BETANEWS.ID, DEMAK – Kerusakan mangrove yang terjadi di pantai Glagah Wangi, Tambakbulusan, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak, mengakibatkan adanya abrasi di wilayah tersebut. Hal itu disebabkan, kurangnya konservasi masyarakat terhadap mangrove.
Menurut Kabid Perikanan Tangkap dan Kelautan DKP Demak, Sulchan, abrasi salah satunya dipicu oleh pengerukan pasir di bibir pantai oleh masyarakat untuk pembuatan saluran air, dengan tujuan pemeliharaan mangrove. Akan tetapi, kurangnya pengetahuan menyebabkan mangrove menjadi mati.
Baca Juga: Air Pantai Glagah Wangi Demak Dipercaya Bisa Obati Gatal-Gatal hingga Flu
“Memperbaikinya itu mereka mengambil pasir di sekitar itu (bibir pantai) dibuat urugan lebih lebar, akan tetapi mangrove mati ketutup pasir. Itu kami sudah kami ingatkan, karena pemikiran kami, itu nanti bisa merusak ekosistem,” katanya saat ditemui di kantor DKP Demak, Senin (31/7/2023).
Tidak hanya itu, kurangnya keterlibatan masyarakat yang paham tentang mangrove membuat kerusakan di pantai Tambakbulusan menjadi parah.
“Kami berharap orang yang ahli bisa dimasukkan kembali,” imbuhnya.
Kerusakan mangrove kebanyakan dari jenis api-api yang fungsinya sebagai sabuk hijau di pesisir pantai.
“Mangrove jenis api-api ini bisa memfilter air asin melepas kadar garam, ketika tergenang ia tidak bisa melepaskan kadar garamnya. Kalau akarnya itu ditimbun maka akan mati, sehingga seharusnya dibuat aliran,” terangnya.
Baca Juga: Pernah Viral, Pantai Glagah Wangi Demak Kini Sepi Pengunjung Gara-Gara Ini
Tidak hanya api-api, puluhan mangrove juga hidup di pantai Tambakbulusan. Ia berharap masyarakat mulai sadar tentang pelestarian mangrove di wilayah tersebut.
“Paling tidak untuk mengelola itu coba lah merangkul orang-orang yang ahli. Padahal di sana ada 20 jenis mangorve,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

