BETANEWS. ID, PATI – Angka kematian penderita HIV/AIDS di Kabupaten Pati terhitung tinggi, yakni mencapai 455 orang. Jumlah tersebut, merupakan akumulasi dari 1996 hingga September 2023.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati, Aviani Tritanti Venusia, merinci, selama periode tersebut, sebanyak 2.566 kasus HIV/AIDS ditemukan di Kabupaten Pati. Menurutnya, sejak delapan tahun terakhir, kasus HIV/AIDS di Kabupaten Pati menyentuh lebih dari 200 kasus setiap tahunnya. Pada tahun lalu, ada 291 kasus ditemukan Dinkes Pati.
Sementara, pada tahun ini hingga September saja, 219 kasus sudah ditemukan, dan 22 orang di antaranya meninggal dunia.
Baca juga: Kos-kosan di Pati Dirazia, Puluhan Orang Dites HIV/AIDS dan Hasilnya Satu Positif Sifilis
”Sampai September kemarin, kami menemukan HIV/AIDS sebanyak 219 kasus. Kasus total dari 1996 sampai September 2023 itu ada 2.566 kasus. Yang meninggal ada 455. Di tahun ini yang meninggal 22 orang,” ujar Aviani, Jumat (1/12/2023).
Katanya, jumlah kasus itu dari berbagai jenis penularan, mulai dari berganti-ganti pasangan seks, jarum suntik, penularan dari ibu hamil yang terjangkit HIV/AIDS, hingga kasus lelaki seks lelaki (LSL). Angka HIV/AIDS dari kaum LSL sendiri menembus lebih dari 600 kasus hingga tahun ini.
”Hubungan bebas dan prostitusi itu juga bisa menularkan. Perilaku lain juga ada, seperti LSL juga ada dan jarum suntik juga ada,” ungkapnya.
Pihaknya terus melakukan berbagai upaya pencegahan penyakit ini, mulai dari melakukan tracking di beberapa tempat yang rawan penularan hingga memberikan obat kepada penderita HIV/AIDS, seperti tempat karaoke dan tempat prostitusi.
”Kita melakukan pencegahan, kita tetap melakukan sosialisasi. Kita juga jemput bola ke kelompok risiko tinggi untuk diskrining dan pencegahan,” imbuhnya.
Baca juga: Dinkes Demak Temukan 93 Kasus HIV/AIDS Selama 2023, Paling Muda Usia 17 Tahun
Ia mengimbau kepada masyarakat untuk rutin melakukan pengecekan kesehatan. Dinkes Kabupaten Pati juga meminta masyarakat untuk tidak khawatir dengan tes HIV/AIDS. Bila menemukan kasus, pihaknya siap mengobati agar penderita bisa bertahan hidup.
”Kita pantau, terapinya jalan atau tidak. Kita juga bekerja sama dengan LSM yang bergerak di sini. Kita harap jangan berganti-ganti pasangan,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

