Beranda blog Halaman 1992

Nitisemito, Radja Rokok Kretek Asal Kudus (3)

0

Istananya Kini Tak Terawat


KESUKSESAN Nitisemito sebagai pengusaha rokok kretek dengan merek Bal Tiga sebelum masa kemerdekaan, membuat sang maestro ini membangun megah “istananya-istananya”. Tak hanya satu, dia membangun Omah (rumah) Kembar, dan satu Omah Kapal. Namun, ketiga istananya tersebut, kini tampak tak terawat, bahkan, hampir roboh.


Di masanya, istana-istana Nitisemito sangat mentereng dibanding dengan bangunan lain di Kudus, khususnya rumah hunian. Omah Kembar dibangun di Jalan Sunan Kudus, Desa Demaan dan Janggalan, Kecamatan Kota. Sedangkan Omah Kapal, ia bangun di Jalan KHR Asnawi, Desa Damaran, Kecamatan Kota. 


Omah Kembar dibangun masa kolonial Belanda dengan mengapit Sungai Kaligelis. Jika dilihat dari arah utara, atau dari jembatan Kaligelis, terlihat seperti rumah yang terbelah sungai. Rumah di sebelah barat, secara administratif masuk ke Desa Demaan, sedangkan di sebelah timur, masuk ke Desa Janggalan. Di dalam ke dua rumah tersebut terdapat berbagai perabot rumah yang mewah, di antaranya bermacam piring dan guci. Dan yang membuat dua rumah itu sangat dikenal, karena lantai rumah terbuat dari susunan uang logam.


Berdasarkan pengamatan dari luar, rumah tersebut tampak tak berpenghuni. Cat tembok rumah tersebut tampak lusuh. Bahkan, di rumah sebelah barat sungai, pagar rumah tampak miring dan hampir roboh. Namun, dilihat dari kejauhan, di atas atap rumah masih terlihat simbol Bal Tiga, sebuah tanda bahwa rumah tersebut adalah “istana” milik sang Raja Rokok Kretek.


Sedangkan Omah Kapal, dibangun pada sekitar tahun 1930. Rumah yang dibangun dengan arsitektur modern tersebut, sangat mirip dengan sebuah kapal laut. Rumah itu sengaja dibangun mirip dengan kapal laut untuk mengenang perjalanan dirinya pada saat berangkat haji ke Mekah. Bangunan rumah itu dibuat sangat mirip dengan kapal laut yang membawa Nitisemito saat berangkat haji.


Namun, sayangnya, kondisi bangunan antik tersebut sudah tidak terawat lagi. Atap bangunan telah roboh, beberapa bagian dinding roboh, dan hampir tidak berbentuk lagi. Bahkan, sisa bangunan itu, kini dipenuhi dengan tumbuhan rumput dan ilalanga. Omah Kapal, kini tidak bisa dilihat lagi dari luar, karena tertutup tembok yang mengelilingi bangunan. Berdasarkan pengamatan, kini, tempat tersebut dibuat untuk gudang pengolahan kayu.

Masuk BCB

Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Sancaka Dwi Supani menyatakan, tiga istana Nitisemito itu sebetulnya telah dinyatakan sebagai Bangunan Cagar Budaya (BCB), pada tahun 1998. Nemun, kepemilikannya masih dipegang oleh perorangan, ahliwaris Nitisemito.


“Berdasarkan Undang-Undang nomor 5 tahun 1992 tentang Bangunan Cagar Budaya, seharusnya pemilik merawat bangunan bersejarah tersebut. Kuudus sebagai kota industri, lebih spesifik sebagai Kota Kretek, ketiga bangunan tersebut mempunyai nilai historisitas yang sangat tinggi. Dan dapat menegaskan Kudus sebagai pelopor dan perintis industri rokok kretek di Indonesia,” kata Supani, kemarin.


Selain itu, menurut Supani, tempat itu sebetulnya dapat dijadikan salah satu destinasi wisata di Kudus. Selain Menara Kudus dan Museum Kretek, bangunan tersebut dapat menarik wisatawan untuk datang ke Kudus, menikmati bangunan-bangunan bersejarah yang mempunyai nilai edukasi.


Terkait dengan terbengkelainya istana-istana Nitisemito itu, pihaknya mengaku pernah memperingatkan pemilik bangunan, untuk menjaga dan merawatnya. Namun, pemilik mengaku terkendala biaya perawatan, karena banguanan yang ada sangat besar, sehingga membutuhkan dana yang besar pula. (Mase Adi Wibowo)

- advertisement -

Nitisemito, Radja Rokok Kretek Asal Kudus (2)

0

Runtuh Karena Perselisihan Generasi


KEJAYAAN Nitisemito dengan rokok Bal Tiga, akhirnya sedikit demi sedikit mengalami keruntuhan. Berbagai faktor mempengaruhi usaha rokok yang menjadi perintis dan pelopor bagi usaha pembuatan dan industrialisasi rokok di Kudus dan daerah lain itu. Di antaranya, suasana politik pada masa sebelum dan sesudah kemerdekaan, dan perselisihan keluarga pewaris Rokok Bal Tiga, serta munculnya para pesaing baru.


Sebelum mengalami surut dalam mempertahankan kejayaannya, Nitisemito adalah pengusaha rokok kretek pertama yang sangat sukses. Rokok Bal Tiga yang menjadi brand rokok yang sangat terkenal pada masa sebelum kemerdekaan itu, tidak hanya dikenal di Indonesia, namun juga beberapa negara di kawasan Asia Tenggara. Rokok Bal Tiga, secara resmi berdiri pada tahun 1914, dengan peresmian pabrik baru di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, yang saat ini menjadi gedung Jamaah Haji Kudus (JHK). 


“Sekitar delapan tahun menjalankan usahanya, Nitisemito berhasil membangunn pabrik baru di atas lahan seluas 6 hektar. Di pabrik itu, Nitisemito mempekerjakan sekitar 10 ribu pekerja, dengan total produksi 10 juta batang setiap hari.” tutur Suyanto, Kepala Unit Pelaksana Teknis Museum Rokok Kudus. Selain merekrut pekerja asal pribumi, dia juga merekrut tenaga pembukuan asal Belanda. Sedangkan karyawan pribumi, ditempatkan sebagai tenaga terampil dalam pembuatan rokok kretek dan pemasaran.


Suyanto menambahkan, pada masa kejayaannya, Rokok Bal Tiga merambah pasar di berbagai daerah di Indonesia, di antaranya, di Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, Kalimantan. Bahkan, Rokok Bal Tiga, juga merambah di luar negeri, ssalah satunya di Singapura dan Malaysia. 


Menjelang masa kemerdekaan, pabrik-pabrik rokok baru mulai muncul di Kudus. Menurut Suyanto, tercatat, sekitar ada 12 perusahaan rokok besar, 16 perusahaan menengah, dan tujuh pabrik rokok kecil (gurem). Di antara pabrik besar itu adalah Rokok Goenoeng Kedoe milik M Atmowidjojo , Rokok Delima milik M Muslich , Rokok Djangkar milik Ali Asikin , Rokok Trio milik Tjoa Khang Hay, dan Rokok Garbis & Manggis milik M Sirin.


“Selain pabrik-babrik tersebut, muncul pula pabrik pabrik baru yang saat ini tengah berjaya. Yakni PT Nojorono yang berdiri pada tahun1940, Djamboe Bol yang berdiri tahun 1937, PT Djarum yang berdiri pada 1950, dan PR Sukun. Pabrik-pabrik tersebut semakin mempersempit gerak Rokok Bal Tiga,” ujar Suyanto.


Selain munculnya pabrik baru, pecahnya perang dunia ke dua juga mempengaruhi keberadaan industri rokok di Kudus, tak terkecuali pada Rokok Bal Tiga. Masuknya tentara Jepang di Indonesia, membuat usaha Nitisemito semakin terpuruk, karena banyak aset perusahaannya disita oleh tentara Jepang. Jepang pada saat itu memberlakukan pajak yang sangat tinggi pada komoditas rokok. Akibatnya, banyak pabrik rokok yang kemudian bangkrut.


“Penyebab utama kebangkrutan Nitisemito, selain karena gejolak sosial politik pada saat pecah perang dunia ke dua di Asia Pasifik, juga disebabkan karena tidak ada generasi penerus Nitisemito yang dapat mempertahankan Rokok Bal Tiga. Bahkan, para ahli waris, justru berselisih memperebutkan aset,” kata Suyanto, menceritakan hal tersebut.


Akhirnya, pada tahun 1955, sisa aset kerajaan rokok kretek Bal Tiga dibagi rata kepada ahli waris. Tidak ada lagi generasi setelah Nitisemito yang melanjutkan perjuangan hebat Sang Raja Rokok Kretek tersebut. Bahkan, sisa peninggalan kejayaan Nitisemito berupa Omah Kapal dan Istana Kembar, saat ini terbengkelai dan tampak tak terawat. (Mase Adi Wibowo)

Artikel terkait:
Istananya Kini Tak Terawat
Seorang yang Buta Huruf, Tapi Jenius Berwirausaha  

- advertisement -

Nitisemito, Radja Rokok Kretek Asal Kudus (1)

0

Buta Huruf, Jenius Berwirausaha


DARI sekian foto tokoh pengusaha rokok di Kudus yang terpampang di Museum Kretek, Kudus, gambar tokoh yang satu ini sangat mencolok. Sekian banyak bukti peninggalan kejayaan usaha rokoknya pun tertata rapi di salah satu sudut museum satu-satunya di dunia itu. Nama tokoh tersebut adalah Nitisemito, yang kini namanya diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Kota Kudus.


Perjalanan seorang buta huruf yang sangat sukses di zamannya kala itu, Nitisemito memulainya dengan kegagalan demi kegagalan. Tercatat, putra pasangan Sulaiman, seorang Kepala Desa Jagalan, Kecamatan Kota, dan Markanah ini, pernah menjalankan kewirausahaan di berbagai bidang usaha, namun belum menemukan hasil yang baik. Nitisemito yang lahir pada 1863 dengan nama Roesdi ini, sempat menjadi pengusaha konveksi pada usia 17 tahun. Usaha itu gagal, dan kemudian beralih usaha lain menjadi penjual minyak kelapa, berjualan kerbau, hingga menjadi kusir dokar.


Pada saat menjadi kusir dokar tersebut, Nitisemito juga nyambi berjualan tembakau. Di sinilah awal Nitisemito merambah dunia usaha pembuatan rokok kretek. Dia menikahi seorang penjual rokok kretek, Nasilah, yang sebelumnya menjadi pembuat rokok kretek. Bersama istrinya itulah, dia mengembangkan usaha rokok kretek tersebut, yang kemudian menjadi industri yang sangat besar, hingga mempunyai 10 ribu karyawan.


Menurut Kepala Unit Pelaksana Teknis Museum Kretek, Suyanto, rokok kretek berdasarkan catatan sejarah, ditemukan oleh Jamhari. Pada mulanya Jamhari meramu tembakau dan cengkeh untuk dijadikan obat, dengan menghisap asap racikan tersebut yang dilinting (dibungkus) dengan klobot (kulit jagung). Temuan tersebut, diperkirakan terjadi sekitar tahun 1890 an. 


“Sekitar 1906, temuan tersebut kemudian sangat populer di masyarakat Kudus sebagai obat untuk penyakit sesak dan gangguan tenggorokan. Popularistas rokok kretek kemudian dikembangkan oleh masyarakat Kudus, salah satunya Nitisemito,” tutur Suyanto, saat di temui di ruang kerjanya, di Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, baru-baru ini.


Suyanto menambahkan, setelah memulai usahanya tersebut, Nitisemito kemudian mendaftarkan merek rokok buatannya dengan nama Bal Tiga pada tahun 1908. Saat itu, rokok Bal Tiga sangat popular, tidak hanya di Kudus, namun juga daerah-daerah lain di Pulau Jawa. Selain itu, pada tahun-tahun berikutnya, dia juga melebarkan sayap penjualan rokok Bal Tiga ke luar Pulau Jawa, bahkan hingga ke Singapura.

Sosok yang Jenius

Suyanto menceritakan, Nitisemito adalah sosok yang sangat jenius, meski dia seorang yang buta huruf. Intuisi bisnisnya sangat kuat, hal itu terlihat pada manajemen pengembangan rokok kretek yang dijalankannya. Dia menerapkan administrasi dan marketing modern, yang tidak dilakukan oleh pengusaha lain, pada saat itu.


“Bahkan, dia penah menyewa pesawat foker untuk mempromosikan rokoknya tersebut, dengan harga sewa, 200 gulden. Pesawat itu dibuat untuk menyebarkan pamflet produk rokoknya, di daerah sekitar Jawa Barat dan Jakarta. Menurut saya, ia adalah sosok yang jenius, karena media promosi tersebut dilakukan pada masa yang serba terbatas,” kata Suyanto. 


Tidak hanya itu, Nitisemito juga aktif mengikusti pameran-pameran niaga diberbagai daerah. Dalam pameran tersebut, Nitisemito memberikan hadiah, yang diundi bagi siapa saja yang membeli rokok Bal Tiga. Hadiah yang ditawarkan tidak tanggung-tanggung, dia rela menyediakan sepeda, yang pada saat itu tergolong kendaraan yang mewah. Untuk mendistribusikan produk rokok Bal Tiga ke daerah-daerah lain di Pulau Jawa, Nitisemito menyediakan beberapa armada mobil untuk membawa puluhan bal (kemasan besar) ke beberapa agen. 


Karena keberhasilannya itu, Nitisemito kemudian sangat terkenal sebagai pengusaha pribumi yang sangat sukses. Bahkan, diceritakan, sebelum menjadi presiden pertama, Sukarno sering menemui Nitisemito, pada masa-masa perjuangan kemerdekaan. (Mase Adi Wibowo)

Artikel terkait:
Perusahaannya Runtuh Karena Perselisihan Genarasi
Istananya Kini Tak Terawat

- advertisement -

Koleksi Puluhan Motor Antik, Sekaligus Ladang Bisnis (2)

3
SEPUTAR KUDUS-Selain sebagai hobi, kegemarannya tersebut ia jadikan sebagai ladang bisnis yang menggiurkan. Di show rom itulah, Saifullah menjajakan puluhan motor antik miliknya, yang dibanderol dengan harga selangit. Untuk dapat memiliki sepeda motor dengan merek BMW, ia memberi tarif paling murah seharga Rp 50 juta.
“Untuk jenis motor tua dengan ukuran besar, atau moge, para peminat harus menyiapkan uang tak sedikit. Itu karena orisinalitas dan keantikannya,” ujar Saifullah, sembari tersenyum.
Selain menjual motor dengan merek kenamaan, dirinya juga menjual koleksi motro tua jenis bebek dan skutik tua. Ia menjamin, para pembeli tinggal memakainya di jalan raya, karena semua motor miliknya masih memiliki surat-surat yang lengkap.
Para pelanggan, menurut Saifullah datang dari seantero negeri. Kesemuanya adalah para pecinta motor antik, dengan kondisi yang istimewa. Kebanyakan, para peminat datang dari pulau Jawa. Biasanya, mereka mendapatkan informasi dari mulut ke mulut. 
Tak Diekspor
Meskipun Saifullah menjual barang-barang kesayangannya itu, namun dirinya tidak melayani peminat dari luar negeri. Selama ini, banyak peminat asal luar negeri yang datang ke show room miliknya, untuk membeli motor-motor antik yang menjadi koleksinya.
“Untuk pembeli dari luar negeri, saya memang tidak melayaninya. Ini saya lakukan, agar motor-motor antik ini tidak hilang dari Indonesia, seperti yang terjadi pada motor buatan Italia, Vespa,” tutur Saifullah.
Kepada ekpatriat yang datang ke tempatnya untuk membeli koleksi motornya, dirinya mengaku tidak menjualnya, dan hanya mengoleksi motor sebagai hobi. Ini dilakukan agar turis yang datang bisa menerima alasan yang ia katakan.

Untuk menjaga agar motor-motor antik hilang ke luar negeri, dirinya hanya menjual motor-motor antik miliknya, hanya kepada para kolektor yang ia kenal. Hal itu, telah dilakukan sejak dirinya memulai bisnis jual beli motor antik, sejak 14 tahun silam. (suwoko)
- advertisement -

Koleksi Puluhan Motor Antik, Sekaligus Ladang Bisnis (1)

0

SEPUTAR KUDUS-Hobi yang satu ini memang sangat mahal. Bagaimana tidak, di sebuah show
room yang terletak di Jalan Kudus Pati, Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae,
Kabupaten Kudus itu, Saifullah (43) memampang sekitar 70 motor antik berbagai
merek, yang bernilai miliaran rupiah. Selain sebagai hobi, dirinya menjadikan
kegemarannya itu sebagai ladang bisnis.

Saifullah telah mengoleksi motor antik sejak tahun 1988. Berbagai merek
motor terkenal ia koleksi di show room yang juga dilengkapi bengkel perawatan.
Di antaranya, BMW, BSA, Sun Beam, Royal Envielet, Honda, Yamaha, dan bermacam
merek lainnya.
“Koleksi motor tua yang saya miliki ini, keluaran tahun 1930 hingga
tahun 1970,” ujar Sifullah, saat ditemui di show room miliknya, Rabu (4/1)
kemarin.
Menurut Saifullah, koleksi terbanyak adalah motor dengan merek BMW dan
BSA. Dia mendapatkan motor tersebut, dari kolektor yang ada di Jawa, di
antaranya, Surabaya, Semarang, Jakarta dan lainnya. Selain di Jawa, dia juga
mendapatkan motor-motor antik lainnya di Sumatera.
Motor-motor antik koleksinya itu, menurut Saifullah, masih terjaga
keaslian komponen dan bagian-bagian motor lainnya, termasuk mesin dan
chasisnya. Untuk menjaga dan merawat puluhan motor tersebut, dia mempekerjakan
empat orang karyawan, yang setiap hari memanasi mesin motor, dan
membersihkannya.
“Ada beberapa motor lain yang sparepartnya sudah saya ganti. Itu
karena, ada beberapa motor yang saya dapatkan dalam kondisi rongsokan. Kami
merangkai kembali rongsokan motor tua itu, dan menambahkan sparepart yang telah
hilang, dengan membuat komponen sendiri, di bengkel yang saya miliki,”
ujar pria berkacamata tersebut. (Suwoko)
- advertisement -

Kopi Jetak Mbah Atun, Nikmatnya Hmm…

0

KALIWUNGU-Kudus memang terkenal dengan jenang dan sotonya, tapi bagi penikmat kopi pasti kenal dengan Kopi Jetak. Disebut Kopi Jetak karena kopi tersebut dibuat di Desa Jetak, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Salah satu warung yang khusus menyediakan minuman berwarna hitam pekat tersebut adalah warung milik Mbah Atun.

Warung yang terletak di Desa Jetak RT 5, RW 4 tersebut tak tampak kesan mewah. Hanya terdapat tiga buah meja yang dan beberapa kursi panjang. Hidangan yang disediakannya pun tak tampak meriah, warung Mbah Atun sangat dikenal para penggila kopu. Hanya ada nasi kering berbungkus daun pisang dan pisang goreng sebagai pelengkap.

Warung Mabh Atun hanya buka pada pukul 07.30 hingga pukul 13.00, setiap harinya. Hari-hari warung itu penuh sesak oleh penikmat kopi yang datang. Tak hanya orang-orang sepuh yang datang, namun juga para remaja yang ketagihan akan nikmatnya kopi racikan tangat Mbah Atun.

Kopi yang dibuat Mbah Atun menurut pengunjung yang datang sangatlah nikmat. Di samping rasanya yang begitu “nendang”, Kopi Jetak tersebut juga sangat pas jika dinikmati dengan pisang goreng atau nasi kering.
Hal itu diungkapkan Charis (25) warga Jetak yang mengaku menjadi pelanggan sejak lama. Guru di sebuah sekolah MI di kampungnya itu mengungkapkan, hampir setiap pagi dirinya datang ke warung berukuran kecil milik Mbah Atun hanya untuk bisa menyeruput kopi panas buatan Mbah Atun.

“Kopi Jetak memang banyak, di desa ini puluhan warga memproduksi kopi. Namun buat saya kopi Warung Mbah Atun tetap beda dengan yng lain. Rasa kopinya mantab, komposisinya juga pas” paparnya.

Menurut Mbah Atun, warung miliknya telah ada sebelum dirinya lahir 80 tahun yang lalu. Warung tersebut merupakan warisan dari orang tuanya yang telah ada sejak puluhan tahun silam. Di warungnya itu, kopi disuguhkan melalui proses yang panjang. Mulai dari menjemur kopi yang sebelumnya dibeli dari Gembong, Pati, menggilingnya hingga beberapa kali, dan dimasak di atas bara api dari kayu bakar.

“Semua proses itu saya sendiri yang melakukan. Membuat sajian kopi tidak bisa sembarangan. Butuh kesabaran dan perasaan,” tuturnya.

Perempuan renta itu menjelaskan, kopi yang dibuat tidak mencampurkan bahan tambahan apapun, misalnya ampas kelapa atau jagung. Menurutnya kopi bisa nikmat rasanya jika prosesnya dilakukan secara teliti dan dengan bahan berkualitas tinggi. Dimasak dengan menggunakan kayu bakar dalam suhu yang terukur, dan menggunakan komposisi yang pas antara gula dan kopinya.

Dalam sehari warung tersebut menghabiskan 10 kilogram bubuk kopi dan 7 kilogram gula pasir. Untuk memasaknya, Mbah Atun membutuhkan 20 kilogram kayu bakar. Secangkir kopi kecil yang dibuat hanya dibanderol Rp 1.500. Sedangkan satu cangkir  berukuran sedang para penikmat kopi hanya cukup membayar seharga Rp 2.500.

Mbah Atun menjamin, kopinya tidak menyebabkan penyakit lambung bagi pelanggannya. Karena setiap kopi yang disuguhkan didampingi segelas air putih untuk menetralisir lambung sebelum minum kopi. Serta disediakan pisang goreng untuk menjaga lambung agar tidak terlalu asam. (Suwoko)

- advertisement -

Lucunya Sajadah Mini dari Klumpit Buatan Inada

0

SEPUTAR KUDUS – Sajadah mini.

SEPUTAR KUDUS –Dunia anak adalah dunia bermain. Tak jarang para orang tua sulit mengajak anak-anak untuk belar sholat. Justru kesulitan itu ditangkap  Inada sebagai peluang bisnis. Dia mendesain sajadah khusus anak-anak, agar mereka tertarik untuk sholat. Dengan warna-warna mencolok, dan motif yang menarik bagi anak-anak, Inada kini kebanjiran pesanan.

Dia mengemukakan, ide pembuatan sajadah mini memang bermula dari keinginan dirinya untuk mengenalkan anaknya tentang ibadah. Dia mendesain sajadah mini sengaja memilih warna-warna terang. Motif dibuatnya semenarik mungkin agar anaknya senang dengan sajadah yang dia buat.

“Ide awalnya memang seperti itu. Namun, karena saya memiliki usaha pembuatan baju Muslim, justru ide membuat sajadah mini itu saya kembangkan dan saya buat untuk dijual. Alhamdulillah, banyak orang yang suka dan memesan dalam jumlah banyak,” ujar Inada saat ditemui di rumah yang sekaligus tempat dia membuat sajadah mini dan pakaian Muslim lainnya, di di Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, bahan pembuatan sajadah mini mempergunakan kain catoon plat yang halus dan tidak kaku. Di dalamnya diberikan bahan pelapis yang agak tebal dan lembut, serta diberikan gambar-gambar kartun, misalnya Helo Kity, sehingga anak-tertarik untuk menggunakannya.

Menurut Inada, permintaan sajadah mini melonjak drastis saat memasuki bulan puasa, dan puncaknya menjelang Lebaran. Pada saat-saat itu, kata Inada, permintaan sajadah mini mencapai 400 persen.
“Saat ini kami mampu menjual sajadah mini hingga 200 buah ke berbagai kota di Jawa untuk sekali pengiriman. Sajah ini kami kirim ke Surabaya, Jakarta, Tasikmalaya, dan kota-kota lain di Jawa Tenah,” katanya.

Dia menjelaskan, untuk harga satu sajadah mini Inada mematok harga Rp 60 ribu kepada reseller. Sedangkan untuk pembeli eceran dia membanderol harga Rp 85 ribu perbuah. Untuk bahan baku, Inada mengaku tidak terlalu susah mendapatkannya. Karena menurutnya di Kudus tersedia di toko-toko kain. Harga kain berukuran 1 yard untuk sajadah mini seharga Rp 18 ribu. Namun biasanya dia membeli kain langsung satu gulung.

Untuk melayani permintaan pasar yang semakin meningkat menjelang puasa dan lebaran, biasanya Inada dibantu empat orang karyawan. Satu Karyawan menjahit, dua karyawan memotong pola gambar dan menempelkan gambar-gambar tokoh-tokoh kartun dan bentuk masjid.

Dalam sebulan dirinya mampu memproduksi ribuan sajadah mini untuk dikirimkan ke pelanggan. “Untuk saat ini kami hanya membuat untuk pesanan dari pelanggan, untuk membuat stok kami belum mampu karena keterbatasan tenaga” katanya.

Selain sajadah mini dirinya juga membuat sarung mini untuk anak-anak dan juga baju gamis. Usaha yang dirintis sejak 5 tahun yang lalu tersebut memang khusus untuk membuat pakaian dan sarana ibadah untuk anak-anak. (Suwoko)

- advertisement -

Mengait Nafkah di Utas Tambang Perbatasan Kudus dengan Demak

0
Bagi masyarakat di perbatasan Kabupaten Demak dan Kudus yang terbelah sungai Wulan, Jasa penarik perahu dengan tambang sangatlah besar. Karena, dengan tambang itulah, masyarakat Kecamatan Karanganyar, Demak, di perbatasan bisa menyeberangi sungai ke Kecamatan Undaan, Kudus.
Tambang itu digunakan penyedia jasa penyeberangan untuk menarik perahu membelah sungai Wulan yang memiliki lebar sekitar 50 meter. Dengan perahu itu, masyarakat di beberapa desa di Karanganyar dapat menyeberang sungai untuk bekerja, membeli kebutuhan sehari-hari, atau ke sekolah di beberapa tempat di Kudus, khususnya di Kecamatan Undaan. Dengan tambang itu pula tukang perahu “mengait” nafkah dari upah yang diberikan oleh masyarakat yang menggunakan jasanya. 
Sujadi (53), seorang penarik perahu, setiap hari harus terus mengait tambang untuk menyeberangkan masyarakat di Dukuh Gandek, Desa Undaan Kidul, dan beberapa desa lain di Kecamatan Karanganyar, menuju ke Desa Undaan Kidul, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Setiap orang yang menggunakan jasa Sujadi, membayar Rp 1.000, untuk pulang pergi. Tarif penyeberangan dihitung setiap orangnya, bukan termasuk barang bawaan atau sepeda motor yang dibawa.
Hal itu sudah dilakukan Sujadi sejak puluhan tahun silam. Setiap hari, ratusan penduduk dari Demak, menyeberangi sungi Wulan, untuk bekerja atau berbelanja kebutuhan, karena beberapa desa di perbatasan Demak itu cukup terpencil. Tidak ada jembatan di yang dapat dilalui, sehingga, bagi masyarakat di sana, Sujadi adalah orang yang sangat berjasa.
“Saat musim hujan seperti ini, jarak yang harus ditempuh untuk menyeberangi sungai menjadi lebih jauh. Karena permukaan air naik, dan lebar sungai menjadi bertambah. Harus butuh tenaga ekstra untuk dapat menarik perahu berpenumpang melalui tambang baja ini,” tutur Sujadi, beberapa waktu lalu.
Sujadi menambahkan, saat debit air sungai sangat besar, dan permukaan air sungai sangat tinggi dan tambang tenggelam, dirinya terpaksa menganggur, karena perhau tidak bisa melaju. Di saat itu pula, masyarakat di beberapa desa di Karanganyar tersebut,tidak bisa menyeberang ke Kudus. Kalaupun bisa ke Kudus, harus menempuh jarak yang sangat jauh, melalui jalur darat dengan jarak puluhan kilometer. 
Sujadi bukanlah pemilik perahu yang setiap hari ia gunakan, melainkan milik juragannya. Ia diupah sesuai dengan uang yang terkumpul dari masyarakat yang menyeberangi sungai. Uang yang terkumpul kemudian dibagi dua, separuh untuk pemilik perahu, dan sisanya untuk dirinya. Namun, itupun masih dibagi dengan dengan seorang rekannya, sesama penarik perahu lain.
“Setiap hari saya bekerja dengan satu kawan lain. Biasanya kami bergantian, ketika sudah cepek, kawan sayalah yang menggantikan,” ujar pria yang juga nyambi menjadi buruh tani itu.
Seorang penyeberang, Wati (38) mengaku sangat bergantung dengan jasa para penarik perahu itu. Tanpa mereka, mungkin penduduk di Desanya dan sekitarnya, tidak bisa bekerja dan membeli kebutuhan sehari-hari, karena, di tempatnya, tidak ada pasar. Selain itu, anak-anak mereka juga bergantung jasa penyeberangan itu untuk bersekolah di Kudus, yang mempunyai kualitas lebih bagus. 
“Penyeberangan ini telah ada sejak puluhan tahun silam. Bahkan, menurut cerita orang-orang terdahulu, ini sudah ada sejak zaman Belanda,” tutur Wati, yang bekerja di salah satu pabrik rokok ternama di Kudus.
Wati berharap, pemerintah dapat membangun jembatan yang dapat menghubungkan daerah mereka dengan Kabuaten Kudus. Sehingga, masyarakat di sana dapat lebih mudah untuk pergi ke Kudus. (suwoko)
- advertisement -

Melihat Sentra Sangkar Burung Dukuh Wungu

0
Seorang perajin sangkar burung di Dukuh Wungu
tengah merakit sangkar burung beberapa waktu  lalu

JATI-Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, telah lama dikenal masyarakat Kudus sebagai sentra kerajinan berbahan bambu. Namun, Di salah satu pedukuhan di Megawon, yakni Dukuh Wungu, telah lama dikenal sebagai sentra kerajinan sangkar burung. Di sana, terdapat puluhan perajin yang dapat menghasilkan ribuan sangkar burung tiap bulannya.

Seorang perajin di Dukuh Wungu, Noor Fais (23), mengaku telah menjalani usahanya tersebut sejak tiga tahun yang lalu. Awalnya, dia bekerja sebagai perakit sangkar burung milik tetangganya. Kini, Fais memiliki sepuluh karyawan. Setiap hari dirinya mampu memproduksi sangkar burung sebanyak 70 sangkar, dengan berbagai macam bentuk dan motif.

“Bentuk dan motif yang kami buat, mengikuti perkembangan pasar yang ada. Kami mendesain sendiri bentuk dan motif sangkar burung yang kami buat. Namun, terkadang juga meniru bentuk lain yang ada di pasaran. kami merubah sedikit di beberapa itemnya,” ujar Fais, saat ditemui di tempat kerjanya, Dukuh Wungu, Desa Megawon RT 1 RW 1, Kecamatan Jati, beberapa waktu lalu.

Setiap sangkar yang diproduksi, Fais menjualnya dengan harga bervarisasi. Untuk sangkar burung dengan ukuran yang besar, dan bermotif rumit, dia membanderol harga hingga Rp 110 ribu per-buah. Sedangkan untuk ukuran yang lebih kecil, dengan motif yang tidak terlalu rumit, Fais menjualnya seharga Rp 35 ribu.
Pasar yang menjadi jajahan sangkar burung buatan Fais, adalah pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Di Jawa, Fais hanya menjual sangkar burung yang ia produksi, hanya di Kudus saja, yakni di Pasar Johar.

“Awalnya, banyak para pembeli dari luar yang datang ke tempat ini. Namun, dari mulut ke mulut, akhirnya banyak masyarakat di luar pulau Jawa yang memesan sangkar burung buatan kami,” ujar Fais.

Sementara itu, perajin lain di Dukuh Wungu, Sukar (37) mengatakan, usaha pembuatan sangkar burung yang ia geluti belasan tahun itu, ia kerjakan hanya bersama anggota keluarga di rumahnya. Ia dibantu istri, anak, dan sepupunya. Usahanya itu, merupakan warisan dari orang tuanya, yang sejak puluhan tahun silam telah menggeluti kerajinan dari bambu tersebut.

Untuk mendapatkan bahan, Sukar mendapatkan bambu dari luar kota, yakni dari Magelang. Sedangkan kayu jati yang ia pakai, didapat dari Jepara. Setiap hari, Sukar bersama anggota keluarganya, dapat memproduksi sekitar 10 buah per-hari. Harga yang ditawarkan, relatif lebih murah. Yakni berkisar antara Rp 25 ribu, hingga Rp 35 ribu per buah.

“Kami hanya menjual sangkar burung yang kami buat, di Pasar Johar saja. Karena, usaha yang kami geluti ini masih terbilang kecil dibandingkan perajin lain. Namun, usaha ini, cukup untuk menghidupi keluarga, dan menyekolahkan anak-anak kami,” ujar Sukar, saat ditemui di rumah, sekaligus tempat kerjanya, di Dukuh Wungu, Desa megawon, RT 2 RW 1.

Sukar mengatakan, di Dukuh Wungu, satu kampung hampir semuanya bekerja sebagai perajin sangkar burung. Ada yang menjadi pengusahanya, dan lebih banyak menjadi buruh perajinnya. Sejak lama, Dukuh Wungu sangat dikenal sebagai sentra perajin sangkar burung. (suwoko)

- advertisement -

Berlibur Dengan Puluhan Rusa Timor di Gebog

0

GEBOG-Banyak cara untuk bisa menikmati hari libur di Kudus. Berbagai tempat wisata bisa dinikmati bersama keluarga. Mekipun tak mempunyai pantai, di Kudus ada beberapa tempat wisata yang tentu dapat menghilangkan penat, ada Museum kretek, Air Terjun Montel dan Wisata Religi ke makam Sunan Kudus dan Sunan Muria.

Namun ada satu tempat wisata di Kudus menarik untuk dikunjungi. Selain berwisata, juga dapat memberikan nilai pendidikan bagi anak tentang satwa. Tempat wisata itu yakni penangkaran Rusa Timor atau Cervus Timorensis.

Tempat wisata itu terletak di Desa Gondosari, Kecamatan Gebog. Berdiri di antara gedung pabrik rokok milik PT Sukun, dan pepohonan yang sangat rindang, tepatnya  penangkaran rusa itu memberi keteduhan dan kenyamanan tersendiri bagi para pengunjung. Tempat penangkaran rusa itu ramai dikunjungi wisatawan pada hari Minggu dan libur nasional.

Penangkaran satwa yang dilindungi ini terletak di atas sebidang tanah seluas 100 meter persegi dan dikelilingi besi kasa. Ada sebanyak 28 rusa timor di tempat penangkaran itu. Terdapat pula sebuah kolam berisi air di tengahnya untuk rusa-rusa minum dan berkubang.

Beberapa waktu lalu, seorang pengunjung Ronald Rio Alfi datang bersama putrinya yang masih berusia 4 tahun. Menurut Ronald, dia datang ke penangkaran itu untuk mengenalkan putrinya pada rusa-rusa di sana. “Kami sudah sering ke tempat wisata lain, namun menurut saya tempat ini lebih bagus untuk anak saya. Karena dia bisa berinteraksi dengan rusa secara langsung,” katanya.

Di tempat itu para pengunjung bisa leluasa memberikan makanan untuk rusa. Cukup merogoh kocek Rp 1.000, pengunjung dapat membeli seikat kangkung yang banyak dijual sekitar penangkaran. Dengan kangkung itu, pengunjung dapat menarik rusa untuk datang mendekat dan memberinya makan.

Selain Ronald, pengunjung lain Yahya Nur mengaku sangat sering datang ke penangkaran tersebut. “Setiap liburan anak-anak sering kami ajak kemari. Disamping jaraknya yang dekat dari rumah, berwisata di sini juga gratis,” katanya.

Dia merasa beruntung di Kudus ada penangkaran rusa itu, karena di kawasan pantura timur tidak ada kebun binatang yang bisa dikunjungi. “Kami harus ke Solo atau Jogja jika ingin memperlihatkan satwa langka pada anak. Tentu kami butuh waktu lama di perjalanan dan yang jelas menghabiskan banyak biaya,” katanya.

Penjaga penangkaran sekaligus yang merawat rusa, Noviyanto mengemukakan, penangkaran rusa tersebut sudah berumur lebih dari 10 tahun. Untuk memberi makanan rusa dia menyediakan 4 karung rumput yang diberikannya setiap pagi, siang dan malam hari.

“Rusa ini termasuk hewan yang tidak sulit soal makanan. Semua jenis rumput dan dedaunan rusa-rusa ini doyan melahapnya,” ujar Noviyanto. Namun dia mengatakan, ada beberapa tumbuhan yang dilarang untuk diberikan, antara lain daun tebu dan jerami.

Untuk kesehatan rusa, kata Noviyanto, ada tim medis dari Semarang yang setiap bulan datang untuk mengecek kesehatan rusa. Namun, jika sewaktu-waktu ada rusa yang sakit, dia meminta tim kesehatan untuk segera datang.

Dia menjelaskan, penangkaran tersebut milik PT. Sukun, salah satu perusahaan rokok terbesar di Kudus. Dia berharap masyarakat yang berwisata ke penangkaran tidak memberikan sesuatu yang membahayakan rusa. Agar rusa-rusa tersebut tetap sehat dan bisa memberikan hiburan tersendiri bagi masyarakat. (Suwoko)

- advertisement -

Di Tangan Hilmy, Jenang Kudus Mendunia

1
SEPUTAR KUDUS – Muhammad Hilmy, Dirut PT Mubarok Food Cipta Delicia

SEPUTAR KUDUS – Sebelumnya mungkin tak ada yang menyangka, jajanan tradisional khas Kudus, Jenang, dapat menembus pasar dunia. Keberhasilan ini tak lepas dari peran besar seorang pengusaha industri jenang, Muhammad Hilmy. Karena keuletan dan kerja kerasnya selama lebih kurang dua dekane terakhir, kini jenang Kudus mulai dikenal di beberapa negara di Asia, bahkan hingga ke Timur Tengah.

Jenang adalah makanan yang terbuat dari tepung beras dan campuran gula Jawa. Makanan ini telah menjadi jajanan khas masyarakat Kudus sejak lama. Di Kudus, banyak masyarakat yang menjalankan usaha pembuatan jenang, baik yang masih tradisional maupun modern. Dan Hilmy, menjadi salah seorang pengusaha dalam industri pembuatan jenang dengan memodernisasi perlatan dan manajemen usahanya. Salah satu merek produk jenang yang telah dikenal khalayak, adalah Jenang 33 dan Jenang Mubarok.

“Sebenarnya, usaha yang saya lakukan ini adalah peninggalan dari orang tua kami. Dan saya, adalah generasi ketiga, setelah ayah dan nenek saya,” kata Hilmy, saat ditemui di kantor PT Mubarok Food Cipta Delicia, Jalan Sunan Muria, beberapa waktu lalu.

Hilmy menceritakan, dirinya mulai mengelola usaha keluarganya itu sejak tahun 1992 silam. Namun, sarjana ekonomi di salah satu kampus di Yogyakarta itu, baru melakukan pembenahan manajemen dan alat-alat produksi, setelah enam tahun  berikutnya. Salah satu bagian yang menjadi perhatian dirinya, adalah bagian personalia, yang menjadi kunci utama masuknya seorang karyawan. Hal itu menurutnya menentukan hasil produksi yang akan disuguhkan ke tengah masyarakat.

“Saat awal memegang perusahaan ini, saya tidak lantas secara mudah merubah tatanan manajemen yang ada. Karena, usaha ini dijalankan oleh generasi sebelum saya sejak tahun 1920 silam, dengan manajemen seadanya dan lebih banyak diisi oleh kalangan keluarga dekat. Pada saat itu sebagian besar pengusaha jenang di Kudus, menjalankan usaha secara tradisional,” ujar Hilmy.

Setelah melakukan pembenahan manajemen dan alat produksi, baru di tahun 2001, Jenang Mubarok tidak hanya dapat menembus pasar lokal, bahkan dapat menembus pasar internasinal. Saat itu, salah satu maskapai penerbangan ternama, Garuda Air Ways menggunakan produk jenang milik Hilmy sebagai sajian bagi penumpang dari berbagai negara. Bahkan, dalam dua tahun terakhir ini, Jenang Mubarok juga digunakan oleh Saudi Air Land.

Saat ini, menurut Hilmy, Mubarok Food telah mempunyai cabang penjualan di sejumlah negara di Asia. Di antaranya, Uni Emirat Arab, Sudi Arabia, Malaysia, Singapura, dan Hongkong. Dan pasar potensial yang menjadi unggulan penjualan Jenang Mubarok di luar negeri adalah Hongkong.


Berawal dari Mimpi

Bagi Hilmy, keberhasilan yang ia raih berawal dari sebuah mimpi besarnya untuk membesarkan usaha warisan keluarganya itu. Pada saat awal dipilih untuk mewarisi usaha, dirinya memiliki mimpi untuk mengenalkan jenang ke seluruh dunia. Awal mimpi itu, ia lakukan dengan pembenahan manajemen, penambahan dan modernisasi alat, serta perluasan pasar.

Selain itu, pembenahan juga dilakukan pada tampilan produk jenang yang dibuat. Kesan jajanan tradisional yang melekat erat pada jenang, dirubah menjadi makanan yang elegan. Kemasan yang ada, terbuat dari berbagai macam bahan dan desain. Ada kemasan dengan kertas dan plastik yang elegan, serta desain produk yang tampak seperti makanan berkelas.

“Setiap tahun kami telah membuat rencana inovasi produk. Termasuk kemasan yang membungkus produk jenang kami. Selain itu, inovasi juga kami lakukan pada jenis makanan yang kami buat, termasuk inovasi terakhir yang kami lakukan dengan mengkombinasikan jenang dengan cokelat dan kurma,” ujar Hilmy.

Prestasi yang berbuah penghargaan diraih Hilmy bersama Mubarok Food, di antaranya Upakarti dari Presiden RI tahun 2007, kategori Industri Kecil Menengah. Selain itu, Mubarok Food juga mendapatkan penghargaan UKM Pangan Award tahun 2008 dari Menteri Perdagangan,  Top 250 Indonesia Original Brand tahun 2009 oleh sebuah majalah bisnis nasional, dan Standar ISO 9001:2000 dari Sucofindo Internasional di tahun 2002. Serta banyak penghargaan-penghargaan lain dari pemerintah Kabupaten, Pemerintah Provinsi. (Suwoko)

- advertisement -

RMP Sosrokartono, Pahlawan yang Terlupakan (5-Habis)

0
SEPUTAR KUDUS – Komplek makam RMP Sosrokartono

Persemayaman Terakhir di Makam Sido Mukti Kudus
SEPUTAR KUDUS – Pada tanggal 8 Februari 1952, Sosrokartono wafat di kediamannya, Jalan Pungkur Nomor 7, Bandung. Pada  keesokan harinya, jasad Sosrokartono diterbangkan ke Semarang, kemudian disemayamkan untuk terakhir kalinya di Kompleks makam Sido Mukti, Jalan Sosrokartono, Kaliputu, Kudus. 

Menurut Juru Kunci makam Sedo Mukti, Sunarto (53), makam yang dia jaga itu awalnya merupakan  tanah pemberian pemerintah Hindia Belanda kepada Aryo Condro Negoro, Bupati Kudus ke 3 yang juga kakek buyut  Sosrokartono. Tanah seluas dua hektar itu kemudian menjadi makam keluarga. 


Sunarto menambahkan, tanah tersebut diberikan karena jasa besar Aryo Condro Negoro yang telah berhasil memakmurkan masyarakat Kudus dan melepaskan masyarakat dari masa Pageblug atau krisis pangan. Semua keluarga, kerabat dan menantu Aryo Condro Negoro kemudian dimakamkan di kompleks makam tersebut, termasuk keluarga Sosrokartono. 


“Namun beberapa keluarga lain yang mempunyai suami di luar Kudus biasanya dimakamkan ikut dengan suaminya, seperti RA Kartini yang dimakamkan di Rembang. Bu Muryati Sudibyo (Pendidiri Mustika Ratu) yang memiliki garis keturunan Aryo Condro Negoro juga direncakan tidak dimakamkan disini, melainkan ikut suaminya di Jawa Barat,” ujar Sunarto.


Sunarto sangat menyayangkan masyarakat yang telah melupakan jasa besar Sosrokartono terhadap bangsa ini. Bahkan, masyarakat tidak pernah mau mencari tahu kenapa jalan di samping makam ini dinamakan Jalan Sosrokartono. Ia berharap sosok Sosrokartono diangkat kembali, khususnya bagi Pemerintah Daerah Kudus agar tidak melupakan jasa besar yang dilakukan oleh keluarga besar Condro Negoro. (Mase Adi Wibowo)

Artikel terkait:
Sosrokartono (1) Mahasiswa pribumi pertama belajar di luar negeri
Sosrokartono (2), seoarang jenius menguasai 27 bahasa
Sosrokartono (3) simbol kebangkitan intelektual
Sosrokartono (4) kemabali ke Indonesia
Sosrokartono (5-habis) jenazahnya disemayamkan di Kudus

- advertisement -

RMP Sosrokartono, Pahlawan yang Terlupakan (4)

0

Kembali ke Indonesia


SEPUTAR KUDUS – Pada tahun 1925, Sosrokartono pulang ke negeri di mana dia dilahirkan, Indonesia. Kepulangannya itu dilakukan setelah pengembaraannya yang panjang, di beberapa negara di Eropa, baik sebagai mahasiswa, maupun menjadi jurnalis di The New York Herald Tribune. 

Kegagalannya mencapai gelar doktor tidak mematikan spirit intelektual tokoh ini. Bahkan, dia mencoba mendaki puncak lain yang mencoba melakukan sintesis antara intelektualisme Barat dan spiritualisme Timur. 


Sosrokartono pulang untuk mengabdi kepada negeri dengan menjadi pemimpin Nationale Middlebare School di Bandung. Akan tetapi, pemerintah kolonial curiga dengan apa yang dia lakukan itu. Segala upaya dilakukan pemerintah kolonial pada waktu itu, bahkan melakukan upaya represi politik terhadap dirinya. 

Upaya pelemahan secara politik atas gerakan yang dilakukan Sosrokartono oleh pemerintah kolonial, membuat dirinya memilih jalan lain, yakni  mendalami spiritualisme Jawa. Untuk mengabdi dan tetap menjadi manusia yang merdeka dengan segala ide dan pemikirannya, Sosrokartono memutuskan membuka praktik pengobatan tradisional dan menempuh laku spiritual khas orang Jawa. Sebuah pilihan yang ganjil memang. Namun seganjil apa pun pilihan itu tak menutupi kontribusi Sosrokartono dalam usaha pembentukan negara Indonesia. 


Solichin Salam (1987) mencatat cukup banyak tokoh kunci dalam pergerakan politik nasionalis saat itu yang berinteraksi dengan Sosrokartono. Soekarno dan Ki Hajar Dewantoro, antara lain memberi penghormatan besar kepadanya, termasuk pada laku spiritual dalam menopang laku politik mereka. (Mase Adi Wibowo)

Artikel terkait:
Sosrokartono (1) Mahasiswa pribumi pertama belajar di luar negeri
Sosrokartono (2), seoarang jenius menguasai 27 bahasa
Sosrokartono (3) simbol kebangkitan intelektual
Sosrokartono (4) kemabali ke Indonesia
Sosrokartono (5-habis) jenazahnya disemayamkan di Kudus

- advertisement -

RMP Sosrokartono, Pahlawan yang Terlupakan (3)

0

Pejuang Kemerdekaan dan Simbol Kebangkitan Intelektual
SEPUTAR KUDUS – Meski dikenal dekat dengan para bangsawan Belanda dan beberapa ilmuan asal Negeri Kincir tersebut, Sosrokartono tidak pernah melupakan kampung halamannya. Diketahui bahwa salah satu pembimbing R.A Kartini dalam menuliskan surat keprihatinannya akan nasib pendidikan warga pribumi adalah dirinya. Pada 29 Agustus 1899 dalam Kongres ke-25 Bahasa dan Sastra Belanda di Gent, Belgia  Sosrokartono menyampaikan pidato yang menggemparkan. 


“Saya minta dengan sangat dan bersungguh-sungguh, hendaklah kepada insulinde ditumpahkan cinta kasih, cinta kasih yang wajib diberikan kepadanya sebagai hak miliknya. Hai, kamu bangsa penjajah, pada tangan kirimu kamu menggenggam lambang utusan/ajaran untuk damai di antara sesama manusia, dengan tangan kananmu kamu memegang tongkat lambang peradaban, maka dari itu hidupkanlah rasa persaudaraan antara bangsamu dan bangsa yang engkau jajah,” seru Sosrokartono agar Belanda mengajarkan bahasanya lebih luas bagi rakyat Jawa. Pernyataan kerasnya itu dimuat di majalah bulanan Neerlandia, sebulan kemudian.


Tak dapat dimungkiri bahwa Sosrokartonolah yang menginspirasi Kartini dalam memperjuangkan hak-hak pribumi. Mereka sering sekali berkirim surat dan menceritakan tentang keadaan mereka masing-masing di negeri yang saling berjauhan. Salah satu sahabat Kartini yang juga berhubungan baik dengan Sosrokartono adalah Abendanon. 


Pada tahun 14 Juli 1925 dalam surat Sosrokartono yang dikirimkan kepadanya menyebutkan rasa berangnya akan perilaku birokrat Hindia Belanda yang masih saja menganggap kaum pribumi sebagai kuli, meskipun mereka hidup bertahun-tahun di negeri jajahannya tersebut. 


Sosrokartono menemukan pengesahan intelektual pada tahun 1908 dengan penerimaan gelar Doctorandus in de Oostersche Talen dalam bidang bahasa dan sastra. Sebuah tanda yang turut menginisiasi kebangkitan intelektual-modern Indonesia. Satu hal yang dirasa menjadi ancaman bagi pemerintah kolonial. Sosrokartono gagal secara akademik mencapai gelar doktor akibat kebencian dan dendam dari juru bicara kolonialisme dan orientalisme Prof Dr Snouck Hurgronye. 
  
Sosrokartono mendapat tuduhan sebagai simbol kebangkitan intelektual dan nasionalisme pribumi. Namun, Sosrokartono tetap mendapat nama, menjadi fenomena, juga problema di Eropa. Mohammad Hatta (1982) menjuluki Sosrokartono sebagai manusia genius. Hatta mengisahkan tentang perjamuan makan Sosrokartono dan kaum etis (Mr Abendanon, Mr Van Deventer, Prof Dr Snouck Hurgronye, dan Prof Hazeu). 


Sosrokartono hadir dalam perjamuan makan sebagai intelektual kosen yang disegani. Kaum etis itu ingin menanggung utang kolonial mereka dengan, antara lain, membantu Sosrokartono merampungkan disertasi doktoralnya. Namun, Sosrokartono menjawab tawaran itu dengan sebuah satir: 


“Maaf tuan-tuan yang terhormat, utang itu adalah satu-satunya harta saya. Harta saya satu-satunya itu apakah akan tuan ambil juga dari saya,” Satir itu merupakan hantaman keras bagi politik etis. 


Motif kolonial untuk mengembalikan utang sejarah mereka dengan mengembalikan kerugian budi dan materi tak mungkin dapat dipenuhi hanya dengan edukasi, irigasi, atau migrasi. Operasionalisasi politik etis justru mengandung dilema untuk mengantarkan pada pintu emansipasi atau westernisasi melalui sihir pemikiran intelektual. (Mase Adi Wibowo)

Artikel terkait:
Sosrokartono (1) Mahasiswa pribumi pertama belajar di luar negeri
Sosrokartono (2), seoarang jenius menguasai 27 bahasa
Sosrokartono (3) simbol kebangkitan intelektual
Sosrokartono (4) kemabali ke Indonesia
Sosrokartono (5-habis) jenazahnya disemayamkan di Kudus

- advertisement -

Daftar Pondok Pesantren di Kudus

0

SEPUTAR KUDUS – Kudus sejak dulu telah dikenal sebagai Kota Santri. Sebutan itu tak lepas dari banyaknya pondok pesantren yang ada di Kota Kretek. Tercatat, ada sebanyak 86 pondok pesantren di Kabupaten Kudus, yang tersebar di sembilan kecamatan.

Kudus sangat dikenal sebagai pencetak ahli Quran. Banyak pondok yang mengajarkan ilmu Al-Quran, namun ada satu pondok yang sangat terkenal dengan ilmu Al-Qurannya, yakni Pondok Pesantren Yanbu’ul Quran, baik menganjar santri putra, putri maupun anak-anak. Pondok pesantren Warisan KH Arwani Amin, itu kini diasuh oleh KH Ulin Nuha Arwani. 
Sebagai dokumentasi atas mengemukanya Kudus sebagai Kota Santri, Seputar Kudus dalam postingan ini akan memuat daftar seluruh pondok pesantren yang ada di Kudus. (*)

Kecamatan
No
Nama Pesantren
Alamat
Tahun Berdiri
Pengasuh
Bae
1
1
Darul Ulum
Ngambalrejo Rt 5/IV
1960-an
K.H. Drs. Sa’ad Basyar
Mejobo
2
1
Nurul Furqon
Mejobo Rt 7/II
2001
K. M. Baha’uddin
3
2
Raudlatuth Tholibin
Golantepus Rt 2/III
1949
Ust. Kholis Warnaningsh, S.Ag
4
3
Assa’idiyyah (dan Pdepokan Telogo Kautsar)
JL. Jogo Rekso No. 2 b, Kirig Rt 1/III
K.H. Noor Asid Sa’id (dan K.H.M. Luqman al-Banjary)
Kaliwungu
5
1
Al-Furqon
Jerakah, Sidorekso
1992
K.H. Chusniddin
6
2
Hidayatullah, Yayasan Al-Aqsa
Grogol Loji, Bakalan, Krapyak Rt 4/V
2000
Ust. Imam dan Ust. Hanifullah
7
3
Ma’ahid
Jl. K.H.M. Arwani Amin, Bakalan, Krapyak
1937
K.H. Kusnin Basri, BA
8
4
Sabilul Rosyad
Pring Sewu, Bakalan, Krapyak
2000
K.H. Makin (Alm)
Jati
9
1
Darul Izzah
Jl. Masjid At-Taqwa, Loram Kulon
1995
K.H. Hamzah Asnawi (Alm)
10
2
Darusy-Syifa’ Al-Islami
Ploso, No. 165 Rt 1/II
2000
K.H. Abdullah Shonhaji
11
3
Al-Ghurobaa’
Tumpangkrasak Rt 1/VII
1995
K.H.M. Mustamir
12
4
Ittihath Tholibin
Jl. Masjid At-Taqwa No. 795, Loram Kulon
1955-an
K.H. Hamzah Asnawi (Alm)
13
5
As-Salam
Tanjung Karang
2002
K.H. Ma’ruf Shiddiq, Lc
Dawe
14
1
Al-Huda Al-Fathoniyyah
Gringging, Samirejo No. 20 Rt 2/I
1967
K.H. Fathoni
15
2
MAK Miftahul Falah
Cendono
1996
K.H. Hamdani, MA
16
3
Manba’ul Falah
Jl. Sunan Muria Piji Rt 1/VI
1991
K.H. Ahmad Shiddiq
17
4
Miftahul Huda
Gringging, Samirejo Rt 2/I
1997
K. Mahmud Junaidi
18
5
Nurul Ulum (Anak-anak)
Piji Rt 4/III
1999
K. Sofyan
19
6
Raudhatuth Tholibin
Lau Rt.5/III
1954
K.H. Abdul Mu’thi
Gebog
20
1
Darun Najah
Talun, Kedungsari, Rt 2/VIII
1986
K. Rosyiban
21
2
Darus Salam
Kuwaraan Getasrabi
2001
K.H. Ahmad Hadi (Alm)
22
3
Al-Furqon
Tulis, Gondosari No. 31 Rt 4/I
1992
K.H. Abdul Basyir, MA
23
4
Al-Hidayah
Srabi Kidul, Getasrabi
2000
K.H. Ibrohim Kholili
24
5
Manarul Huda
Kauman, Besito Rt 3/IV
1983
K.H. Khafidz
25
6
Nurus Salam
Jurang Rt  3/VI
1975
K.H. Hanafi
26
7
PARIS (Pendidikan Anak-Anak Rakyat Islam)
Padurenan Rt 4/I
1930-an
K.H. Ahmad Baqir
27
8
Al-Qudsiyyah
Srabi Lor, Getasrabi Rt 3/V
1992
K.H. Ahmad Muzayyin
28
9
Rahmatillah
Besito Rt 5/VII
1984
K.H. Abdul Manan
29
10
Yanabi’ul Qur’an Anak-anak Putri
2004
K.H. Ma’shum, AK
Undaan
30
1
Irsyaduth Tholibin
Medini, gang II, Rt 6/III
1977
K.H. Afifuddin Rifai
31
2
Ishlahusy Syubban
Undaan Kidul Gg. XI. Rt 7/III
1946
K. Chumaidi Haris
32
3
Al-Khoirot
Undaan Kidul Gg. VII. Rt 5/II
1967-an
K. Hajar Abdul Rodli
33
4
Manalul Huda As-Syafa’
Kalirejo, Rt 2/I
1965
K.H. Musyafa’
34
5
Mu’awanatuth Thullab
Madini Gg. IV Rt 8/I
1962
K.H. Achmad Husein
35
6
Nurus Siroj
Undaan Kidul Gg. XII. Rt 02/IV
1890
K.M. Sholih & K.H. Zaenal Arifin
36
7
Raudhatul Huffadh
Kalirejo
1987
K. Masyasyih
37
8
Rabtotul Huffadh
Undaan Kidul
K.H. Ali Ajwad
38
9
Subulussalam
Sambung Gg. XII, Rt 03/I
1940-an
K.H. Hasan Mas Umar
39
10
Tibbil Qulub
Jl. Prawoto, Kalirejo, Rt 05/IV
1999
K.H. Misbahul Munir
Jekulo
40
1
Bustanul Muhtadin
Bulung Kulon Rt.03/V
1950-an
K. Syafi’i
41
2
Darul Falah
Jl. Sewonegoro, No. 29 Rt.1/X, Kauman, Jekulo
1970
K.H. Ahmad Basyir
42
3
Darul Mubarok
Jl. Sewonegoro, No. 125 Rt.03/IX, Kauman, Jekulo
1983
K.H.A. Romli
43
4
Darul Muqomah
Bulung Kulon, Rt 04/III
1992
K. Muhammad Sholeh
44
5
Dzikrul Hikmah
Tlogo, Gondo Harum
1975
K.H. Khasnan
45
6
Al-Halim
Rt.01/II
1999
K.H. Ahmad Syaerozi
46
7
Hanafiyyah
Kerang Panas, Bulung Cangkring, Rt. 03/I
1977
K.H. Hanafi
47
8
Al-Husna
Jl. Sewonegoro, Kauman, Jekulo
1984
K.H. Rahman Ahmad
48
9
An-Nur
Jl. Sewonegoro No.1, Kauman, Jekulo
1993
K.H. Syafiq Nashan
49
10
Pendidikan Pedoman Islam (PPI)
Bulung Kulon
1965
K.H. Damansari
50
11
Al-Qoumaniyyah Bareng
Jl. Sewonegoro, Kauman, Jekulo, No. 03 Rt. 01/X
1923
K.M. Mujib
51
12
Al-Qoumani-
yah (Huffadh)
Jl. Sewonegoro, Kauman, Jekulo, No. 15 Rt. 01/X
1988
K.H. Hambali
52
13
Rohmatul Ummah Essalafy
Jl. Pandean No. 230
1989
K.H. Mahmudi Amam
53
14
Salafiyyah Asysyafi’iyah
Jl. Gondoharum, No. 08, Rt. 03/I
1979
K.H. Moch. Halimi
54
15
Sirajul Hannan
Jl. Sewonegoro II, No. 27, Kauman, Jekulo
1997
K.H. Ma’shum Rosyidie
55
16
Al-Yasir
Jl. Sewonegoro, Kauman, Jekulo, Rt. 03/IX
1987
K.H. Ahmad Saiq
Kota
56
1
Dar al-Furqon
Kalugawen, Janggalan, No.267. Rt. 01/II
1984
1984
K.H. Abdul Qodir
57
2
Al-Fadlilah
Jl. Lambau. No. 05 Singocandi
2000
K. Nashihul Umam
58
3
Al-Jalil
Kauman Menara Rt.02/I
1957
K. Yasin Djalil
59
4
Ittihadul Falah
Bejen, Kajeksan No.60
2000
K. Habibullah Hambali
60
5
Jam’iyyatul Hidayah Ibu Fathihah
Damaran No.92
1963
Ust. Mutahifah & K. Jamaluddin
61
6
Jam’iyyah Roudlotul Mubarok
Bejen, Kajeksan No.60. Rt.03/III
1990
Ust. Nor Ulfah
62
7
Mafatihul Ulum al-Mathar
Sunggingan No.442-446
1992
K.H. Abdullah Zaeni Nadhirun
63
8
MAK TBS
Jl. K.H. Turaichan Adjhuri No.23, Rt.02/II
1994
K.H. Ahmad Abd. Fatah, MA
64
9
Manba’ul Qur’an (Huffadz)
Rendeng Utara No.14 a
1999
K.H. Shofwan Duri
65
10
Manba’ul Qur’an
Kelurahan, Kajeksan 22
1940-an
K. Zahir Ma’mun
66
11
Mazro’atul Ulum
Damaran No.78
1940-an
K.H. Noor Muttaqin (Alm)
67
12
Al-Mubarokah
Lemah Gunung, Krandon
1989
K.H. Sa’dullah Arrouyani
68
13
Muhammadiyah
Tepasan, Demangan No.180
1990
Ust. Endang Karyati, S.Ag, Ust. Ladun Hakim dan Ust.
Hasan Fauzi
69
14
Nahdlotut
Tholibin
Bejen, Kajeksan   60 Rt.02/III
K.H. Ahmad Chamdun
70
15
Najahuth
Tholabah
Bejen, Kajeksan 60 Rt.02/III
1936
Ust. Hanifah
71
16
Al-Qudsy
Jl. Pangeran Puger No.54 Demaan
2000
Ust. Siki Hariroh
72
17
Raudlatul
Jannah
Bejen, Kajeksan Rt.03/III
K.H. Abdul Azis Mulyono & Nyai Hj. Aminah
73
18
Ar-Raudlotul
Mardliyah
Janggalan No.57
1981
K.H. M. Munir Hisyam
74
19
Raudlatul
Muta’allimin
Jagalan, Langgardalem No.62
1880
K.H. Ma’ruf Irsyad (Alm)
75
20
Raudlatut
Tholibin
Jl.K.H.R. Asnawi No.44 Bendan, Kerjasan
1927
K.H. Moch. Hafidz Asnawi
76
21
Raudlatut
Muta’allimat
Kaligunting, Kajeksan No.115
1969
K.H. Ahmad Yahdi
77
22
Sadzaliyyah
Kyai Noor Hadi
Sunggingan Rt. 02/III
1996
K.H. Abdullah Zaini Nadhirun
78
23
TBS
(Tasywiquth Thullab Salafiyyah)
Jl. K.H. Turaichan Adjhuri No.237, Balaitengahan,
Langgardalem
1920-an
K.H. Taufiqur Rohman
79
24
Yanabi’ul
Ulum Warrohmah
Jl.K.H.M. Arwani Kajan, Krandon
1993
K.H. Maksum AK
80
25
Yanbu’ul
Qur’an – Putera (Pesantren Tahfidz)
Jl. K.H.M. Arwani No.24 Kajeksan Rt.01/III
1970
K.H. Mc. Ulinnuha Arwani
81
26
Yanbu’ul
Qur’an – Puteri (Pesantren Tahfidz)
Jl. K.H.M. Arwani No.24 Kajeksan Rt.01/III
1973
K.H. Mc. Ulinnuha Arwani
82
27
Yanbu’ul
Qur’an – Anak-Anak (Pesantren Tahfidz)
Kebon Agung, Krandon, No.12
1986
K.H. Mc. Ulinnuha Arwani
83
28
Yanbu’ul
Qur’an- Ma’had Al-Ulumisysyar’iyyah (MUSYQ) Lil Banin
Kwanaran Kajeksan No. 139 a
1990
K.H. Arifin Fanani
84
29
Yanbu’ul
Qur’an- Ma’had Al-Ulumisysyar’iyyah (MUSYQ) Lil Banat
Kerjasan No. 82
1993
K.H. Munfa’at A.Jalil, Lc
85
30
Yanbu’ul
Qur’an- Remaja (Pesantren Tahfidz)
Bejen, Kajeksan 3/III
1997
K.H. Mc. Ulinnuha Arwani
86
31
Yanbu’ul
Qur’an- Yatama Utsman bin Affan
Singopadan, Singocandi Rt.01/III
2002
K.H. Mc. Ulinnuha Arwani

Artikelterkait lainnya:

- advertisement -