Belum Masuki Kemarau Ekstrem, Sebagian Sumur di Undaan Kudus Sudah Mengering

BETANEWS.ID, KUDUS – Walaupun saat ini belum memasuk puncak kemarau kering atau kemarau ekstrem, beberapa sumur warga yang ada di wilayah Kecamatan Undaan, Kudus sudah ada yang kering.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam keterangan resminya memprediksi tahun ini Indonesia akan mengalami fenomena El Nino mulai September. Dimana dampak kemarau lebih panjang dan kering dari biasanya.

Baca Juga: Ganjar Akui Persebaran Dokter di Indonesia Belum Merata dan Dokter Spesialis Masih Kurang

-Advertisement-

“Salah satu sisi negatif El Nino adalah ketersediaan air menipis dan curah hujan berkurang dari biasanya,” tulis BMKG di akun X miliknya.

Diketahui, setiap kemarau beberapa desa di Kecamatan Undaan dilanda kekeringan dan sulit mendapatkan ketersediaan air bersih. Tak hanya itu, air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang mengalir ke wilayah itu juga tidak lancar.

Seperti saat ini, meskipun masih Agustus, air dibeberapa sumur warga Kecamatan Undaan semakin menyusut.

“Saat ini sumber air dari sumur ini bagus dan tidak berbau. Biasanya kalau untuk kemarau panjang terjadi di bulan September dan Oktober. Bahkan tetangga sekitar malah mengambil air di sini, karena air di sumurnya sudah kering,” kata Jamasri di kediamannya, Desa Kalirejo RT 4 RW 1, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.

Pria 78 tahun itu mengaku, sumber air di sumur miliknya masih aman untuk digunakan mandi, masak, dan minum.

“Kalau di sini paling sedikit palingan masih dua lontong, sehingga masih mencukupi kebutuhan di saat kemarau,” jelasnya, Jumat (28/7/2023).

Ia menuturkan, kebanyakan warga di desanya saat ini memilih membeli air jerigenan untuk kebutuhan air minum. Air tersebut berasal dari sumber di Desa Jetiskapuan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus.

Hal senada juga dikatakan oleh Sholehah yang juga warga Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan. Dia mengatakan, Kondisi air di sana masih stabil dan bagus. Meski begitu, ada kalanya air dari sumber di sumurnya itu berubah-ubah. Terkadang kuning dan terkadang jernih.

“Kalau pagi hari biasanya air berwarna kuning, sedangkan kalau siang dan sore hari itu sudah jernih lagi,” tutur warga RT 3 RW 1 Desa Kalirejo tersebut.

Baca Juga: Elemen Masyarakat Kudus Gelar Demo Minta Usut Kasus Dugaan Korupsi di Dinas Kesehatan

Ia menambahkan, tak hanya mengandalkan sumber air dari sumur, pihaknya juga mengambil PDAM untuk kebutuhan memasak lentog yang dijual di pasar. Ia mengaku, sudah lama memakai PDAM. Menurutnya, aliran air PDAM saat ini bagus, lantaran belum lama ini aliran air diganti lebih besar dari sebelumnya.

“Saat ini untuk aliran airnya bagus. Karena Pralon (PVC) sudah diganti lebih besar dari sebelumnya. Untuk air PDAM ini saya gunakan untuk masak, sedangkan untuk sumber air dari sumur ini tak pakai mencuci dan mandi. Kemudian untuk minumnya membeli air jerigen dari Desa Jetiskapuan,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER