BETANEWS.ID, KUDUS – Di belakang rumah di Desa Cendono RT 4 RW 6, Kecamatan Dawe, Kudus tampak seorang perempuan dan laki-laki sedang sibuk. Terlihat mereka sedang menggergaji bambu kemudian melubangi dan merangkainya. Perempuan tersebut adalah Solikah (40), perajin aneka furnitur dari bahan bambu.
Sembari melakukan aktivitasnya, perempuan yang akrab disapa Mbak Sol itu menuturkan, mulai produksi aneka furnitur dari bambu sejak akhir 2019 di Salatiga. Setelah usahanya jalan triwulan di Kota bersemboyan Hati Beriman, kemudian ia pindah ke Kudus atas permintaan ibunya.

“Sebenarnya furnitur bambu di Salatiga lumayan laris. Namun, karena ibu saya meminta pulang kampung. Dengan niat lilllahi ta’ala demi orang tua,” ujar Mbak Sol kepada Betanews.id, Selasa (18/8/2020).
Perempuan yang sudah dikaruniai lima anak itu menuturkan, tinggal di kota berjuluk Indonesia Mini sejak 2003. Namun, karena perusahaann tempat ia bekerja bangkrut, ia pun terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).
Baca juga: Terkenal Berkualitas dan Murah, Furnitur Bambu Mbak Sol Tembus Pasar Ekspor
“Usai menganggur itulah saya beserta suami, merintis usaha membuat furnitur berbahan bambu di Salatiga. Lumayan laris, hingga ibu saya bertitah agar saya pulang ke Kudus saja. Hidup dekat sama ibu, sebab ibu sudah tua,” ungkapnya.
Dia mengatakan, sebenarnya sempat berpikir mungkinkah nanti di Kudus hasil karyanya itu diminati banyak orang apa tidak. Namun, demi pengabdian dan ingin memenuhi permintaan orang tua, dia pun mantab pindah ke Kudus.
Sesampai di tanah kelahiran, dengan mengandalkan media sosial Facebook, ia pun memasarkan hasil produknya. Dia bersyukur ternyata peminatnya tetap banyak. Bahkan orderan yang datang lebih banyak dari saat masih di Salatiga. Orderan mengalir deras dari dulu hingga sekarang.
Dia menuturkan, membuat aneka produk dengan bahan bambu, di antaranya gazebo yang dibanderol mulai Rp 1,5 juta sampai Rp 3 juta tergantung ukuran. Meja bambu dijual Rp 100 ribu untuk yang besar. Sedangkan yang ukuran kecil dipatok harga Rp 50 ribu.
Baca juga: Kualitas dan Harga Murah, Kunci Noto Mebel Bisa Bertahan Lebih 20 Tahun
Kursi bambu dijual dengan harga Rp 100 ribu sampai Rp 125 ribu untuk yang pendek. Sedangkan kursi ukuran panjang harganya Rp 150 ribu hingga Rp 250 ribu. Harga tergantung model. Menurutnya, selain menjual perabot berbahan bambu secara ecer juga menjual secara paket.
“Paket itu terdiri dari meja satu kursi pendek dua dan bangku panjang satu. Harganya kami patok Rp 600 ribu untuk bahan bambu wulung hitam. Kalau bahan bambu tutul bisa lebih murah yakni Rp 500 per set,” bebernya.
Lebih lanjut, ia juga menerima pesanan pembuatan tangga bambu yang dibanderol Rp 70 ribu, untuk ukuran panjang tiga meter. Sedangkan untuk ukuran lima meter dibanderol Rp 100 ribu. Dia juga menjual jemuran bambu lipat dengan harga Rp 100 ribu. Serta gelas bambu satunya dijual Rp 10 ribu.
Baca juga: Bisnis Rosoknya Bangkrut, Maryono Bangkit dengan Usaha Mebel Jati Belanda
Dia menuturkan, aneka produknya itu kini mulai dikenal. Bahkan pelanggannya juga sudah banyak. Selain orang Kudus juga ada pemesan dari Pati, Jepara, Demak, dan kota lainnya. Bahkan, tuturnya, usaha furnitur berbahan bambu itu tidak kena imbas virus corona. Menurutnya, orderannya kini catatannya masih panjang.
“Alhamdulillah, usaha saya ini tidak terimbas sama corona. Pandemi no efek, orderan listnya masih panjang,” tutupnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

