BETANEWS.ID, KUDUS – Klepon Hijrah kreasi peserta BLK Pondok Pesantren Entrepreneur Al Mawaddah mendapat sambutan yang bagus dari masyarakat Kudus. Sejak dikenalkan bulan lalu, pesanan banyak berdatangan di pesantren yang berada di Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus itu.
Pengasuh Pesantren Entrepreneur Al Mawaddah KH Sofyan Hadi (45) mengatakan, yang membedakan klepon hijrah dengan klepon kebanyakan adalah penggunaan buah kurma untuk isi yang dicampur dengan gula merah. Menurutnya, klepon hijrah ini merupakan perpaduan dua budaya yaitu Jawa dan Arab.

“Awalnya ya, karena viral klepon tidak islami itu. Terus kemudian peserta pelatihan punya ide membuat klepon yang islami, di mana isinya itu berupa kurma dan gula aren,” bebernya saat ditemui, Rabu (29/7/2020).
Baca juga: Segar di Mulut Aman di Perut, Es Mie Telur Jelly di Kedai Azzam Diburu Pembeli
Setelah jadi dan diposting di channel Youtube pesantren, ternyata mendapat sambutan yang bagus dari masyarakat. Pesanan pun banyak berdatangan ke peserta atau ke pesantren. Dirinya menduga, banyak pesanan itu lantaran mereka pada penasaran dengan rasa klepon isi kurma tersebut.
“16 peserta pelatihan itu sudah terampil bikin klepon itu, dan mereka juga sudah dapat pesanan masing-masing. Selain itu, pemesanan juga bisa melalui admin pesantren,” ungkap Sofyan.
Baca juga: 35 Tahun Jadi Primadona, Kunci Sukses Jagung Bakar Paini Ada di Sambal
Sofyan melanjutkan, klepon sebenarnya salah satu makanan tradisional yang mengajarkan hal baik. Karena saat memakannya harus menutup mulut, tidak sambil bicara. Karena kalau sambil bicara isinya akan muncrat.
“Produk ini cuma inovasi dari klepon biasa. Hanya isinya yang diganti, tapi tetap menggunakan tambahan gula aren,” pungkas dia.
Editor: Ahmad Muhlisin

