BETANEWS.ID, DEMAK – Sejumlah nelayan Morodemak, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak mengeluhkan sulitnya administrasi pembelian solar bersubsidi. Hal itu membuat mereka susah untuk melaut.
Salah seorang nelayan Morodemak, Kasmadi (43) mengaku kesulitan mengurus administrasi pembelian solar bersubsidi. Dia pun tak sendirian, setidaknya ada 34 nelayan gaban lain yang merasakan hal yang sama.
Baca Juga: Pemkab dan DPRD Demak Setujui Raperda Perizinan Usaha untuk Permudah Investor
“Aku nelayan dari kecil, baru sekarang beli solar dipersulit, surat yo diangel-angel beli solar harus pakai rekomendasi,” katanya, Rabu (12/7/2023).
Memiliki kapal dengan kapasitas 20 GT, setiap harinya Kasmadi membutuhkan 200 liter solar. Untuk memenuhi kebutuhannya, ia hanya bisa mengandalkan bantuan dari nelayan yang bisa membeli solar bersubsidi.
“Bahkan saya sudah daftar sudah bayar suratnya belum jadi. Beli solar saja minta-minta orang-orang yang sudah punya surat,” imbuhnya.
Dihubungi secara terpisah, Kabid Perikanan Tangkap dan Kelautan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Demak, Sulchan membantah mengenai administrasi pembelian solar bersubsidi yang sulit. Baginya, pemberian surat rekomendasi sudah dilakukan secara tepat sasaran.
“Karena ini subsidi kan harus tepat sasaran biar tidak disalahgunakan, kami meminta tanda tangan surat kuasa yang ditandatangani pemberi kuasa dan penerima kuasa. Ini yang kadang-kadang nyusun sewu banyak dimaksudkan. Sehingga kami cek dan kami kembalikan,” terangnya.
Menurut Sulchan, aturan penggunaan solar bersubsidi diperuntukkan untuk kapal yang memiliki kapasitas di bawah 30 GT. Sedangkan per GT kapal, diberikan 16 liter solar setiap harinya.
“Kapal di bawah 30 Gt itu boleh membeli bahan solar subsidi itu pun kami mensyaratkan dokumen harus tertib. Kuota ini kami sesuaikan dengan besar kecilnya kapal,” jelasnya.
Baca Juga: Perempuan Pesisir Demak Dapat Edukasi Penggunaan Pembalut Kain
Ia berharap masyarakat bisa tertib dalam menggunakan solar bersubsidi. Karena kebutuhan solar di Demak merupakan terbesar di Jawa Tengah, sehingga tidak memungkinkan sulitnya mendapatkan solar.
“Kuota BBM di Demak di atas rata-rata tertinggi di Jawa Tengah. Harusnya tidak ada nelayan yang kesulitan apabila normal itu tadi. Kalau tidak salah 21 ribu kilo liter per tahun. Sedangkan kemarin 2022 hanya dikonsumsi 18 kilo liter,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

