BETANEWS.ID, KUDUS – Pria renta dengan rambut, kumis, serta jenggot yang semuanya memutih tampak sibuk, siang itu. Dengan telaten, dia merangkai satu bilah bambu dengan bilah lainnya. Di sampingnya terlihat beberapa layangan berbentuk burung. Pria tersebut yakni Parwan (80) perajin layangan aneka karakter.
Dia mengatakan, sudah 10 tahun jadi perajin layangan berbentuk petekan dan layangan berbagai karakter. Menurutnya, di musim kemarau atau menjelang Agustus, ia lebih memilih fokus hanya membuat layangan berbagai karakter.

“Menjelang Bulan Agustus saya lebih memilih produksi layangan aneka bentuk karakter. Sebab hasil uangnya lebih banyak dari pada memproduksi layangan petekan,” ujar Parwan kepada Betanews.id, Selasa (21/7/2020).
Baca juga: Peminat Kerajinan dari Bambu Hanya Moment Tertentu, Hadi Ikuti Permintaan Pasar
Warga Desa Ploso, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus itu menjelaskan, jika memproduksi layangan petekan, sehari ia mampu membuat 30 layangan. Sedangkan untuk layangan aneka karakter, ia hanya bisa memproduksi empat layangan sehari.
Meski hanya empat, lanjutnya, memproduksi layangan karakter hasil uangnya lebih banyak. Sebab satu layangan karakter dijual dengan harga Rp 40 ribu. Sedangkan layangan petekan dibanderol seribu per satu layangan.
“Produksi layangan karakter saya bisa mendapatkan uang sekitar Rp 160 ribu sehari. Kalau produksi layangan petekan saya hanya dapat uang Rp 30 ribu sehari penuh. Jadi hasilnya itu lima kali lebih besar,” ungkap pria yang dikaruniai tiga anak itu.
Baca juga: Mbah Parwan, Perajin Layangan Beraneka Bentuk Sejak Puluhan Tahun Silam
Dia menuturkan, pada musim kemarau itu merupakan musimnya orang bermain layangan. Layangan karakter banyak diminati, begitu juga dengan layangan petekan. Namun karena alasan nilai ekonomi, ia lebih memilih produksi layangan berkarakter.
“Sebenarnya yang datang cari layangan petekan banyak. Namun, karena memang tidak produksi jadi banyak pelanggan yang kecewa,” tutup Mbah Parwan.
Editor: Ahmad Muhlisin

