BETANEWS.ID, DEMAK – Pemerintah kabupaten (pemkab) Demak melalui program Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), mengembangkan gudang garam membantu para petani dalam menjaga kualitas harga.
Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Tangkap dan Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Demak, Sulchan mengatakan, kendala cuaca mengakibatkan panen garam di Demak mengalami penurunan. Hal itu mulai dirasakan sejak tahun 2021-2022.
Baca Juga: KPU Demak Catat 4.354 Pemilih Disabilitas pada Pemilu 2024
“Tahun terbagus itu tahun 2017- 2018 itu bisa per hektare mencapai sekitar lebih dari 120 ton. Total kita pada saat bagus sekitar 173.000 ton per tahun sekabupaten Demak. Tapi ketika cuaca tidak mendukung kaitannya dengan kemarau basah, seperti saat ini sehingga ada penurunan produksi,” katanya di Kantor DKP Demak, Kamis (13/7/2023).
Meskipun mengalami penurunan produksi, harga garam di Demak justru mengalami peningkatan. Sulchan menambahkan, situasi ini justru menjadi berkah tersendiri bagi petani garam.
“Pada saat 2021 itu harga garam sampai menyentuh Rp180 per kilogram, tetapi tahun 2022-2023 sampai Rp5 ribu dari petambak,” imbuhnya.
Sulchan menerangkan, dalam mengatasi cuaca tidak menentu pihaknya meminta para petani garam, agar memanfaatkan gudang garam. Langkah ini ditujukan, sebagai upaya untuk menjaga kualitas garam di Demak.
“Ketika panen saat harga naik bisa disimpan dan saat harga naik baru dikeluarkan. Jadi tidak langsung diambil dijual,” terangnya.
Baca Juga: KPU Demak Catat 4.354 Pemilih Disabilitas pada Pemilu 2024
Gudang garam berkapasitas 6.000 ton ini tersedia dua bangunan di Demak. Para petani dapat memanfaatkan fasilitas tersebut dengan mendaftar menjadi anggota koperasi garam.
“Gudang rakyat ini yang mengelola koperasi garam. Ketika para petani garam bergabung dengan koperasi mereka bisa memanfaatkan,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

