BETANEWS.ID, KUDUS – Beberapa pria tampak sedang memilih kaus yang sedang dipajang di sebuah toko. Mereka berjalan dari satu rak baju ke rak baju lainnya demi menemukan pakaian yang diimpikan. Di sisi lain, dua karyawan wanita terlihat sibuk menata ulang beberapa produk. Toko tersebut adalah Toko Wong Djowo, pusat kaus oleh-oleh khas Kudus yang berada di Jalan Sunan Muria, Desa Glantengan, Kecamatan Kota Kudus.
Salah seorang karyawan, Rini Kusuma (34) mengatakan, di toko yang sudah berdiri sejak 2007 tersebut ada sekitar 1.000 stok kaus yang siap untuk dibeli. Untuk harganya sendiri, dikatakan Rini cukup terjangkau dengan kualitas yang bagus.

“Kalau brandnya memang dari awal kita konsep yang ramah kantong. Tapi tetap berkualitas dan nyaman untuk dipakai. Bahannya sendiri dari soft carded, sift cotton combed. Harganya pun variatif, ya. Dari yang untuk anak-anak sama dewasa bedanya tak lebih dari Rp 70 ribu,” papar Rini, Kamis (25/6/2020).
Baca juga: Wong Djowo, Kaus Oleh-Oleh Khas Kudus untuk Lestarikan Bahasa Jawa
Sambil memperlihatkan beberapa produk yang dimaksud, Rini merinci harga kaus di toko tersebut. Mulai dari kaus untuk anak-anak dijual dengan harga Rp 25 ribu sampai dengan Rp 50 ribu. Kaus untuk dewasa dimulai dari harga Rp 30 ribu sampai dengan Rp 55 ribu. Sedangkan untuk kaus lengan panjang dari harga Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu.
“Dari semuanya itu, ada harga spesial lagi. Masuknya harga paket. Ada beberapa kaus yang masuk spesial paket. Di kaus anak-anak itu dengan Rp 50 ribu dapet 3 buah. Di kaus dewasa dengan Rp 100 ribu dapet 4 kaus. Kalau yang nggak masuk paket itu ada potongan harga sebesar 10%,” ungkap dia.
Baca juga: Saptaria Fashion, Produksi Hijab Premium Harga Miring
Selain kaus, di toko tersebut juga menjual gamis, kerudung, daster, tas, hingga gantungan kunci. Dikatakan Rini, gantungan kunci itu produk asli Wong Djowo, sedangkan untuk yang lain diambil dari pedagang. Meskipun begitu, mereka sempat uji coba membuat daster yang seketika langsung habis.
“Jadi semua produk selain kaus sama gantungan kunci, itu ngambil dari pedagang. Cuma, harganya masih terjangkau juga. Kalau daster, kami kemaren buat desain daster. Istilahnya tester. Itu langsung habis. Rencananya nanti akan dibuat lebih banyak,” tukas dia.
Editor: Ahmad Muhlisin

