31 C
Kudus
Kamis, Februari 12, 2026

Ledekan Desa Berugenjang Kudus, Tradisi Unik di Tengah Sawah

BETANEWS.ID, KUDUS – Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus punya tradisi unik yang jarang ditemui di beberapa desa lainnya, namanya adalah Ledekan atau tayuban. Tradisi setahun sekali tersebut digelar di tengah pemantang sawah, sehingga membuatnya unik dan berbeda.

Seperti tahun ini, tradisi peninggalan leluhur itu dilaksanakan, Rabu (6/9/2023). Tradisi tersebut selalu digelar di area persawahan yang biasa disebut masyarakat sekitar di sawah Sangkal Putung, atau lebih tepatnya berada di area persawahan Dukuh Beru.

Baca Juga: Sarasehan Bareng Forum Kalen, Joko Elysanto Ajak Kudus Melek Aksara Jawa

-Advertisement-

Terlihat sejumlah warga sangat antusias dan berbondong-bondong berdatangan ke lokasi digelarnya tradisi tersebut. Sebelum dimulainya tayuban, warga dan segenap Pemerintah Desa (Pemdes) Berugenjang, serta Babinsa dan Babinkamtibmas melakukan khajatan atau dia bersama terlebih dahulu sebagai rasa syukur mereka kepada tuhan.

Setelah doa yang dipanjatkan selesai, mereka terlihat ‘kepungan ingkung’ yang sengaja disiapkan oleh Pemdes Berugenjang. Selanjutnya acara Tradisi Ledekan pun mulai dengan tembang Jawa yang diiringi dengan musik karawitan. Terlihat dua sinden lalu membawakan tembang Jawa untuk menghibur warga di sana.

Tak lama kemudian, beberapa orang kemudian mengajak salah satu sinden untuk menari bersama dalam tradisi tersebut. Warga yang menari ala tayuban itu terlihat sangat menikmati iringan gamelan dengan tembang Jawa yang dinyanyikan oleh sinden tersebut.

Kepala Desa Berugenjang, Kiswo mengatakan, Tradisi Ledekan secara rutin digelar setiap setahun sekali saat musim kemarau. Menurutnya, tradisi itu merupakan peninggalan leluhur yang hingga saat ini tetap dilestarikan.

“Tujuannya ya syukur kepada tuhan kepada tuhan yang maha kuasa atas segala limpahan rahmatnya, yang telah memberikan hasil bumi atau hasil pertanian palawija dan seterusnya. Itu wajib kita lestarikan setahun sekali di bulan September atau musim kemarau,” katanya, Rabu (6/9/2023).

Konon menurut dari cerita sesepuh dan leluhur, kata Kiswo, tradisi itu ada ketika petani yang bekerja di sawah Sangkal Putung sedang beristirahat. Di sela istirahatnya petani itu ada tukang ngamen dengan Gending Jawa di area persawahan tersebut.

“Kemudian akhirnya tradisi itu diuri-uri hingga kini. Sehingga sampai saat ini kami selaku Pemerintah Desa harus menjaga itu, sebagai tradisi dari leluhur yang harus dilestarikan,” ungkapnya.

Kiswo pun tidak mengetahui secara pasti terkait kapan tradisi itu ada. Terpenting menurutnya, semua tradisi yang ada di desa tersebut tidak boleh ditinggalkan. Terlebih, Desa Berugenjang mempunyai undang-undang desa yang mewajibkan dan melestarikan budaya dan tradisi yang ada di sana.

“Terlepas dari maknanya apa, yang penting kita bersyukur kepada Allah SWT untuk melestarikan budaya atau adat istiadat. Karena syukurnya kan berupa macam-macam, ada yang kenduri, ledekan, sindenan, dan seterusnya,” jelasnya.

Baca Juga: Berebut Berkah Sunan Ngerang, Belasan Gunungan Ludes Diperebutkan Warga

Ia menambahkan, antusiasme masyarakat dengan adanya tradisi itu bagus. Karena jika tidak dilaksanakan atau digelar pasti ada pertanyaan dari warga kenapa tidak digelar.

“Misalkan tidak ada tradisi ini pasti ditanyakan. Kami dari Pemdes tidak bisa meninggalkan, karena ini adat yang harus dilestarikan,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER