Beranda blog Halaman 1993

Penduduk Kudus 743 ribu, Jati Terbesar, Bae Terkecil

0

Jumlah penduduk Kudus saat ini tercatat 743.291 juta jiwa. Jumlah itu terdiri dari 379.289 penduduk laki-laki, dan sisanya, 364.002 juta adalah penduduk perempuan.

Demikian data yang dirilis oleh Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri, yang termuat dalam Data Agregat Kependudukan per Kecamatan (DAK2) yang diterima oleh KPU Kudus, Kamis (6/12).
 
Berdasarkan DAK2 itu, jumlah penduduk terbesar terdapat di Kecamatan Jati, yakni 93.402 jiwa, dan angka penduduk terkecil tercatat di Kecamatan Bae, yaitu 62.040 jiwa.

- advertisement -

RMP Sosrokartono, Pahlawan yang Terlupakan (2)

0

Seorang Jurnalis yang menguasai 27 Bahasa


SEPUTAR KUDUS – Pada tahun 1917, koran Amerika The New York Herald Tribune, di kota Wina, Ibukota Austria, membuka lowongan kerja untuk posisi reporter. Tenaga lapangan itu dibutuhkan untuk  meliput Perang Dunia I. RMP Sosrokartono ikut dalam rekruitmen tersebut.  

Tugas yang diujikan dalam tes penerimaan, yakni menyingkat-padatkan sebuah berita dalam bahasa Perancis yang panjangnya satu kolom. Berita itu harus diringkas menjadi sekitar 30 kata, dan harus ditulis dalam 4 bahasa, yakni Bahsa Inggris, Spanyol, Rusia dan Perancis. 


Sosrokartono, putra Bumiputra yang ikut melamar berhasil memeras berita itu menjadi 27 kata, sedangkan para pelamar lainnya lebih dari 30 kata. Persyaratan lainnya juga bisa dipenuhi oleh Sosrokartono, sehingga dirinya terpilih sebagai jurnalis perang pada surat kabar bergengsi di Amerika itu. Dia merupakan jurnalis asing pertama di The New York Herald Tribun. Di dalam buku “Memoir” yang ditulis Drs Muhammad Hatta, disebutkan, Sosrokartono mendapat gaji 1250 Dollar dari surat kabar Amerika. 

Dalam buku “Memoir” juga ditulis jika Sosrokartono juga menguasai bahasa Basque, menjadi penterjemah pasukan Sekutu kala melewati daerah suku Basque. Suku Basque adalah salah satu suku yang hidup di Spanyol. Ketika Perang Dunia I menjelang akhir, diadakan perundingan perdamaian rahasia antara pihak yang bertikai.

Ketika banyak wartawan yang mencium adanya perundingan perdamaian rahasia, dan sibuk mencari informasi, koran Amerika The New York Herald Tribune ternyata telah berhasil memuat hasil perundingan rahasia tersebut. Jurnalis yang membuat berita itu hanya menggunakan anonim dengan kode pengenal Bintang Tiga. Kode tersebut di kalangan jurnalis Perang Dunia ke I saat itu mengenal kode tersebut, yang merupakan kode Sosrokartono. Konon tulisan itu menggemparkan Amerika dan juga Eropa. 


Banyak kalangan saat itu mempertanyakan bagaimana Sosrokartono bisa mendapat hasil perundingan perdamaian yang amat dirahasiakan dan dijaga ketat itu. Apakah Sosrokartono menjadi penterjemah dalam perundingan rahasia tersebut. Jika dia menjadi penterjemah dalam perundingan rahasia itu, lalu bagaimana dirinya menyelundupkan beritanya keluar. Seandainya ia tidak menjadi penterjemah dalam perundingan perdamaian rahasia itu, sebagai jurnalis perang, bagaimana caranya Ia bisa mendapat hasil perundingan perdamaian rahasia tersebut. 


Sayangnya, dari berbagai buku Biografi Sosrokartono tidak ada informasi mengenai hal itu. Namun tak dapat dimungkiri, berita tulisan Sosrokartono di koran New York Herald Tribune mengenai hasil perdamaian rahasia Perang Dunia I itu merupakan salah satu prestasi luar biasa Sosrokartono sebagai jurnalis perang.


Sosrokartono Merupakan ahli bahasa. Ia menguasai 17 bahasa asing, diantaranya  Latin, Yunani, Rusia, Sansekerta, Cina, Jepang, Arab, Perancis, Belanda, Jerman, Spanyol, Slavia. Selain itu, dia juga menguasai 10 bahasa suku di Indonesia. Sebelum menjadi jurnalis The New York Herald Tribune, ia bekerja sebagai penterjemah di Wina, Austria. Di Wina, dia terkenal dengan sebutan sang Jenius dari Timur. Ia juga bekerja sebagai jurnalis di beberapa surat kabar dan majalah di Eropa. 


Sebelum Perang Dunia I berakhir, pada bulan November 1918, Sosrokartono terpilih menjadi penterjemah tunggal oleh Sekutu. Hal itu karena dia merupakan satu-satunya pelamar yang memenuhi persyaratan. Beberapa syarat itu, antara lain ahli bahasa dan budaya di Eropa, serta bukan kalangan orang Eropa. (Mase Adi Wibowo)



Artikel terkait:
Sosrokartono (1) Mahasiswa pribumi pertama belajar di luar negeri
Sosrokartono (2), seoarang jenius menguasai 27 bahasa
Sosrokartono (3) simbol kebangkitan intelektual
Sosrokartono (4) kemabali ke Indonesia
Sosrokartono (5-habis) jenazahnya disemayamkan di Kudus


- advertisement -

RMP Sosrokartono, Pahlawan yang Terlupakan (1)

0

Mahasiswa Pertama Belajar di Luar Negeri

SEPUTAR KUDUS – Di kompleks Makam Sedo Mukti, Kaliputu, Kudus, terdapat sebuah makam  milik pejuang kemerdekaan, yakni Raden Mas Panji (RMP) Sosrokartono. Nama itu kini dijadikan sebuah nama jalan, yakni  Jalan Sosrokartono. Tak banyak memang yang mengenal sosoknya, meskipun jasanya begitu besar terhadap bangsa ini. 

Lahir di sebuah Jepara, tepatnya di Desa Mayong, Kecamatan Mayong, pada 10 April 1877 silam, Sosrokartono tumbuh sebagai seorang intelektul yang menurut Bung Hatta sebagai seorang yang jenius.


Sosro Kartono terlahir dari keluarga bangsawan, putra pasangan Raden Mas Adipati Ario (RMAA) Sosroningrat dan Mas Ayu Ngasirah. Ayahnya merupakan seorang Bupati Jepara. Memiliki tujuh saudara, salah satunya adalah Raden Ajeng Kartini, seorang pahlawan emansipasi perempuan Indonesia. Hubungan Sosrokartono dan Kartini sendiri bisa dikatakan sangat dekat karena mereka saudara seibu dan sahabat dalam berbagi dalam banyak hal, termasuk bagaimana upaya keduanya melawan penindasan yang dilakukan Pemerintahan Hindia Belanda, saat itu.


Sosrokartono muda mengenyam pendidikan Eropesche Lagere School di Jepara. Kemudian melanjutkan pendidikannya ke H.B.S. di Semarang dan pada tahun 1898 meneruskan sekolahnya ke negeri Belanda. Mula-mula Ia masuk di sekolah Teknik Tinggi di Leiden. Namun, karena merasa tidak cocok Ia pindah ke Jurusan Bahasa dan Kesusastraan Timur. Sosrokartono merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang belajar  ke luar negeri. Setelah dia, banyak yang kemudian menyusul, di antaranya generasi Bung Hatta, dan sejumlah tokoh pergerakan kemerdekaan launnya. Dengan menggenggam gelar Docterandus in de Oostersche Talen dari Perguruan Tinggi Leiden, Sosrokartono kemudian mengembara ke seluruh Eropa dan menjelajahi berbagai pekerjaan. (Mase Adi Wibowo)

Artikel terkait:
Sosrokartono (1) Mahasiswa pribumi pertama belajar di luar negeri
Sosrokartono (2), seoarang jenius menguasai 27 bahasa
Sosrokartono (3) simbol kebangkitan intelektual
Sosrokartono (4) kemabali ke Indonesia
Sosrokartono (5-habis) jenazahnya disemayamkan di Kudus

- advertisement -

Tiga Gua Eksotis Desa Wonosoco Kabupaten Kudus

5
SEPUTAR KUDUS – Sejumlah wisatawan mengunjungi gua di Wonosoco.

KUDUS-Masyarakat Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, kini mempunyai tiga gua baru yang ditemukan di atas bukit, Pegunungan Kendeng. Gua tersebut ditemukan para pemburu landak desa setempat, 18 Juli 2011 yang lalu. Dengan tiga gua itu, semakin menambah kekayaan desa yang telah dicanangkan sebagai Desa Wisata di Kabupaten Kudus, tahun 2009, tersebut.


Desa Wonosoco yang secara geografis terletak di ujung selatan Kabupaten Kudus, berjarak sekitar 23 kilometer dari pusat pemerintahan. Dengan potensi alam yang dimilikinya, Desa Wonosoco menjadi tujuan masyarakat untuk berwisata. Sebelum ditemukannya tiga gua tersebut, Wonosoco telah memiliki Sendang Dewot, Wayang Klitik dan taman hutan jati yang menjadi kekayaan desa.


Menurut Kepala Desa Wonosoco, Sudarmin, gua ditemukan oleh sejumlah orang pemburu landak asal Desa Wonosoco. Mereka secara tidak sengaja menemukan gua karena mengejar landak buruannya yang masuk ke dalam lorong. “Setelah lorong tersebut dibuka para pemburu, ternyata lorong tersebut adalah sebua gua. Saat itu juga mereka melapor kepada saya,” kata Sudarmin, saat ditemui di Gazebo Desa, Selasa (20/9) kemarin.


Dengan penuh semangat, Sudarmin menceritakan kondisi tiga gua yang ditemukan. Kemudian ia menunjukkan lokasi gua. Untuk ke lokasi gua, pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar 1 kilometer lebih dari Balai Desa Wonosoco. Kondisi jalan menuju ke lokasi gua belum beraspal, hanya berupa tanah berbatu, namun jalan tersebut dapat dilalui sepeda motor, bahkan mobil. Kondisi jalan sedikit landai, karena lokasi gua terletak di perbukitan. Sepanjang jalan, pengunjung dapat menikmati keindahan hutan jati dan pegunangan yang rindang.


Gua yang ditemukan berada di tiga tempat yang berbeda, namun berjarak relatif dekat satu dengan yang lain. Setelah dirembug dengan sesepuh desa, sudarmin mengatakan,  tiga gua tersebut akhirnya dinamakan, Gua Batu Canti, Gua Keraton dan Gua Surodipo. “Dinamakan Gua Batu Cantik, karena di dalam gua terdapat banyak bebatuan kapur yang terlihat sangat cantik. Gua kedua dinamakan Gua Keraton, karena di dalam gua terdapat susunan stataktit dan stalakmit yang menyerupai taman sebuah Keraton. Gua terakhir dinamakan Gua Surodipo karena berdekatan dengan Punden Mbah Surodipo,” tutur Sudarmin menjelaskan. 


Sudarmin menambahkan, di Gua Keraton terdapat bebatuan kapur yang menyerupai Naga. Di sana juga terdapat sumur sedalam 14 meter yang mengeluarkan air jernih. Air tersebut dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.


Untuk pengelolaan gua, Pemerintah Desa Wonosoco telah membentuk paguyuban yang di dalamnya terdapat 55 orang. Mereka bertugas untuk berjaga, dan mendata pengunjung yang datang. Setiap hari secara bergiliran, mereka datang ke gua untuk mendata pengunjung yang datang, selain itu juga menemani setiap pengunjung atau menjadi tour gaet. Bagi pengunjung yang datang, pengelola telah menyiapkan senter sebagai penerangan di dalam gua.


“Hingga saat ini, ada ribuan pengunjung yang telah datang dan melihat ke tiga gua. Pengunjung yang datan, selain untuk melihat keindahan gua, juga mengambil air di Gua Keraton untuk penyembuhan penyakit,” kata Sudarmin. Menurut data yang dihimpun, pengunjung yang datang tidak hany dari Kudus, namun dari Jepara, Pati, Demak, Grobokan, bahkan dari Semarang, Jakarta dan Surabaya.


Sudarmin berharap, Pemerintah Kabupaten Kudus dapat membantu pengelolaan dan perawatan gua. Sarana jalan menuju lokasi gua menurutnya perlu diperbaiki, pengadaan tempat sampah dan perlengkapan lain juga sangat dibutuhkan. Selain itu, media sosialisasi wisata juga diharapkan dapat disediakan oleh Pemerintah Kabupaten. 


Salah satu pengunjung asal Semarang, Fauzan (24) mengaku terpukau dengan keindahan stalakmit dan stalaktit di dalam gua. Menurutnya, ke tida gua memiliki keindahan yang sama meski memiliki karakteristik yang berbeda. “Selain indah, ketiga gua ini tidak berbau seperti gua lain yang pernah saya kunjungi,” kata Fauzan. Ia menambahkan, pengelola harus mewaspadai tangan-tangan pengunjung yang jahil, dengan mencorat-coret gua, serta merusak stalakmit dan stalaktit. (Mase Adi Wibowo)

- advertisement -

Luas Lahan Pertanian Sawah di Kabupaten Kudus

1
Ilustrasi: Petani sedang menyemprot tanaman.
KUDUS-Berikut akan kami
tunjukkan data Luas Lahan Pertanian Sawah menurut jenis pengairan di Kabupaten
Kudus. Data berikut merupakan data yang dibuat Badan Pusat Statistik Kabupaten
Kudus tahun 2011/2012. Angka-angka yang terdapat dalam tabel merupakan jumlah
dalam hektare (Ha). Semoga ini bisa memberikan manfaat.
Kecamatan
Irigasi
Teknis
Irigasi
Teknis
Irigasi
non-teknis
Irigasi
sederhana
Irigasi
desa
tadah
hujan
Kaliwungu
321
178
130
0
1,320
1,949
K o t a
30
72
0
0
72
174
J a t i
275
299
0
0
464
1,038
Undaan
4,840
965
0
0
0
5,805
Mejobo
209
618
26
0
902
1,755
Jekulo
824
1,084
1,003
0
1,396
4,307
B a e
0
456
15
0
410
881
Gebog
0
976
885
0
191
2,052
D a w e
83
471
442
801
871
2,668
Jumlah:
6,582
5,119
2,501
801
5,626
20,629
Sumber: BPS Kudus
- advertisement -

Museum Daerah Mulai Direhab

0

Kudus-rintisan Museum Daerah yang diisi dengan benda purbakala yang ditemukan di Situs Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo yang menempati eks Kawedanan Tenggeles, Desa Jekulo kini mulai direhab. Tak seperti Museum Kretek yang terletak di Desa Geatas Pejaten, Kecamatan Jati, bangunan rintisan ini kondisinya telah memprihatinkan.

Menurut Kasi Sejarah dan Kepurbakalaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, Sancaka Dwi Supani (24/6) kemarin mengungkapkan proses rehab dilakukan langsung oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Prambanan, pasalnya bangunan tersebut tergolong Benda Cagar Budaya (BCB) yang harus dilindungi.

 “Proses rehab bangunan museum daerah tersebut akan mempercantik bangunan namun tidak merubah bentuk asli bangunan. Sebagaimana ketentuan undang-undang Nomor 5 tahun 1992, rehab bangunan BCB tidak boleh merusak atau merubah bentuk asli bangunan yang ada” papar Supani.

Ia menambahkan, secara keseluruhan proses rehab bangunan akan ditangani langsung oleh BP3, mulai dari desain gambar hingga tenaga kerja dikelola langsung oleh BP3. “Kami dari Disbudpar Kudus hanya bersifat koordinasi. Dan kami cukup bersyukur dengan adanya bantuan rehab ini,’’ tandasnya.

Disinggung mengenai biaya yang dialokasikan untuk proses rehab tersebut Supani mengaku tidak tahu pasti. Sebab, seluruh alokasi biaya yang berasal dari APBD Provinsi dikelola oleh BP3. Bangunan eks Kawedanan Tenggeles merupakan salah satu bangunan yang ditetapkan menjadi BCB oleh Pemkab Kudus. Bangunan tersebut didirikan sejak masa colonial Belanda sekitar tahun 1918.

Bangunan yang sempat mangkrak sebelum difungsikan menjadi museum daerah tersebut terdiri dari pendapa dan bangunan penunjang seluas 340 meter persegi dan didirikan di atas lahan seluas 4.450 meter persegi. Saat ini bangunan tersebut difungsikan sebagai rintisan museum daerah yang menyimpan beberapa peninggalan  bersejarah Kudus.

Sementara itu Ketua Tim Lapangan dan sekaligus juru gambar proses rehab bangunan dari BP3, Herwanto mengatakan rehab akan dilakukan dengan mengganti kayu-kayu atap yang sudah lapuk. Selain itu, bagian tembok depan akan diganti dengan gebyok sebagaimana bentuk bangunan pada awal mula berdiri.

Namun beberapa bagian utama dari bangunan sama sekali tidak akan disentuh, seperti pilar-pilar kayu jati dengan arsitektur kuno serta hiasan-hiasan pada tiang kayu. Keberadaan bagian tersebut akan tetap dipertahankan sesuai aslinya.

Proses rehab yang dikerjakan 12 pekerja terdiri dari tukang bangunan dan ahli gambar tersebut direncanakan selesai 3 bulan ke depan. Tak hanya difungsikan sebagai museum, bangunan tersebut juga akan difungsikan sebagai balai pertemuan dan pelatihan untuk para pelajar dan masyarakat di Kudus agar dapat mempelajari serta mengeksplorasi temuan dari situs purbakala yang dimiliki kota kretek tersebut. (*)

- advertisement -

Stok Pangan Di Kudus Masih Aman

0

Kudus-Memasuki musim kemarau panjang tahun ini, Kepala Bidang Ketahanan Pangan Kabupaten Kudus, Hari Widyowati menyatakan stok pangan telah aman. Hal tersebut diungkapkannya dalam Rapat Koordinasi Ketahanan Pangan di gedung pemerintahan lantai 4, Rabu (22/6) kemarin. Acara yang diikuti berbagai unsur pemerintahan mulai desa hingga kabupaten, serta Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) tersebut dilakukan dalam rangka menyusun strategi pengendalian pangan menghadapi bencana kekeringan.

Menurut widyowati secara makro Kabupaten Kudus telah mencapai kemandirian di bidang ketahanan pangan, hal ini dilihat dari surplus beras di Masa Tanam (MT) ke II  yang mencapai 35,021 ton. Adapun jumlah produsksi beras dari petani di berbagai lumbug pangan yang tersebar di 9 kecamatan mencapai 83,021 ton, sementara cadangan beras di bulog di Kudus mencapai 1.188,8 ton dari 80.000 ton total jumlah di wilayah Eks Karesidenan Pati. “Jumlah tersebut lebih dari cukup untuk ketersediaan pangan untuk masyarakat Kudus, bahkan jumlah yang sekarang ada sudah dikurangi suplai beras ke berbagai wilayah di Jawa Tengah” paparnya.

Widyowati menjelaskan berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri (Kepmendagri) nomor 30 tahun 2008 tentang cadangan pangan pemerintah desa, perlu ada perencanaan yang matang untuk menghadapi musim kemarau. “Pemerintah desa harus siap sejak dini untuk menghadapi kondisi darurat, seperti kekeringan yang mungkin terjadi berkaitan dengan kebutuhan pangan di desanya masing-masing. Karena hal tersebut dapat mengancam kehidupan sosial masyarakat” paparnya.

Salah satu strategi perencanaan ketahanan pangan menurut Widyowati adalah dengan sistem resi gudang. “Resi gudang dilakuakan karena saat terjadinya kelebihan produksi saat panen menyebabkan harga komoditas menjadi lebih rendah dari harga semestinya, sehingga pendapatan petani tidak optimal. Oleh karenanya dibutuhkan lumbung desa agar hasil produksi dapat ditunda dan ketika harga sudah membaik petani dapat menjualnya dari gudang” paparnya.

Ia menambahkan bencana kekeringan mungkin saja terjadi di beberapa desa karena diperkirakan kekeringan akan terjadi hingga bulan oktober dan hal tersebut dapat memicu kurangnya ketersediaan pangan.

Berdasarkan peta wilayah kekeringan yang telah dirilis Dinas Kesatuan Bangsa, Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kabupaten Kudus beberapa waktu lalu, ada 8 desa yang masuk dalam zona rawan kekeringan. 8 desa tersebut adalah Desa Gondoarum di Kecamatan Jekulo, Setrokalangan di Kecamatan Kaliwungu, Glagahwaru dan Terangmas di Kecamatan Undaan, Cranggang di Kecamatan Dawe, Jetiskapuan dan Tanjungkarang di Kecamatan Jati, serta Menawan di Kecamatan Gebog.

Sementara itu Asisten II Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kudus, Tri Mulyo Joko Purnomo mengungkapkan harga beras sebagai konsumsi pokok masyarakat kurun waktu tahun 2010 dan awal 2011 dinilai masih wajar. Namun strategi pengelolaan cadangan pangan tetap harus direncanakan bersama. Adapun pengelolaan cadangan pangan daerah menurutnya di bawah koordinasi institusi terkait dengan Tugas Pokok dan Fungsi (tupoksi) ketahanan pangan daerah.

“Bentuk pengelolaan tidak hanya terbatas pada beras, namun juga pangan yang lain ” katanya. Tri menambahkan pembentukannya dapat dilakukan oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), Unit Pelayanan Teknis Daerah(UPTD) Badan Layanan Umum (BLU) dan badan lain. (SK)

- advertisement -

Seratus Persen Siswa SD di Kudus Lulus UN

0

Kudus-Hari Senin (20/6) kemarin hasil Ujian Nasional (UN) untuk siswa sekolah tingkat dsar, baik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB), Madrasah Ibtidaiyah (MI), negeri dan swasta di Kabupaten Kudus telah dimumkan, 13.240 siswa dinyatakan lulus ujian. Jumlah tersebut merupakan jumlah keseluruhan siswa yang telah mengikuti Ujian Nasional beberapa waktu yang lalu atau bisa dikatakan seluruh siswa SD di Kudus 100 persen lulus ujian.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupten Kudus, Sudjatmiko saat ditemui di kantornya (20/6) pagi kemarin merinci di Kabupaten Kudus ada 594 Sekolahan yang tersebar di 9 kecamatan. Khusus untuk SDLB 13 siswa mengikuti UN dan 29 siswa hanya mengikuti ujian sekolah.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupten Kudus, Sudjatmiko saat ditemui di kantornya (20/6) pagi kemarin mengatakan hasil ini tidak boleh disikapi secara berlebihan. “Sekolah saya harap untuk tidak berpuas diri dengan hasil yang dicapai saat ini, karena hal ini tidak bisa dibuat ukuran bahwa semuanya berjalan sempurna” tuturnya.

Sudjatmiko juga mnyempaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh Kepala Sekolah, guru dan UPT se-Kabupaten Kudus. Ia berharap peningkatn mutu pelayanan kepada siswa tetap ditingkatkan agar hasil di tahun depan bisa lebih dibanding tahun ini. “Pencapaian ini menurut kami adalah hasil dari kerja keras semua pihak, oleh karenanya saya perlu mengapresiasi semua pihak yang terkait” katanya.

Saat ditanya tentang peluang siswa yang lulus untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi di masa Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun 2011 ini, Sudjatmiko tidak merasa khawatir. Karena daya tampung Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat mencukupi dengan jumlah lulusan yang ada. “Saya kira tidak ada alasan lagi untuk tidak melanjutkan sekolah bagi yang merasa kurang mampu, karena alokasi dana pendidikan 20 persen telah direalisasikan dengan banyak program yang diselenggarakan” tuturnya.

Sudjatmiko menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan konsultasi ke Disdikpora seandainya ada yang belum bisa tertampung di SMP atau sederajat. Hal ini menurutnya penting karena pihaknya memprioritaskan masyarakat Kudus. Ia pun menghimbau jika ada pihak sekolah yang membebankan biaya masuk sekolah yang terlalu tinggi untuk bisa mengkoordinasikan ke pihaknya. “Pendidikan adalah aset masa depan bangsa, jika ada yang menghambat seorang warga untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, baik itu kuota atau pun biaya hal tersebut merupakan upaya untuk menghambat kemajuan bangsa” pungkasnya. (*)

- advertisement -

Tanamkan Kejujuran Siswa Dengan “Wajur”

0

Kudus-Semua mungkin sepakat bahwa di Indonesia kejujuran mahal harganya. Berbagai kasus korupsi di lembaga pemerintahan, legislatif, hukum, dan juga pendidikan yang baru-baru ini muncul kasus dugaan mencontek masal saat ujian nasional di SD Gadel, Surabaya menunjukkan betapa kritisnya negeri ini. Namun tak bisa semua dianggap sama karena masih banyak yang optimistis untuk berupaya menanamkan kejujuran pada siswa di sekolahan.

Di Madrasah Islamiyah (MI) Nahdhatul Ulama (NU) Islamiyah yang terletak 20 kilometer dari pusat Kota Kudus, tepatnya di Desa Gamong, Kecamatan Kaliwungu ada sebuah inovasi yang dilakukan pihak sekolah untuk menanamkan kejujuran pada siswanya sejak dini. Upaya tersebut diwujudkannya dalam bentuk “Wajur” atau Warung Kejujuran.

Jika dilihat sekilas memang warung tersebut tidaklah besar, tampak hanya ada dua buah meja berukuran 2 x 1 meter yang di tutupi kain dan diletakkan di atasnya berbagai macam jajanan yang disukai anak-anak. Tak hanya jajanan di sana juga disediakan es teh, es sirup, dan berbagai macam es lainnya, serta nasi bungkus dan mie instan.

Wajur ini memang tak berbeda dengan kantin kejujuran yang banyak dibuat sekolah-sekolah lain, dimana pembeli adalah sekaligus penjual, dalam arti siswa yang membeli di warung kejujuran tersebut mengambil sendiri jajanan yang diinginkan, membayar dan mengambil kembalian dari dan oleh mereka sendiri sesuai daftar harga yang tercantum.

Namun yang menarik di Wajur ini menurut penggagasnya, Charis Rahman yang juga menjadi guru di sekolah tersebut saat ditemui Warta Jateng beberapa waktu yang lalu mengatakan siswa harus membuat mie dan minuman sendiri. “Di samping kami ajarkan kejujuran, mereka juga kami ajarkan kemandirian” tuturnya. Pria lulusan Universitas Muria Kudus (UMK) tersebut menambahkan hasil dari Wajur disamping untuk dibelanjakan lagi, juga dibuat untuk kebutuhan siswa, diantaranya untuk membeli perlengkapan kegiatan ekstra kurikuler yang mereka kelola sendiri dalam sebuah koperasi.

Charis menceritakan awalnya merasa prihatin dengan tekanan yang dialami siswanya ketika menghadapi ujian nasional tahun lalu. “Anak-anak sepertinya tertekan dengan ujian yang dihadapi. Tapi kami memberi pengertian kepada mereka jika sungguh-sungguh belajar pasti akan lulus. Kami sangat melarang mencontek dan berbuat tidak jujur” paparnya. Menurutnya gagasan Wajur pada awalnya terasa aneh menurut guru-guru yang laen, mereka khawatir jika anak-anak belum mampu untuk melaksanakannya. “Namun akhirnya tetap kami laksanakan dan hasilnya membuat kami bangga” katanya.

Menurut Kepala Sekolah MI NU Islamiyah, Noor Kholis Wajur yang dibuat sedikit banyak memberi dampak terhadap pembangunan karakter siswa. “Kepercayaan diri anak-anak sekarang lebih terlihat, mungkin karena mereka kami beri kepercayaan untuk mengelola Wajur. Sekarang intensitas belajar mereka juga meningkat terlihat dari nilai yang ada” katanya. Bahkan menurut Noor Kholis di tahun lalu anak-anak didiknya meraih nilai tertinggi se-Kecamatan Kaliwungu pada ujian nasional. “Kami tidak pernah membayangkan sekolah swasta ini yang menurut saya sendiri tertinggal, minim fasilitas, pelosok, dapat meraih prestasi sebesar itu” katanya haru.

Kedepan, pihaknya akan mengembangkan gagasan kreatif lain sebagai langkah pengembangan karakter siswa. “Kami merencanakan untuk membuat kelas-kelas kreatif di luar mata pelajaran untuk menampung bakat-bakat siswa sesuai dengan minat mereka. Hal ini menurut kami penting karena dengan sistem pendidikan dan kurikulum yang sekaran ini ada belum sepenuhnya memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan bakat dan kemampuan spesifik anak-anak” Pungkasnya. (*)

- advertisement -

Bermain Air di Water Boom Mulia Wisata

12
SEPUTAR KUDUS – Waterboom Mulia Wisata Kudus

SEPUTAR KUDUS – Saat libur sekolah di musim kemarau seperti sekarang ini tidak ada salahnya jika mencoba untuk bermain air sepuasnya di Water Boom Mulia Wisata.  Terletak di Jalan Kudus-Colo, kilometer 12, Desa Lau, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus wahana wisata air tebesar di Kudus tersebut bisa dikatakan sangat lengkap. Di sana trsedia water boom dengan ember tumpah, kolam arus, dan kolam renang standart nasional sepanjang 50 meter. Tak hanya itu bagi penggila mancing, di sana juga tersedia kolam pancing. Bagi yang suka wahana permainan lain, tersedia juga ATV jenis mobil dan motor untuk mngelilingi wahana seluas 15 hektar tersebut.

Untuk dapat masuk ke tempat tersebut, pengunjung hanya dikenakan biaya Rp 15 ribu untuk bermain air sepuanya dari pagi hingga sore hari. Wahana yang buka dari pukul 08.00 samapai pukul 17.00 tersebut buka setiap hari, tak terkecuali hari Minggu dan libur nasional. Di sana juga menyediakan mini market, warung makan, kantin dan aneka buah dan jus. Jadi tidak usah khawatir dan repot membawa bekal dari rumah.

Menurut manajer Mulia Wisata, Samsul Muarif untuk menyambut libur sekolah wahana tersebut tidak ada program khusus, namun bagi rombongan yang berjumlah lebih dari 15 orang akan mendapat diskon khusus. Ia menambahkan ada hal-hal yang tidak diperkenankan bagi pengunjung berwisata di tempat tersebut, diantaranya makan dan minum di kolam air. Untuk fasilitas umum telah disediakan 9 kamar mandi, 15 tempat bilas, 5 gazebo besar dan 15 gazebo kecil.

Untuk bisa mencapai tempat tersebut pengunjung yang ingin menggunakan sepeda motor, sebelum berangkat harus meneliti kondisi motornya terlebih dahulu, pasalnya tempat tersebut melewati jalan menanjak cukup terjal. Namun yang ingin menggunakan transportasi umum bisa naik angkutan warna kuning arah Colo, dan dikenakan biaya sekitar Rp 5 ribu saja. (Mase Adi Wibowo)

- advertisement -

Puluhan Siswa SMK PGRI 2 Kudus Kesurupan

0

SEPUTAR KUDUS – Sejumlah  siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) PGRI 2 Kudus kemarin (14/6) kesurupan saat proses belajar-mengajar berlangsung. Siswa yang mengalami kesurupan berjumlah 8 siswa dan terjadi secara bergantian. Menurut salah seorang siswa, Dimas Haryanto yang menyaksikan kejadian tersebut mengungkapkan tingkah mereka bermacam-macam. “Ada sebagian yang menjerit dan ada juga yang bertingkah seperti anak kecil” katanya. Danar menceritakan sehari sebelumnya (13/6) ada tiga siswa yang juga mengalamu kesurupan. Hal tersebut terjadi setelah jam pelajaran usai.

Menurut salah seorang siswa yang mengalami kejadian tersbut siang kemarin, Ayu Bunga tidak menyadari hal yang telah terjadi. “Setelah sadar tau-tau banyak teman yang mngerumuni saya” jelasnya. Siswi yang duduk di kelas X tersebut menyatakan kekhawatirannya jika di hari berikutnya mengalami kesurupan kembali. “Setelah kesurupan saya merasa lemas dan seperti tidak bisa berkosentrasi, saya takut hal ini terulang lagi” papar siswi yang terlihat pucat setelah mengalami kesurupan tersebut.

Sementara itu Kepala Sekolah SMK PGRI 2 Kudus, Basuki Rahmat mengungkapkan kejadian tersebut berawal dari kegiatan kemah pramuka  yang dilakukan para siswanya di Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus pada 10 hingga 12 Juni yang lalu. Ia menambahkan peserta kemah melakukan lintas alam di sebuah sungai yang menuju tebing yang diketahui warga setempat sebagai kawasan angker. “Warga di sana sebetulnya sudah memperingatkan untuk tidak melakukan kegiatan di tebing tersebut, namun anak-anak tetap melanjutkan rencana lintas alam karena sudah teragendakan” paparnya.

