BETANEWS.ID, KUDUS – Suara canda tawa terdengar di Ruang Laboratorium Matematika Universitas Muria Kudus (UMK). Tiga orang yang sedang bermain monopoli matematika (Politika) di sana, terlihat sedang menertawakan seorang pria yang kena hukuman. Pria itu adalah Miqdam Maulana (21), satu di antara empat orang yang membuat permainan Politika.
Miqdam, sapaan akrabnya menjelaskan, jika selain Politika kelompoknya juga membuat Sempoa Matematika (Sempatik). Sempoa itu mereka buat untuk anak berkebutuhan khusus. Saat proses pembuatan, mereka juga konsultasi kepada guru di Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB).

Baca juga : Mahasiswa UMK Ini Bikin Belajar Matematika Lebih Asyik dengan Permainan Monopoli
“Jadi Sempatik ini kami buat bersamaan dengan Politika. Tapi yang lebih dikenal yang politikanya. Padahal lebih susah ini membuatnya, karena kami perlu belajar angka brile,” katanya kepada betanews.id beberapa hari yang lalu.
Sambil menunjukan Sempatik, dia melanjutkan ceritanya. Mereka belajar angka brile selama dua pekan. Setelah itu mereka membuat pola untuk sempoa dengan tiga bentuk sebagai tanda satuan, puluhan dan ratusan.
“Bentuk kubus ini satuan, segitiga puluhan, dan lingkaran sebagai ratusan. Jadi sempoa ini untuk berhitung anak tunanetra. Selain anak berkebutuhan khusus, untuk anak yang susah belajar berhitung juga bisa menggunakan ini,” terangnya.
Menurutnya, hal yang paling sulit saat proses pembuatan adalah bagian pemasangan angka brile. Karena jika tidak pas bisa merubah angkanya. Sehingga pemasangan angka harus tepat pada lingkaran yang ada pada gambar.
Baca juga : UMK Siapkan Dana Sekitar Rp 5 Miliar untuk Bantu UKT Mahasiswa
Sinta Herawati (21), yang juga tergabung di kelompoknya, menambahkan, bahwa Sempatik hingga saat ini belum pernah mereka lakukan uji coba. Hal itu dikarenakan sekolah SDLB saat ini masih belum aktif. Selain itu, mereka juga sedang fokus mengembangkan Politika terlebih dahulu.
“Untuk Sempatik ini belum tahu hasilnya, apakah sudah maksimal digunakan anak-anak berkebutuhan khusus. Mungkin ke depan akan kami coba praktik langsung, jika masih ada kekurangan bisa kami perbaiki,” ungkap Sinta sapaan akrabnya.
Editor : Kholistiono

