31 C
Kudus
Rabu, Februari 11, 2026

Ganjar Akui Persebaran Dokter di Indonesia Belum Merata dan Dokter Spesialis Masih Kurang

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengakui persebaran dokter dan fasilitas kedokteran di Indonesia belum merata dan belum cukup. Selain itu, dokter spesialis juga masih kurang sehingga perlu dilakukan akselerasi.

“(Untuk persebaran dokter) pasti kurang jawabannya,” ujarnya saat membuka Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (Perdosni) di Padma Hotel, Kota Semarang, Jumat (4/8/2023).

Selain persebaran dokter, Ganjar juga menyinggung peningkatan kualitas dokter. Menurutnya, untuk menghadapi tantangan kesehatan di masa depan, ilmu kedokteran dan pelayanan Kesehatan harus ditingkatkan. Khususnya dalam menghadapi triple burden disease yakni penyakit menular, penyakit tidak menular, dan munculnya penyakit baru.

-Advertisement-

Baca juga: Di Depan Ribuan Dokter Spesialis, Ganjar Bayangkan ke Depan Bisa Periksa Kesehatan Pakai AI

“Maka kalau hari ini banyak dari dunia kedokteran selalu upgrade ilmunya dan kemudian selalu memperbaiki fasilitas pelayanannya, maka dunia kedokteran akan tumbuh,” kata Ganjar.

Ganjar memberikan contoh kemunculan penyakit baru, yaitu Covid-19. Penyakit baru ini telah melumpuhkan aktivitas dunia kurang lebih dua tahun. Di sinilah update keilmuan dokter menjadi kunci, bagaimana penyakit ini bisa diatasi, juga bagaimana kesadaran masyarakat dalam mempraktikkan gaya hidup sehat.

Ganjar mengatakan, peningkatan keilmuan itu juga harus dilakukan oleh dokter spesialis saraf atau neurologi yang tergabung dalam Perdosni.

“Para dokter yang ahli dan hebat-hebat ini sekarang mengupgrade ilmunya, mengupdate ilmunya, sehingga bagaimana bisa menyelamatkan lebih baik. Kalaulah kemudian itu bisa dilakukan, beberapa penyakit seperti stroke yang menjadi faktor angka kematian tertinggi bisa ditangani dengan baik,” katanya.

Dari sisi pelayanan, ilmu baru, tenaga baru yang handal, dan teknologi pasti dibutuhkan. Maka dari itu, capacity building sumberdaya manusia dan penggunaan teknologi perlu dilakukan. Apalagi, melihat geografis Indonesia yang sangat luas sehingga dibutuhkan pelayanan maksimal untuk masyarakat.

Baca juga: RSUD Kudus Kekurangan 100 Tenaga Medis Mulai Dokter hingga Perawat

“Dunia kedokteran dengan teknologi hebat banyak yang selamat. Pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dibutuhkan fasilitas yang cukup, rasio layanan dengan Indonesia yang gedenya minta ampun dan peralatan-peralatan yang musti canggih sehingga kemudian pelayanan tercanggih bisa diberikan kepada rakyat,” katanya.

Ketua Perdosni, Dodik Tugasworo, mengatakan ada 2.361 neurolog yang tergabung dalam Perdosni. Mereka tersebar di 29 cabang Perdosni di seluruh Indonesia. Sementara untuk pusat pendidikan neurologi saat ini masih sekitar 14 lokasi dan seiring berjalannya waktu akan bertambah tiga tempat baru.

“Kita tahu bagaimana pentingnya neurolog ke depan. Usia lanjut semakin meningkat. Berdasarkan data yang ada, stroke menduduki angka tertinggi kematian di Indonesia. Belum lagi adanya penurunan produktivitas seiring bertambahnya usia,” katanya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER