BETANEWS.ID, KUDUS – Aroma khas jenang langsung tercium saat memasuki kawasan produksi Jenang Mubarok di Jalan Sunan Muria No 33, Desa Glantengan, Kecamatan Kota Kudus. Beberapa karyawan pria di bagian produksi tampak sibuk menjaga mesin pengaduk jenang. Mesin mixer yang dirancang khusus untuk pengolahan jenang itu akan terus beroperasi selama lima jam, sampai jenang benar-benar matang.
Manajer Marketing Jenang Mubarok M Kirom menjelaskan, setiap mixer mampu menampung 40 kilogram adonan. Suhunya mencapai lebih dari 100 derajat celcius yang diatur melalui tungku kayu bakar. Dalam kondisi normal, Mubarok Food bisa mengolah sekitar 2 ton jenang berbagai varian tiap harinya. Akan tetapi, akhir-akhir ini dikatakan berkurang hingga 40-50 persen.
“Jadi bahan-bahan yang berupa gula, santen kelapa, tepung beras ketan dimasak dan diaduk selama 5 jam. Setelah itu diangkat dan didiamkan selama semalam. Baru besoknya siap untuk dipotong dan dikemas. Proses itu untuk menghilangkan uap air, supaya jenang-jenang yang diproduksi tidak cepat berjamur,” paparnya, Kamis (6/8/2030).
Setelah didiamkan itulah, baru kemudian dikemas menjadi berbagai jenis jenang yang diproduksi oleh Mubarok Food. Termasuk cokelat dodol Claszeto atau jenang bentuk Menara yang digemari pecinta jenang. Menurutnya, pemilihan kombinasi ini karena cokelat disukai anak-anak muda dan tidak meninggalkan khas Kudus yaitu jenang.
Baca juga: Mengenal Kudus Lebih Dekat Lewat Museum Jenang
“Jika cokelat kebanyakan isinya mete, kacang, dan lain-lain, kita ganti dengan jenang. Kalau kita lihat-lihat di berbagai negara, identitas atau bangunan ikoniknya juga banyak jadi inspirasi bentuk makanan khas,” papar dia.
Sambil memperlihatkan produk yang dimaksud, Kirom melanjutkan, yang menarik dari produk cokelat Menara ini adalah ada sejarah Menara Kudus di kemasannya. Inovasi tersebut muncul dari ide untuk mengenalkan ikon budaya Kudus itu. Menurutnya, inovasi ini menjadikan produk jenang tidak hanya berfungsi sebagai kudapan saja, melainkan bisa jadi produk edukasi budaya, souvenir, dan oleh-oleh.
“Ide-ide itu muncul karena kita selalu melihat kebutuhan pasar. Di era milenial semacam ini, kita tidak boleh berhenti dan puas dengan produk lama. Tetapi melihat bahwa pasar butuh sesuatu yang baru. Meskipun secara bahan dasar masih memakai jenang. Dan saat ini, coklat merupakan produk yang paling strategis untuk dipasarkan,” ungkap dia.
Selain cokelat bentuk menara, Mubarok Food juga terus berinovasi untuk mendekatkan diri pada target pasar, hingga Jenang Mubarok masih terus eksis di usianya yang genap 110, pada 2020 ini. Kirom menyebut sudah ada sekitar 10 inovasi produk, yang keseluruhannya memiliki varian rasa yang bermacam-macam.
“Sebisa mungkin setiap tahun pasti ada inovasi baru. Kalau inovasi ada sekitar 10an sudah kita lakukan dari tahun 2010. Mulai dari Brownies Jenang, Bakpia Jenang, dan yang paling baru adalah Cookies Jenang. Dari semua inovasi kombinasi tersebut, masing-masing memiliki berbagai varian rasa,” ungkapnya.
Meski sudah ada banyak varian produk, Kirom membeberkan, produk yang paling laris di Mubarok Food adalah Sinar Tiga-Tiga yang dipasarkan pertama kali pada 1936. Sedangkan untuk jenang varian, beberapa tahun terakhir yang laris adalah varian rasa mocca.
“Yang paling laris masih pada posisi Jenang Sinar Tiga-Tiga yang dibungkus pakai kertas putih. Itu masih paling tinggi penjualannya. Favorit pembeli lain jatuh pada olahan produk jenang kombinasi. Variannya beraneka ragam, seperti rasa mocca,” pungkas dia.
Editor: Ahmad Muhlisin


