidak mampu mengatrol penjualan bata merah. Sebab, selain adanya bata ringan, pada musim kemarau yang memproduksi bata merah juga banyak. Bisa dibilang musim kemarau itu panennya bata merah.
“Karena banyaknya bata merah, pada musim kemarau harga bata merah pun turun. Jika di musim penghujan harga bata merah bisa sampai Rp 730 ribu per seribu bata, harga sekarang hanya Rp 680 ribu dengan jumlah bata yang sama,” bebernya.
Baca juga: Batu Bata Produksi Bagus Lebih Awet dan Tidak Mudah Mengapur
Dia mengatakan, dalam sehari ia bersama rekannya bisa mencetak sekitar 1,7 ribu bata merah. Bata tersebut akan kering dalam waktu tiga hari. Setelah terkumpul total 40 ribu, bata yang tercetak itu kemudian dibakar. Sedangkan tanah sebagai bahan dasar bata merah, diakuinya beli dari Jepara.
“Kami berharap semoga bata merah tetap diminati sebagai bahan untuk bangun rumah dan sebagainya. Serta semoga saja harganya bisa naik lagi,” tukas Burngawi.
Editor: Ahmad Muhlisin