Hal yang dikhawatirkan warga akhirnya terbukti, Basuki menceritakan di hari pertama ada 20 siswa yang mengalami kesurupan. Hal tersebut terjadi sekitar pukul 17.30 hingga tengah malam. “Hari berikutnya kesurupan berulang-ulang terjadi pada siswa lainnya. Hingga mereka pulang hari minggu yang lalu siswa masih ada yang kesurupan” paparnya.

Basuki mengungkapkan untuk menyadarkan siswa yang mengalami kesurupan dan menyadarkannya, pihaknya telah mengundang seorang tokoh spiritual untuk mengusir makhluk halus yang merasuki tubuh siswanya. “Kata tokoh spiritual mkhluk yang bersemayam di tubuh siswa memang berasal dari tempat angker yang diungkapkan warga Wonosoco, mereka masih mengikuti siswa hingga pulang ke sekolah dan tidak mau kembali ke asalnya” tuturnya.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa di hari-hari selanjutnya, pihaknya telah menyiapkan sebuah ritual untuk mengusir makhluk halus yang mengganggu. “Kami berencana akan membuat ruwatan seperti yang telah dianjurkan oleh tokoh spiritual esok hari” ujarnya. Ia mengharapkan para siswa untuk tidak melamun dan mempunyai pikiran yang kosong agar tidak mudah kerasukan. Ia juga berharap setelah ruwatan kejadian tersebut tidak terulang kembali karena telah mengganggu proses belajar. (*)

- advertisement -

Siwa SMP N 2 Kudus Mahir Memainkan Gamelan

0
SEPUTAR KUDUS – Siswa SMP 2 Kudus memainkan gamelan

KUDUS KUDUS – Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 2 Kudus tidak hanya mempunyai prestasi akademik yang membanggakan, Namun sekolah yang telah berstatus Rintisan Sekolah Bertarap Internasional(RSBI) tersebut tidak meninggalkan aspek kebudayaan dan kesenian daerah dalam pengembangan kemampuan siswanya. Tercatat sejumlah kesenian daerah yang mereka miliki cukup beragam, di antaranya kesenian tari tradisional, wayang kulit dan karawitan.

Namun dari sejumlah kesenian yang diprogramkan SMP N 2 Kudus tersebut kesenian karawitanlah yang paling mencolok. Kesenian yang digawangi 30 siswa yang diikuti kelas 1 hingga kelas 3 tersebut menjadi kebanggaan sekolah dan kerap mewakili Kudus dalam beberapa acara di luar kota. Saat acara kunjungan siswa dari Pasir Ris Secondary School (PRSS) hari Senin (6/6) kemarin mereka didaulat untuk menampilkan kemampuannya, mereka terlihat begitu terampil memainkan alat gamelan tersebut dan memukau puluhan siswa asal Singapura.

 Menurut pembimbing kesenian karawitan, Suparni (42) saat ditemui di ruang guru hari Rabu (8/6) mengnungkapkan kesenian karawitan sendiri masuk dalam program ekstra kurikuler (Ekskul) dan sudah ada sejak tahun 2001. “Sebelum mempunyai gamelan sendiri pada tahun 2004, anak-anak latihan dengan alat yang dimiliki pak Sudarsono, mantan Bupati Kudus” katanya. Ia menjelaskan latihan yang dilakukan siswa tersebut tidak tentu, namun intensitasnya bisa dikatakan cukup tinggi.

“Tergantung kesepakatan dengan siswa, kalau saat tidak ada ujian mereka rutin latihan seminggu  dua kali di hari minggu dan satu hari lagi disesuaikan dengan kesepakatan. Dan untuk event tertentu biasanya mereka setiap hari berlatih” paparnya. Ia menambahkan watu latihan dimulai pukul 15.00 WIB sampai pukul 17.30 WIB, di hari Minggu dimulai pukul 09.00 WIB sampai 12.00 WIB.

Menurut Suparni yang juga menjadi guru Bahasa Jawa di sekolah tersebut mengungkapkan lagu-lagu yang diajarkan pelatih disesuaikan dengan usia mereka. “Lagu seperti Cucak Rowo tidak diajarkan di sini” katanya. Adapun lagu yang diajarkan adalah yang memiliki tema pendidikan dan kedaerahan, seperti Kudus Asri, Lenthog Tanjung, Prahu Layar dan sebagainya.

Adapun prestasi yang pernah diraih kelompok karawitan tersebut diantaranya Juara I tingkat SMP Kabupaten Kudus, Juara I tingkat Karesidenan Pati, Juara Harapan di Tingkat Jawa Tengah. Bahkan mereka akan mewakili Kudus untuk tampil di Jateng Famili Fair pada 31 Juni mendatang. “Lomba karawitan tingkat SMP memang jarang digelar, hal inilah yang menjadi kendala untuk aktualisasi. Namun kami berusaha untuk mengupayakan ruang bagi mereka untuk bisa tampil, seperti saat perpisahan, Masa Orientasi Siswa (MOS) dan acara khusus seperti saat kunjungan siswa dari Singapura kemarin” jelasnya.

Sementara itu salah seorang guru pembimbing kesenian lainnya, Ety Dwi Aprilianti mengungkapkan ekskul karawitan dikombinasikan dengan keterampilan seni tari yang juga diajarkan. Menurut guru tari tersebut anak-anak tidak hanya mahir memainkan gamelan dan nyinden, namun mereka juga mahir melakukan tari yang diajarkan. “Kombinasi tari, nyinden dan gamelan memang tidak bisa dipisahkan, bahkan mereka juga ada yang dilatih untuk ndalang” tuturnya.

Ety menambahkan dukungan dari sekolah memang sangat besar. Dari pembelian alat, kebutuhan siswa dan biaya operasional ditanggung sepenuhnya oleh pihak sekolah. “Hal ini dilakukan karena SMP N 2 Kudus mempunyai visi tidak hanya mengembangkan sekolah ke arah akademik, namun juga mempertahankan warisan budaya sebagai penegasan jati diri bangsa” pungkasnya. (Mase Adi Wibowo)

- advertisement -

Satpol PP Kudus Razia Kendaraan Penunggak Pajak

0

SEPUTAR KDUUS – Dengan diberlakukannya Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Jawa Tengah nomor 2 tahun 2011 tentang Pajak Provisnsi Daerah Jawa Tengah, Satpol PP Kabupaten Kudus beserta jajaran Satpol PP Provinsi Jawa tengah menggelar razia di sub terminal Bae, Jalan Kudus-Colo hari Rabu (15/6) kemarin. Razia yang di mulai pukul 10.00 tersebut tak hanya dilakukan oleh Satpol, namun juga melibatkan Polres Kudus dan Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus. Menurut Kepala Bidang Penegakan Perda Provinsi Jawa Tengah, Petrus Suharto mengungkapkan operasi dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan pendapatan daerah.

“Pendapatan pajak dari sektor kendaraan sejauh ini belum maksimal, karena itu kami dengan menggunakan dasar perda Jateng akan melakukan penindakan kepada pengguna kendaraan yang menunggak pembayaran” paparnya. Ia menambahkan sejauh ini pihaknya telah melakukan operasi diberbagai daerah dibantu penegak perda setempat. Beberapa daerah yang telah dilakukan operasi serupa adalah Kabupaten Cilacap, Banjarnegara, Purbalingga dan Kudus. “Esok hari (16/6) kami akan melakukan operasi penegakan perda di Kabupaten Blora, dan kabupaten-kabupaten lain kami rencanakan menyusul” katanya.

Keterlibatan beberapa elemen dalam operasi tersebut menurut Petrus dilakukan dengan tujuan sinergitas antar lembaga penegakan hukun dan instansi terkait. “Pihak kami menindak pengendara yang menunggak pajak kendaraan motor dan mobil, untuk KIR ditangani Dishub dan Polres menangani pelanggaran lalulintas, seperti tidak membawa SIM atau STNK” jelas petrus di sela-sela operasi.

Petrus menjelaskan dalam operasi tersebut, bagi para pengendara yang melakukan pelanggaran sementara tidak dikenakan sanksi. “Ini baru tahap sosialisasi, mereka yang melanggar akan diminta membuat surat pernyataan agar segera melakukan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)” paparnya. Untuk pelanggaran yang ditangani Dishub dan Polres, penindakan sepenuhnya diserahkan kepada petugas terkait.

Sementara itu Kepala Bidang Penegakan Perda Kabupaten Kudus, Jhoni Dwi Haryono mengungkapkan operasi tersebut merupakan yang pertama kali dilakukan di Kudus. Pasalnya perda yang ditegakkan juga masih dalam tahap sosialisasi. “Kami belum mempunyai rencana untuk menggelar operasi serupa, tinggal nanti bagaimana tindak lanjut dari pemerintah Kabupaten terkait perda provinsi tersebut” katanya. Namun Ia beserta jajarannya senantiasa mendukung pemberlakuan perda tersebut mengingat operasi yang digelar bisa meningkatkan pendapatan daerah. “Kami sejauh ini telah melakukan penegakan perda di bidang cukai rokok dan perda lain seperti PKL liar, tempat hiburan malam. Jika kami harus melakukan penegakan perda satu lagi, kami pun siap” ujarnya.

Dalam operasi yang digelar selama satu jam tersebut, sebanyak 32 pelanggar telah ditindak sesuai dengan peraturan yang berlaku, denagn rincian 9 pengendara melanggar PKB, 3 kendaraan melanggar KIR dan 5 pengendara tidak dapat menunjukkan STNK, serta 18 pengendara tidak dapat menunjukkan SIM. (*)

- advertisement -

BEM FKIP UMK Resahkan Mahasiswa yang Tak Kritis

0

SEPUTAR KUDUS – Kurangnya kepedulian mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) menyikapi kebijakan pemerintah disesalkan oleh Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMK Muhammad Faisol. Hal tersebutlah yang menjadi inspirasi digelarnya Bincang Sore di Auditorium UMK hari Selasa (7/6). Acara tersebut dihadiri puluhan mahasiswa dan beberapa narasumber di antaranya  Amir Faisol, M Jazuli dan M Ghofar.

“Kami cukup prihatin dengan keadaan mahasiswa sekarang, kurangnya kritisme dalam diri mereka saya khawatirkan kedepan bangsa ini akan minim mencetak pemimpin” kata faisol saat ditemui sebelum acara berlangsung. Ia menambahkan sengaja dihadirkan tokoh mahasiswa seperti Amir Faiso yang sedang menjabat Ketua Umum Pergrakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kudus agar Dia bisa menginspirasi mahasiswa yang lain.

“Sejak dulu mahasiswa mendapat gelar agen perubahan sosial, seharusnya kawan-kawan di UMK sadar akan itu dan segera bangkit merespon kebijakan yang ada” tandasnya. Ia mengungkapkan sangat iri ketika di awal Ia masuk kuliyah dulu, dan menurutnya sekarang mahsiswa malas untuk melakukan kajian-kajian. “Dulu setiap sudut kampus ada kelompok-kelompok kecil melakukan diskusi dan kajian, kampus begitu bergairah dengan semangat mengkaji tentang banyak hal. Namun sekarang kampus trlihat lebih sepi dari aktifitas mahasiswa” keluhnya.

Amir Faisol melihat hal ini terjadi adanya faktor internal dari mahasiswa itu sendiri yang menganggap gerakan mahasiswa sebagai sesuatu yang menakutkan. “Padahal sadar atau tidak mahasiswa kedepan menjadi pemimpin bagi masyarakatnya” katanya. Ia menambahkan kurangnya minat baca dan pengamatan peristiwa yang terjadi di masyarakat adalah faktor internal yang lain. “Kritisme mahasiswa dapat dibangun dengan ketajaman analisa ketika melihat sebuah peristiwa. Dan ketajaman tersebut dapat diasah dengan keilmuan, informasi, dan data yang mereka rekam” paparnya.

Sementara itu M Jazuli juga menyesalkan mahasiswa di Kudus yang sekarang kurang greget. Berbagai peristiwa sosial dan efek kebijakan pemerintah kurang mendapat respon dari mahasiswa. “Dibangunnya hypermart di kawasan Tugu Identitas Kudus seharusnya direspon oleh mahasiswa, namun saya belum melihat itu” kata tokoh masyarakat tersebut.

Menurutnya mahasiswa seharusnya menjadi garda terdepan dalam menyiapi kebijakan pemerintah, karena mahasiswa sejak dulu dikenal kritis dan tidak mempunyai muatan kepentingan apapun selain membela kepentingan rakyat. Lebih lanjut Ia menjelaskan sejarah mahasiswa sebelum dan paska kemerdekaan memegang peran kunci. “Dari rezim Sukarno hingga Suharto, mahasiswalah yang selalu menjadi yang terdepan. Bahkan di tahun 1998 mahasiswa menjadi korban keganasan tentara saat mengawal isu Reformasi.

M Ghofar, salah seorang narasumber lainnya mengungkapkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) butuh dukungan dari ekstra parlementer yang sejak dulu diperankan oleh mahasiswa. Salah satu anggota DPRD Kabupaten Kudus tersebut mahasiswa sekarang terlihat pasif. “Jika ada kebijakan dari pemerintah, baik nasional maupun daerah suara Anggota Dewan saja tidak cukup. Perlu ada dorongan lebih dari kawan-kawan mahasiswa dan masyarakat agar suara kami lebih kuat” tuturnya.

Dalam acara tersebut terjadi dialog antara narasumber dan mahasiswa yang antusias mengikutinya. Salah seorang mahasiswa saat sesi dialog menyatakan alasan mahasiswa UMK yang kurang kritis diakibatkan semakin padatnya tugas mata kuliyah yang harus dikerjakan. “Apakah hal ini sebuah langkah untuk mengekang kami?” Ungkapnya.

- advertisement -

Yuli Astuti, Angkat Kembali Kapal Kandas Batik Kudus

1
SEPUTAR KUDUS – Yuli Astuti
SEPUTAR KUDUS – Perempuan yang satu ini memang luar biasa, bukan karena kuat
mengangkat kapal sungguhan, namun perempuan bernama lengkap Yuli Astuti ini
berhasil mengembalikan kejayaan batik Kudus menjadi kekeayaan budaya nasional
dan salah satu motif yang paling khas dibanding batik di daerah lain adalah
Kapal Kandas.
Perempuan yang lahir pada 15 Desember 1980 ini awalnya
mengikuti pertemuan yang diadakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten
Rembang untuk pelatihan membatik bersama 9 orang lainnya, namun hanya dirinya
yang bertahan untuk mengembangkan batik. Dari acara tersebut ia akhirnya
mengetahui bahwa Kudus pernah berjaya dalam pembuatan batik, kemudian ia sangat
tertarik dan termotifasi untuk mengangkat kembali batik yang sempat tenggelam
di kota kretek tersebut, Yuli akhirnya memutuskan untuk menggali lebih dalam
tentang batik Kudus.
“Pertamanya sangat sulit untuk menggali literatur batik
Kudus, tapi saya tidak menyerah,” paparnya (26/6) di galerinya yang beralamat di
Desa Karang Malang RT 04 RW 02 Nomor 11, Gebog, Kabupaten Kudus, beberapa waktu lalu.
“Bisa dikatakan harus berdarah-darah awalnya, saya sama
sekali tak paham tentang batik, teknik pembuatannya, apalagi tentang sejarah
batik Kudus. Saya harus ke Jogja, Solo dan Pekalongan dengan bersepeda motor
hanya untuk belajar dan menggali tentang batik Kudus,” paparnya. Dalam
perburuannya selama kurang lebih dua tahun, ia harus rela merogoh kocek hingga
Rp 60 juta, diantaranya untuk membeli batik Kudus dari seorang kolektor.
Perempuan berkulit kuning langsat tersebut menambahkan
dirinya harus menapak tilas kejayaan batik Kudus dari berbagai sumber. Setelah
lama mencari akhirnya ia menemukan sosok wanita yang hingga sekarang masih
membatik dengan motif  khas Kudus di
daerah Kaliwungu.
“Bu Niamah adalah satu-satunya orang Kudus yang masih
membatik di usianya yang telah renta, beliau lah yang mengajari saya tentang
dasar dan teknik membatik serta menunjukkan motif Kapal Kandas yang terkenal
itu” paparnya.
Yuli menceritakan, dinamakan Kapal Kandas karena ribuan
tahun silam kapal Sam Po Kong yang berlayar melewati pesisir Muria kandas
karena rusak, para penumpang asal negeri tirai bambu tersebut akhirnya banyak
yang bermukim di lereng Muria, cerita tersebut akhirnya diabadikan dalam motif
batik oleh masyarakat Kudus.
Lebih lanjut Yuli menceritakan batik Kudus mengalami
kejayaannya di tahun 1930an dengan berbagi motif yang didominasi corak pesisir
yang berwarna-warni dan akulturasi kebudayaan china. Tak hanya itu motif
kaligrafi dan kebudayaan Islam juga mengilhai pembuatan batik karena pengaruh
para wali yang menyebarkan agama di Kudus.
Menurut Yuli sebelum Pekalongan dikenal sebagai kota batik,
Kudus lebih dulu dikenal sebagai pelopor di Jawa Tengah selain Solo. Bahkan
para perajin di Pekalongan dulu banyak memuat motif Kudus untuk diproduksi.
Baru di akhir tahun 1970an batik Kudus mengalami penurunan karena banyak
masyarakat Kudus yang memilih untuk menjadi pengusaha rokok kretek, bahkan di
tahun 1990an hingga tahun 2000an batik sama sekali tak dikenal.
Kembali Mendunia

Kerja kerasnya selama kurun waktu 6 tahun ini akhirnya batik
Kudus kembali dikenal, tidak hanya di kancah nasional namun juga banyak diburu
oleh kolektor luar negeri. Usaha kerasnya yang harus menggali sendiri literasi
dan sejarah tentang batik Kudus sekarang membuahkan hasil.
Dalam membuat batik Kudus ia tak melupakan Kapal Kandas,
namun ia juga mengeksplorasi berbagai macam motif lain yang ia ciptakan sendiri
dengan mengambil inspirasi dari hasil alam di Kudus, seperti Pari Jotho, Beras
Kecer dan Pakis Haji. Karyanya tersebut ia perlihatkan di galerinya yang ia
beri nama “Muria Batik Kudus” dan telah terdaftar di HAKI dengan nomor registrasi
IDM000197060.
Dalam memproduksi batik, Yuli dibantu 14 karyawan yang ia
bina dari nol. 7 karyawan bekerja di galerinya dan 7 lainnya memproduksi di
rumah mereka masing-masing. “Mereka ini yang sebetulnya memberi semangat kepada
saya, bersama mereka saya belajar dari nol. Saya sadar betul bahwa untuk
membatik dibutuhkan keterampilan khusus, makanya mereka ini saya gondeli”
tuturnya.
Berbagai pameran tingkat nasional ia ikuti demi mengenalkan
kembali batik Kudus. berbagai galeri di ibu kota pun memajang karya batiknya,
di antaranya di tebet dan menteng. “Sambutan masyarakat pun lur biasa, tak
hanya masyarakat umum, namun juga pejabat dan para artis pun mengoleksi batik
yang saya buat, bahkan orang luar negeri seperti Malaysia, Inggris, Jerman,
Jepang juga tertarik untuk mengkoleksi” katanya.
“Bahkan sekarang saya ramai diundang untuk menjadi
narasumber dan memberi pelatihan membatik di mana-mana. Dalam waktu dekat ini
saya diundang untuk menjadi narasumber di Museum Batik Nasioal di Jakarta dalam
sebuah seminar” katanya.
Untuk menjaga agar tidak dilupakan lagi, Yuli menggandeng
berbagai unsure masyarakat di Kudus, diantaranya pemerintah, perusahaan dan
juga para siswa. Targetnya tidak muluk-muluk hingga menjadikan batik Kudus
untuk masuk dalam muatan lokal mata pelajaran di sekolah, hanya mendapat
apresiasi dari masyarakat pun ia sudah merasa senang. “Di galeri ini (Muria
Batik Kudus) saya telah menyediakan tempat untuk anak-anak untuk belajar batik,
mereka tidak kami bebankan biaya, hanya sekedar untuk mengganti ongkos
produksi” paparnya. (Mase Adi Wibowo)
- advertisement -