31 C
Kudus
Kamis, Februari 12, 2026

Batu Bata Produksi Bagus Lebih Awet dan Tidak Mudah Mengapur

BETANEWS.ID,KUDUS – Tumpukan sekam terlihat di tepi Jalan Lingkar Kudus-Jepara, tepatnya di Desa Kedungdowo RT 02 RW 03, Kecamatan Kaliwungu,Kabupaten Kudus. Seorang pria mengenakan caping dengan tumpukan tanah liat di sampingnya tampak sedang mencetak batu bata. Pria tersebut adalah Bagus Anusa Pradana (27) pemilik usaha produksi batu bata. Bagus, begitu dia akrab disapa sudi berbagi cerita kepada betanews.id tentang usahanya.

Batu bata yang diproduksi di tempat Bagus di Desa Kedungdowo, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Foto : Ahmad Rosyidi

Usaha tersebut sudah dirintis ayahnya sejak 35 tahun yang lalu. Berawal dari kawasan yang tanahnya tinggi, kemudian mendapat ide untuk mengolah tanah di sana menjadi batu bata. Tetapi saat ini, tanah di tempat itu sudah tidak diperbolehkan untuk diolah menjadi bahan batu bata. “Jadi sejak dua tahun yang lalu, kami harus membeli tanah untuk bahan baku produksi batu bata ini,” ungkapnya.

Saat ini, Bagus membeli tanah dari daerah Jepara dan Kudus. Sedangkan sekam membeli dari Demak dan Semarang. Dia juga mengungkapkan, untuk membeli tanah ada proses seleksinya demi menjaga kualitas produk. Dia tidak ingin mengecewakan pelanggan jika menggunakan bahan baku yang kurang baik.

-Advertisement-

“Kadang kan ada tanah yang tidak bagus untuk dibuat batu bata, seperti tanah yang ada campuran pasirnya. Saya sudah tujuh tahun ikut berkecimpung mengurus usaha ini, jadi saya cek dulu jika membeli bahan baku,” jelasnya, Senin (10/2/2020).

Saat ini, produknya sudah dipasarkan hingga daerah Jakarta, Bali, Jogja, Pekalongan, dan sekitar Karesidenan Pati. Harga batu bata per seribunya Rp 625 ribu dan ada bonus 10 biji untuk pembelian per seribunya. Menurut Bagus, kelebihan dari produknya yaitu lebih awet dan tidak mudah mengapur.

Saat hujan, produksi batu batanya menurun, karena terkendala dalam proses pengeringan. Selain itu, penjualan juga ikut menurun hingga 30 persen. Dalam satu bulan, saat musim panas dia bisa menjual hingga 100 ribu lebih batu bata.

“Tetapi saat musim hujan, penjualan menurun jadi 70 ribu per bulan. Jika produksi manual seperti saat ini, dalam sehari bisa seribu biji, tapi kalau menggunakan mesin, per hari bisa 15 ribu. Saat musim hujan kami terhambat dalam proses pengeringan, jadi produksi kami menurun,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER