Desa Wisata Bisa Jadi Solusi Atasi Pengangguran Selama Pandemi

BETANEWS.ID, KUDUS – Desa wisata di Kudus didorong agar bisa berjalan secara mandiri melalui pengembangan potensi lokal. Tujuannya, jika sudah mandiri bisa jadi solusi ekonomi warganya.

Peneliti Senior Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Provinsi Jawa Tengah, Mursyid Zuhri menuturkan, dengan mandirinya desa wisata, proses pengembangan akan lebih mudah. Setelah mandiri, desa wisata tidak perlu lagi menunggu kucuran dana dari pemerintah untuk pengembangan.

Forum Diskusi Aktual dengan tema Optimalisasi Desa Wisata dalam Pembangunan Desa di Balai Desa Jepang, Mejobo, Kudus, Jumat (11/9/2020). Foto: Imam Arwindra

“Masyarakat harus dipupuk untuk lebih semangat memajukan desanya. Selanjutnya, mereka mengidentifikasi potensi unggul mulai dari segi ekonomi dan budaya,” tuturnya saat kegiatan Forum Diskusi Aktual dengan tema Optimalisasi Desa Wisata dalam Pembangunan Desa di Balai Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jumat (11/9/2020).

-Advertisement-

Baca juga: Desa Wisata di Kudus Bisa Ajukan Bantuan Alkes ke Pemkab

Selanjutnya, dalam pengembangan desa, masyarakat harus sering dilibatkan dan diberdayakan. Terlebih saat pandemi Covid-19 banyak perkerja yang biasanya bekerja di kota, harus pulang ke desa karena pandemi. Makanya, pengembangan potensi desa, baik bidang pertanian, industri, dan wisata diharapkan bisa menghidupi warganya.

“Ya mau tidak mau, desa harus menghidupkan semua potensi yang ada,” terangnya.

Mursyid melanjutkan, selain berharap dapat dikelola secara mandiri, sebenarnya terdapat bantuan mulai dari pemerintah kabupaten hingga pusat. Selain itu, dana desa pun bisa dipergunakan khususnya untuk pembangunan infrastruktur. Namun, tentu dalam proses pengajuannya terdapat mekanisme khusus yang mengaturnya.

“Kalau dana desa bisa dipakai untuk infrastruktur. Termasuk pengembangan pemberdayaan desa agar bisa menjadi desa mandiri,” jelasnya.

Baca juga: Mutrika, Perajut Mimpi Desa Wisata di Kudus

Sementara itu, selain mengundang perwakilan dari Bappeda Provinsi Jawa Tengah untuk menjadi pemateri, diskusi juga mendatangkan Anggota DPRD Jateng Mawahib dan pemerhati budaya dari IAIN Kudus Abdul Jalil.

Menurut Anggota DPRD Jateng Mawahib, pihaknya mendorong agar pemerintah desa dapat mengembangkan potensi yang ada. Terutama bagi desa yang sudah memiliki wisata.

“Pemerintah desa bisa lebih dieksplor lagi potensi yang ada. Dukungan anggaran tentu ada. Akan tetapi, yang pertama kali memberikan dukungan penganggaran yakni dari pemerintah desanya sendiri,” tuturnya.

Terlebih saat kondisi pandemi seperti ini, pemerintah dan masyarakat harus berpikir keras bersama-sama agar perekonomian di desa tetap jalan.

“Ini supaya masyarakat desa tetap berpenghasilan,” jelasnya.

Baca juga: Disbudpar Bekali Pengelola Rintisan Desa Wisata di Kudus

Sementara itu, pemerhati budaya dari IAIN Kudus Abdul Jalil menambahkan, pengembangan potensi desa memang harus dipersiapkan dan direncanakan. Dia mencontohkan, Desa Jepang memiliki potensi di bidang kerajinan bambu.

Menurutnya, ada hal kecil namun menarik yang bisa dilakukan. Yakni memperbanyak jenis tanaman bambu di sudut-sudut desa. Dengan banyaknya jenis tanaman bambu, wisatawan akan datang dan Desa Jepang benar-benar akan menjadi sentra bambu.

“Kalau sudah banyak tanaman bambu. Baru dikembangkan menjadi lokasi kuliner dan kerajinan dari bahan bambu. Jadi Desa Jepang nanti benar-benar akan menjadi sentra bambu,” pungkasnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER